Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Ketika Buah hati Tak Sempurna

    Share

    MovingBlue

    637
    Age : 36
    18.01.09

    Ketika Buah hati Tak Sempurna

    Post  MovingBlue on Thu Apr 29, 2010 2:44 pm

    Setiap orangtua tentu berharap memiliki buah hati yang "sempurna". Namun, kenyataan tidak selalu memenuhi semua harapan. Ketika si kecil dinyatakan menderita kelainan, seperti cacat, down syndrome atau autisme, tentu ada perasaan sedih dan marah.

    Perasaan marah, tidak bisa menerima, bahkan rasa malu mengakui hal itu terjadi di keluarga adalah reaksi yang wajar. Menurut Gobin Vashdew, parenting motivator, reaksi-reaksi tersebut timbul karena kita tidak siap menerima kenyataan yang ada.

    "Perasaan down terjadi karena mereka tidak siap. Hal ini bisa menimbulkan stres dan pada kondisi ini tidak mudah untuk melepaskan diri dari stres," papar penulis buku Happiness Inside ini.

    Lebih lanjut, orangtua sering kali merasa tertekan, putus asa, dan kehilangan harapan, terutama saat orangtua membayangkan masa depan sang anak. Kadangkala, perasaan stres ini dapat juga menimbulkan rasa bersalah, terutama di pihak ibu.

    Pada tahap depresi ini, orangtua cenderung murung, menarik diri dari lingkungan sosial terdekat, dan kehilangan gairah hidup. "Kebanyakan orang kalau mempunyai emosi tertentu akan dilontarkan atau dipendam sendiri. Padahal, yang benar adalah dilepaskan," ujar Gobin.

    Proses melepaskan diri dari stres atau stres relief memang tak semudah membalikkan telapak tangan. "Kita bisa melakukannya dengan mencoba mengambil hikmah dari setiap kejadian. Setiap orang dilahirkan dengan perannya masing-masing. Mungkin dengan kejadian ini saya diberikan peran sebagai perawat untuk anak saya," katanya.

    Setiap kejadian di dunia ini bersifat netral. Apakah ingin menjadi negatif atau positif, sangat bergantung pada cara kita melihat dan memberikan makna. "Alangkah baiknya kalau kita selalu melihat dari sisi lain," katanya.

    Sebuah kejadian bisa menjadi pintu untuk suatu hal yang luar biasa. Misalnya saja Oprah Winfrey yang mampu bangkit dari trauma pelecehan seksual yang dialaminya. Contoh lain adalah Gayatri Pamoedji, ibu dari remaja penyandang autis yang saat ini dikenal sebagai konselor keluarga dan pembicara di berbagai seminar mengenai anak autis.

    Semakin cepat kita berhenti meratapi nasib dan mampu menemukan makna, semakin cepat pula anak mendapat perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan untuk memaksimalkan tumbuh kembangnya.

    "Sedih tidak boleh lama-lama. Ingatlah, anak kita memerlukan tindakan segera. Makin dini anak mendapat terapi dan pendidikan, makin baik tumbuh kembangnya sehingga kelak akan menjadi mandiri tak kalah seperti anak yang normal," tutur Gayatri dalam sebuah kesempatan.


    _________________

      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 11:02 pm