Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Bill Gates – For A Better and Healthier World

    Share

    y3hoo

    486
    16.01.09

    Bill Gates – For A Better and Healthier World

    Post  y3hoo on Sun Mar 28, 2010 10:42 am


    Bill Gates, salah satu pendiri serta penemu perusahaan software terbesar di dunia, yaitu Microsoft, telah mengundurkan diri dari jajaran kepemimpinannya di perusahaan tersebut sebagai Chief Software Architect, dan sekarang lebih serius menekuni bidang lain yang tak ada kaitannya sama sekali dengan komputerisasi. Bidang tersebut adalah Filantropi. Filantropi adalah sebuah bidang yang bergerak di dalam konteks tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain. Istilah ini umumnya diberikan pada orang-orang yang memberikan banyak dana untuk amal. Seorang ini biasanya seorang kaya raya yang sering menyumbang kaum miskin.

    Bill Gates bergerak di bidang filantropi ini beserta istri tercintanya, Melinda Gates dengan sokongan lembaga miliknya yaitu BILL & MELINDA GATES FOUNDATION, yang diketahui memiliki dana abadi terbesar di dunia, mencapai US$ 38,7 Miliar atau setara dengan Rp 360 Triliun. Orang terkaya nomor 2 di dunia ini, dibawah sahabatnya sendiri, yaitu Warren Buffet amat dinantikan oleh dunia berupa sumbangan-sumbangan sosialnya, meski ia sering mendapat cibiran atas aksi perusahaannya dalam memonopoli beberapa pangsa pasar software komputer akhir-akhir ini. Salah satu orang terkaya itu sempat hadir di Jakarta dalam acara Government Leader, tanggal 8-9 Mei 2008 yang lampau atas undangan pribadi presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam forum itu Bill Gates mengapresiasi keberhasilan Indonesia yang berhasil menurunkan angka pembajakan software dari 87% tahun 2003 menjadi 82% pada tahun 2008. Di forum tersebut, Gates tidak hanya membahas perkembangan teknologi informasi, tetapi juga membahas peran teknologi dalam membantu peningkatan sektor pendidikan, kesehatan, serta tentu saja ekonomi. Yang menjadi fokus Bill Gates serta istrinya adalah sektor pendidikan serta kesehatan.

    “Saya sangat berharap bisa ikut melenyapkan sepuluh penyakit besar, seperti malaria, TBC, pneumonia, AIDS, serta aneka penyakit infeksi lainnya, yang sebetulnya bisa dicegah.” kata Bill Gates dalam wawancara dengan US News tahun 2005.

    SEMUA BERHAK ATAS HIDUP YANG LEBIH LAYAK

    Majalah bisni terkemuka dunia, Forbes, mengukuhkan Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia pada tahun 1995. Gelar terhormat itu terus berlanjut hingga 11 Februari 2008 lalu, ketika akhirnya Bill Gates tersingkir dari tahtanya oleh seorang investment guru sekaligus sahabatnya, yaitu Warren Buffet. Bill Gates sendiri pun pernah berkata, “Saya tak pernah berharap menjadi orang terkaya.”, pada sebuah wawancara di tahun 2006 silam. Ia menambahkan bahwa julukan itu menciptakan rasa tidak nyaman, sebab saya menjadi pusat perhatian (center of attention). Sebetulnya pada tahun 1994, Bill Gates telah berpikir untuk mendirikan sebuah badan sosial. Ia pun mempelajari pelbagai lembaga filantropi yang diprakarsai oleh para miliuner masa lalu seperti Andrew Carnegie dan John D. Rockefeller. Dengan menggunakan dana awal sebesar US$ 106 Juta hasil dari penjualan saham Microsoft, William Henry Gates Foundation pun berdiri. Lalu disusul oleh dua yayasan lain yang juga disantuni oleh keluarganya. Melinda, sang istri, melihat bahwa cepat atau lambat keterlibatan Bill dalam perusahaan harus dikurangi sedikit demi sedikit. Perusahaan harus diserahkan sepenuhnya kepada para profesional lainnya, dan Bill harus sepenuhnya terjun ke kancah sosial. Hal tersebut didorong pula oleh prinsip bahwa setiap kehidupan itu sangatlah berharga, dan setiap makhluk hidup berhak atas kehidupan tersebut. Sangat disayangkan apabila tujuan dari mencapai hidup yang berkualitas tersebut terkendala oleh hambatan-hambatan seperti penyakit, kemiskinan, atau ketidakmampuan pendidikan.

