Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    DUA ORANG YG BAIK TAPI MENGAPA PERNIKAHAN TIDAK BAHAGIA

    Share

    siongirl
    Admiral

    1846
    18.01.09

    DUA ORANG YG BAIK TAPI MENGAPA PERNIKAHAN TIDAK BAHAGIA

    Post  siongirl on Sat Feb 20, 2010 8:00 pm

    Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya
    dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini
    hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak
    baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

    Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena
    anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu
    baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

    Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap
    panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikikt pun.

    Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci
    demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat
    tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki
    telanjang.

    Ibu saya adalah seorang w anita yang sangat rajin.

    Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.

    Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu
    menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

    Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.

    Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan,
    setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih
    mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak- anak,
    ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak
    untuk berpretasi dalam pelajaran.

    Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

    Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha
    besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

    Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik,
    dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis
    terisak secara diam diam di sudut halaman.

    Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan
    kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

    Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan
    dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya
    mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

    Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan
    perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam
    kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang
    baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

    Pengorbanan yang dianggap benar.

    Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara
    perlahan -lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

    Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga
    keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan
    sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

    Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya
    juga tidak bahagia.

    Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu,
    dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh
    hati.

    Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. .

    Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami
    saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

    Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada
    separoh lantai lagi yang belum di pel ?

    Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang
    sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu
    juga kerap berkata begitu sama ayah.

    Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus
    mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.

    Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

    Yang kamu inginkan ?

    Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan
    teringat akan ayah saya...
    Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam
    perkawinannya,

    Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.

    Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam
    mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih,
    namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai
    ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah
    tangga.

    Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku.

    cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah
    melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak
    diiringi dengan perkawinan yang bahagia.

    Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

    Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami,
    menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel
    di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

    Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

    Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit
    tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu
    kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

    Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada
    yang mencuci pakianmu.... dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal
    yang dibutuhkannya.

    Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan adalah
    kau bisa lebih sering menemaniku.

    Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar- benar
    membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing,
    dan baru saya sadari
    ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami
    memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara
    pihak kedua.

    Jalan kebahagiaan

    Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan
    meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga
    menderetkan sebuah daftar
    kebutuhanku.

    Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu
    senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau
    sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

    Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit,
    misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar.

    Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan
    merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.

    Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

    Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada
    saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai
    tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

    Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun,
    jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami
    ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

    Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan,
    misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang
    perjalanan keluar kota .

    Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami,
    setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa
    menghibur gejolak hati masing-masing. Sebenarnya, kami saling mengenal
    dan mencintai juga dikarenakan kesukaan
    kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah
    perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang
    saling mencintai bertahun-tahun silam.

    Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah
    menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya
    akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

    Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka
    terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua,
    bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

    Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat
    merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini
    juga sudah kecewa dan hancur.

    Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang
    pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan
    cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak
    kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik,
    pasti dapat diharapkan.

    siongirl
    Admiral

    1846
    18.01.09

    Komunikasi Suami Istri

    Post  siongirl on Mon Mar 08, 2010 9:53 pm

    etika kita suami istri mulai belajar berkomunikasi dengan baik, maka rumah tangga pasti akan mengalami perubahan dan pemulihan. Untuk itu kita perlu jujur pada diri sendiri bagian mana yang perlu kita ubah.

    Prinsip komunikasi yg sehat :
    1. Jadilah pendengar yang baik
    2. Berpikir sebelum berbicara
    3. Berbicara dengan kasih
    4. Jangan menghukum pasangan dengan puasa bicara
    5. Jauhi berdebat
    6. Kendalikan amarah waktu berbicara
    7. Mintalah maaf bila bersalah
    8. Jangan merengek
    9. Berhentilah mengkritik, membangunlah
    10. Hargailah pendapat orang lain

    Hal yg perlu diperhatikan saat berbicara :
    1. Volume - jangan terlalu keras
    2. Pitch - Nada suara jangan tinggi/membentak
    3. Moment - cari waktu yang tepat untuk membicarakan masalah.

    Sembilan puluh persen gesekan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari disebabkan oleh nada bicara yang kurang baik.

    ketika kemarahan memuncak, pikirkanlah akibat-akibatnya. ...

    (Repost by Merry Cristiana)

    setyawan2008

    117
    Lokasi : BSD ( Bekasi Sonoan Dikit )
    14.04.09

    Re: DUA ORANG YG BAIK TAPI MENGAPA PERNIKAHAN TIDAK BAHAGIA

    Post  setyawan2008 on Sun Mar 14, 2010 1:09 pm

    ahh.. kamu masih seperti yang dulu ..INDAH PADA WAKTUNYA

    siongirl
    Admiral

    1846
    18.01.09

    Re: DUA ORANG YG BAIK TAPI MENGAPA PERNIKAHAN TIDAK BAHAGIA

    Post  siongirl on Sun Mar 14, 2010 10:45 pm

    Question Question

    Sponsored content

    Re: DUA ORANG YG BAIK TAPI MENGAPA PERNIKAHAN TIDAK BAHAGIA

    Post  Sponsored content Today at 7:15 pm


      Waktu sekarang Mon Sep 26, 2016 7:15 pm