Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Menerima Karunia apa adanya

    Share

    MovingBlue

    637
    Age : 36
    18.01.09

    Menerima Karunia apa adanya

    Post  MovingBlue on Tue Apr 13, 2010 9:07 am

    Seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan bertanya kepada dokter,
    " Bisa saya melihat bayi saya ?"

    Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang
    membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya.
    Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela
    rumah sakit.
    Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga !

    Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi
    seorang anak itu bekerja dengan sempurna.
    Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
    Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya
    di pelukan sang ibu yang menangis.
    Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi.

    Anak lelaki itu terisak-isak berkata,
    " Ma, seorang anak laki-laki besar mengejek saya.
    Katanya, saya ini makhluk aneh."

    Anak lelaki itu tumbuh dewasa.
    Ia cukup tampan
    dengan cacatnya.
    Ia pun disukai teman-teman sekolahnya.
    Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis.
    Ia ingin sekali menjadi ketua kelas.

    Ibunya mengingatkan,
    " Bukankah nantinya kamu akan bergaul dengan remaja-remaja lain ?"

    Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
    Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa
    mencangkokkan telinga untuknya.

    Dokter itu berkata,
    " Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya.
    Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya."

    Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan
    telinga dan mendonorkannya pada mereka.
    Beberapa bulan sudah berlalu.
    Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya.

    Sang ayah berkata,
    " Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan
    telinganya padamu.
    Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit
    untuk dilakukan operasi.
    Namun, semua ini sangatlah rahasia."

    Operasi berjalan dengan sukses.
    Seorang lelaki baru pun lahirlah.
    Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan.

    Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
    Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.

    Ia menemui ayahnya,
    " Pa, saya harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua
    pada saya.
    Oranf itu telah berbuat sesuatu yang besar namun saya sama sekali belum
    membalas kebaikannya. "

    Ayahnya menjawab,
    " Papa yakin kamu takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah
    memberikan telinga itu."

    Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
    " Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagi kamu untuk mengetahui semua
    rahasia ini."

    Tahun berganti tahun.
    Kedua orangtua itu tetap menyimpan rahasia.
    Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi
    keluarga itu.

    Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya
    yang baru saja meninggal.
    Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang
    terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak
    memiliki telinga.

    Sang ayah berbisik,
    " Mama kamu pernah berkata bahwa Mama senang sekali bisa memanjangkan
    rambutnya.
    Dan tak seorang pun menyadari bahwa Mama telah kehilangan sedikit
    kecantikannya bukan ?"

    Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam
    batin.
    Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun
    pada apa yang tidak dapat terlihat.
    Cinta yang sejati tidak terletak pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan
    dan diketahui, namun pada perbuatan kasih yang telah dikerjakan namun tidak
    diketahui.


    _________________

    siongirl
    Admiral

    1846
    18.01.09

    Re: Menerima Karunia apa adanya

    Post  siongirl on Tue Apr 13, 2010 10:06 pm

    finger1 finger1 yups 0467 76399

      Waktu sekarang Fri Sep 30, 2016 11:58 am