    “Sebagai orang yang memiliki kesempatan nyata untuk berkontribusi dalam hal tersebut, kami terpanggil untuk membantu sesama manusia yang hidupnya kurang beruntung dibandingkan dengan kami. Setiap manusia, dimanapun mereka dilahirkan, mempunyai kesempatan yang sama untuk hidup sehat serta produktif demi kelangsungan masa depannya.” kata Melinda Gates pada suatu kesempatan wawancara. Atas desakan Melinda, akhirnya Bill mundur sebagai Kepala Perancang Software atau Chief Software Architect, meski masih menjabat sebagai Chairman hingga saat ini di Microsoft, dan membagi perhatiannya bagi kegiatan sosial. Tahun 2000, yayasan milik keluarga akhirnya dilebur kedalam Bill & Melinda Gates Foundation. Tujuan utama lembaga ini adalah untuk mengurangi kemiskinan, memperbaiki kesehatan, serta mempermudah akses pendidikan. Uang hasil sumbangan dan pembagian saham diputar secara terorganisir dan cerdas, dan keuntungannya dibagikan entah sebagai bantuan, tunjangan, ataupun beasiswa. Jika pengelolaan uang tersebut benar, transparan, serta akuntabel, uang tersebut tak akan ada habisnya. Boleh jadi dana abadi tersebut akan terus bertambah, meski frekuensi dan jumlah pemberian bantuan berkurang. Sumbangan-sumbangan pun terus menggelontor dari yayasan ini, contohnya saja, University of Cambridge menerima sumbangan sebesar US$ 270 Juta pada tahun 2000, sebagai bagian kerjasama “Gates Cambridge Scholarships”. Kemudian United Negro College Fund dalam program pengurangan angka putus sekolah Gates Millenium Scholars Program, yang komitmennya akan mencapai US$ 1 Miliar alias Rp 9,3 Triliun. Belum lagi ada komitmen antara Gates Foundation dengan United Way of King Country sebesar US$ 55 Juta, dukungan bagi perbaikan kurikulum di Chicago Public Schools senilai US$ 21 Juta, National Council of Culture and Arts sebesar US$ 11,7 Juta, serta bantuan untuk sistem kepustakaan pada Public Access Computing Hardware Program senilai US$ 5,1 Juta, dan masih banyak lagi.

    Di luar negeri pun yayasan ini ikut memberikan bantuannya. Terutama di kawasan Asia Tengah serta Afrika yang notabene sebagian besar kawasannya masih dihuni negara-negara berkategori negara berkembang (developing countries). Sumbangan untuk Global Fund, lembaga swadaya yang memerangi masalah wabah AIDS, malaria, dan TBC, misalnya, mendapat kucuran dana bantuan sebesar US$ 500 Juta pada Agustus 2006. Untuk Global Vacancies for Vaccines and Immunization (GAVI) sampai akhir 2007 tercatat mempunyai komitmen sumbangan sebesar US$ 1,5 Miliar. Gerakan vaksinasi malaria sendiri pada tahun 2007 disumbangkan sebesar US$ 258 Juta, dan LSM Saving the Children mendapatkan US$ 110 Juta. Lembaga sosial keluarga Gates ini mempekerjakan sekitar 520 staf yang tersebar di Seattle (kantor pusat), Washington D.C. (kantor wilayah timur), dan perwakilan di New Delhi, India, yang didirikan sebagai wujud komitmen Avahan Initiative. Sumbangan serta komitmen untuk terus memberikan santunan terus naik jumlahnya karena dana yang dihimpun juga terus bertambah. Dengan pengelolaan yang benar, pengurus yayasan dengan mudah menentukan angka yang dijadikan komitmen bersama dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai angka tersebut. Dalam laporan keuangan terbaru Bill & Melinda Gates Foundation, lembaga ini memiliki dana abadi sebesar US$ 38,7 Miliar (Rp 360 Triliun). Kalau sebelumnya dana tahunan yang dikucurkan sebesar US$ 600 Juta hingga US$ 1,5 Miliar, pada tahun 2007 dana yang dikucurkan membengkak hingga mencapai US$ 2,007 Miliar (Rp 18 Triliun). Kesemua dana itu pun merupakan bagian dari komitmen jangka panjang yang mencapai US$ 16,3 Miliar (Rp 150 Triliun).

    Dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya, lembaga ini selalu menggandeng mitra kerja yang terpercaya. Untuk program di Mozambique, misalnya, mereka menggandeng VillageReach, LSM yang punya jaringan ke tempat-tempat terpencil di pedalaman Afrika. “Di hampir setiap kegiatan, kami pasti selalu mengajak mitra yang kapabel karena kami tentu saja tidak punya kemampuan menembus seluruh wilayah yang akan kami bantu dan kini jumlahnya telah mencapai lebih dari seratus negara di seluruh dunia,” tambah Patty Stonesifer.

    DOESN’T WANT TO DEPEND FROM THEIR WEALTHY

    Pasangan Bill dan Melinda memang bagai sejoli yang punya segalanya untuk membantu dunia. Sekalipun begitu, keduanya tetap berpikir sederhana, menganggap bahwa uang yang mereka berikan tak akan ada artinya tanpa bantuan banyak pihak disekelilingnya yang senantiasa ikut membantu mereka membuat dunia menjadi lebih baik untuk masa depan yang cerah. Dalam penjelasan Susan Schwab, Presiden dan CEO The University System of Maryland Foundation, “Meski dana yang tersedia begitu raksasa, mereka sadar sepenuhnya bahwa mereka tidaklah bisa mengatasi sendiri masalah-masalah yang ada di dunia. Pasangan kompak ini bertemu di tempat kerja. Bill Gates sebagai pendiri Microsoft bersama temannya semasa SMA dan di Harvard University, yaitu Paul Allen. Sedangkan Melinda sebagai pegawai biasa yang kemudian mencapai taraf jabatan General Manager of Information Products. Mereka dipertemukan pada sebuah acara Microsoft di Manhattan, New York City, pada tahun 1987. Pada suatu Minggu malam di tahun 1993, sepulang dari acara perusahaan di Palm Springs, Bill tiba-tiba meminta pilot pesawat pribadi Microsoft untuk membelokkan arah dan mendarat di kota Omaha, Nebraska. Di kota itulah mereka bertemu teman baiknya, multijutawan Warren Buffet, yang lantas mengantar keduanya ke toko perhiasan. Bill Gates, kelahiran Seattle, Washington D.C, 28 Oktober 1955, yang keluar dari Fakultas Hukum, Universitas Harvard, setelah dua tahun mengeyam pendidikan disana, akhirnya melamar Melinda Ann French, gadis kelahiran Dallas, Texas, 15 Agustus 1964, yang bergelar Master Of Business Administration (MBA) dari Fuqua School of Business, Duke University.

    THE BIOGRAPHY OF BILL GATES

    Bill berasal dari keluarga kaya berlatar belakang Kristen Kongregrasionis. Ayahnya, William H. Gates, Jr. adalah mantan pengacara terkenal, dan Ibunya, Mary Maxwell Gates, pernah duduk sebagai Dewan Direktur First Interstate Bank dan United Way. Kakek Bill dari pihak Ibu, J.W. Maxwell, pernah menjabat sebagai presiden pada Bank Nasional AS. Bill sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya Kristianne, dan adik perempuannya bernama Libby. Keluarga Melinda berasal dari keluarga Katolik. Mandiri sejak remaja, kuliah ekonomi dan komputer di Duke University of Durham, North Carolina, sebelum mendapatkan gelar MBA pada 1987. Setelah lulus sekolah bisnis, ia pun bekerja di Microsoft. Pasangan Bill dan Melinda menikah di Lanai, sebuah pulau kecil dengan panjang 30 km serta garis pantai sepanjang 60 km, di Kepulauan Hawaii, pada 1 Januari 1994. Upacara yang berbiaya US$ 1 Juta, sepanjang 15 menit itu, diselenggarakna di tee ke-12 lapangan golf Hotel Manele Bay. Bill mengenakan pantalon hitam dan jas dinner warna putih, Melinda mengenakan gaun seharga US$ 10.000 rancangan perancang Seattle, Victoria Glenn. Jumlah undangan pun terbatas, hanya 130 orang, termasuk Warren Buffet, Paul Allen, Craig McCaw, dan Katherine Graham. Penyanyi country legendaris, Willie Nelson pun ikut dihadirkan untuk memberikan hiburan pada pesta pernikahannya. Untuk menjamin privacy, Bill menyewa seluruh kamar di setiap hotel di pulau itu, dan mencarter semua helikopter dari semua tempat persewaan terdekat. Mereka pun berbulan madu di Wakaya Club, Fiji. Dari perkawinan tersebut, lahirlah Jennifer Katherine Gates, Rory John Gates, serta Phoebe Adele Gates. Keluarga itu menempati sebuah rumah di kawasan Medina, tepi danau Washington. Rumah tersebut berukuran 4.600 m2, diatas tanah berukuran 2,1 hektar. Menurut catatan pemerintah daerah King County, rumah yang seluruh infrastrukturnya dikendalikan oleh perangkat komputer berbasis Linux itu berharga sekitar US$ 137.758.169 atau sekitar Rp 1,1 Triliun, sedangkan bernilai pajak sekitar US$ 1.012.321 (Rp 9 Miliar). Tentang keadaan anak-anaknya, Melinda pernah mengatakan bahwa, “Kami didik mereka bukan sebagai anak-anak yang kebetulan menyandang nama Gates, tapi mereka kami didik, apalagi dalam situasi seperti sekarang, seperti seorang individu. Mereka punya lingkungan, teman-teman yang normal, seperti halnya anak-anak lainnya. Kami tidak pernah memanjakan mereka.”

    Bukan pula berarti pelit jika keduanya kelak merencanakan warisan kepada anak-anaknya hanya sebesar US$ 10 Juta saja. Di sisi lain, pasangan yang dijuluki “Persons of the Year” oleh Majalah Time pada tahun 2005 bersama Bono U2, sepertinya amata mudah mengucurkan uang untuk membantu orang lain. Mereka memiliki cara pandang yang sangat efisien dan tidak akan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang bersifat hedonisme. Daripada sekadar melipatgandakan uang-uang mereka, keduanya menggunakan uang tersebut untuk menyelamatkan kehidupan mereka. Mereka mencari pengobatan yang murah tapi efektif untuk menyelamatkan hidup orang banyak di benua Afrika. Mereka beranggapan bahwa apabila semakin efisien dan murah suatu pengobatan, semakin luas daerah yang dapat dibantu oleh program sosial Bill dan Melinda.

    THE BEST FRIENDS, WARREN BUFFET

    Kendati dipisahkan oleh jarak usia yang terlampau cukup jauh, yaitu sekitar 25 tahun, Bill Gates dan Warren Buffet, kelahiran Omaha, Nebraska, 30 Agustus 1930, sangat bersahabat. Keduanya, bersama mitra pendiri Microsoft, yaitu Paul Allen sering bermain bridge bersama. Ketika Gates mengumumkan penarikan dirinya dari keseharian di Microsoft, Buffet lagsung mengambil tindakan susulan terkait dengan keputusan sahabatnya tersebut. Tindakan yang diambil Buffet adalah dengan menghibahkan sebagian besar kekayaannya (80%) untuk disumbangkan ke yayasan milik keluarga Gates, yaitu Bill & Melinda Gates Foundation tersebut. Padahal ia sendiri telah mempunyai yayasan sosial sendiri yang bernama Susan Thompson Buffet Foundation, yang dimabil dari nama almarhum istrinya yang meninggal pada Juli 2004. Sepeninggal istri pertamanya, pada 2006, ayah tiga anak ini kembali dengan Astrid Menks. Ia mengatakan bahwa ia telah menunggu kesempatan ini selama 50 tahun, ia juga berkata bahwa ia bukanlah orang yang rakus mengumpulkan kekayaan bagi keturunannya nanti, terutama setelah menyadari bahwa sebagian dari 6 miliar penduduk bumi masih berkutat di bawah garis kemiskinan yang seharusnya bisa memperoleh sesuatu dari kekayaan kita. Sang mahapialang, yang oleh majalah Forbes pada yanggal 11 Februari 2008 dikukuhkan sebagai manusia terkaya di dunia dengan kekayaan yang mencapai US$ 62 Miliar, tetaplah seorang pria biasa. Ia menyebut dirinya tetap laki-laki standar yang tetap makan burger dan minum col, suka memainkan ukulele, dan bermain bridge bersama kawan-kawannya. Ternyata diketahui pula, bahwa sebagian besar dari dana abadi Bill & Melinda Gates Foundation yang berjumlah US$ 38,7 Miliar, sebanyak US$ 37 Miliar merupakan sumbangan dari Warren Buffet. Buffet percaya bahwa yayasan Gates dapat memanfaatkan uang tersebut dengan baik demi kehidupan manusia yang lebih baik di masa depan.

      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 7:11 pm