Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Cinta bersemi setelah 15 tahun terpisah

    Share

    bintanglaut

    30
    01.01.10

    Cinta bersemi setelah 15 tahun terpisah

    Post  bintanglaut on Sat May 01, 2010 7:26 pm

    Pada suatu hari yang gelap di musim gugur 1942, udara
    dingin, sangat dingin. Hari itu tak ada bedanya dengan
    hari-hari lain di kamp konsentrasi Nazi. Aku berdiri menggigil
    dalam pakaian compang-camping yang tipis, masih
    tak percaya bahwa mimpi buruk ini benar-benar terjadi.

    ku hanya seorang anak laki-laki. Seharusnya aku bermain-main
    bersama kawan-kawanku; seharusnya aku pergi ke
    sekolah; seharusnya aku bersemangat menyongsong masa
    depanku, ketika aku akan menjadi dewasa, menikah, dan
    membangun keluargaku sendiri. Tetapi, semua impian itu
    hanya pantas untuk mereka yang masih hidup, dan aku
    bukan lagi salah satu dari mereka. Aku nyaris mati, mencoba
    bertahan hidup dari hari ke hari, dari jam ke jam,
    sejak aku diseret dari rumahku dan dibawa ke sini bersama
    puluhan ribu orang Yahudi lainnya.

    Apakah besok aku masih hidup?
    Apakah malam ini aku akan dibawa ke kamar gas?
    Aku berjalan mondar-mandir di dekat pagar kawat berduri,
    mencoba menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
    Aku lapar, tetapi sudah sejak lama aku kelaparan, lebih
    lama dari yang ingin kuingat-ingat. Aku selalu kelaparan.
    Makanan yang layak sepertinya hanya ada dalam mimpi.
    Setiap hari semakin banyak di antara kami menghilang
    begitu saja, masa lalu yang bahagia tampak semakin samar.
    Aku kian tenggelam dalam keputusasaan.

    Tiba-tiba, aku melihat seorang anak perempuan berjalan
    di balik pagar kawat berduri. Anak itu berhenti dan memandangku
    dengan mata sedih, mata yang seakan berkata
    bahwa dia mengerti, bahwa dia juga tidak bisa menemukan
    jawab mengapa aku ada di sini. Aku ingin membuang
    pandang, aku malu dan canggung karena anak perempuan
    asing itu melihatku dalam keadaan seperti ini. Tetapi, aku
    tak kuasa mengalihkan mataku dari matanya.
    Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan
    sebutir apel merah. Apel yang cantik, merah kemilau.

    Sudah berapa lamakah sejak terakhir kalinya aku melihat apel
    seranum itu?! Dengan waspada dia menoleh ke kanan dan
    ke kiri, lalu sambil tersenyum penuh kemenangan cepatcepat
    melemparkan apel itu melewati atas pagar. Aku lari
    memungutnya, memeganginya dengan jari-jariku yang gemetar
    dan membeku. Dalam duniaku yang penuh kematian,
    apel itu menjadi lambang kehidupan, lambang cinta. Aku
    mengangkat wajahku dan melihatnya menghilang di kejauhan.
    Esok harinya, aku tak dapat menahan diri—pada waktu
    yang sama aku berdiri di tempat yang sama, di dekat
    pagar. Apakah aku gila mengharapkan dia datang lagi? Tentu
    saja. Tetapi, di dalam hati aku bergantung pada seiris harapan
    tipis. Dia telah memberiku harapan, aku harus bergantung
    erat pada harapan itu.

    Sekali lagi, dia datang. Sekali lagi, dia membawakan sebutir
    apel untukku, melemparkannya lewat atas pagar
    sambil tersenyum manis seperti kemarin.
    Kali ini apel itu kutangkap, lalu kupegang tinggi-tinggi
    agar dia melihatnya. Matanya berbinar. Apakah dia mengasihaniku?
    Mungkin. Aku tidak peduli. Aku cukup senang
    bisa memandangnya. Dan untuk pertama kalinya sejak sekian
    lama, aku merasa hatiku bergetar karena luapan perasaanku.
    Tujuh bulan lamanya kami bertemu seperti itu. Kadangkadang
    kami bertukar kata. Kadang-kadang, hanya sebutir
    apel. Tetapi, bukan hanya perutku yang diberinya makanan.
    Dia bagaikan malaikat dari surga. Dia memberi makanan
    untuk jiwaku. Dan entah bagaimana, aku tahu aku juga
    memberinya makanan.

    Suatu hari, aku mendengar kabar mengerikan: kami
    akan dipindahkan ke kamp lain. Itu bisa berarti kiamat
    bagiku. Yang jelas, itu merupakan akhir pertemuanku dengan
    kawanku itu.

    Esok harinya ketika aku menyapanya, dengan hati
    hancur kukatakan apa yang nyaris tak kuasa kusampaikan,
    “Besok jangan bawakan aku apel,” kataku kepadanya.
    “Aku akan dipindahkan ke kamp lain. Kita takkan pernah
    bertemu lagi.” Sebelum kehilangan kendali atas diriku, aku
    berbalik dan berlari menjauhi pagar. Aku tak sanggup
    menoleh ke belakang. Kalau aku menoleh, aku tahu dia
    akan melihatku berdiri canggung sementara air mata
    mengalir membasahi wajahku.

    Bulan demi bulan berlalu. Mimpi buruk itu terus
    berlanjut. Tetapi kenangan akan anak perempuan itu mem-
    bantuku mengatasi saat-saat mengerikan, rasa sakit, dan
    rasa putus asa. Berkali-kali aku melihatnya dengan mata
    pikiranku; aku melihat wajahnya dan matanya yang lembut.
    Aku mendengar kata-katanya yang lembut dan
    mencecap manisnya apel-apel itu.

    Sampai pada suatu hari, mimpi buruk itu tiba-tiba
    berakhir. Perang sudah selesai. Kami yang masih hidup
    dibebaskan. Aku telah kehilangan semua milikku yang
    berharga, termasuk keluargaku. Tetapi aku masih menyimpan
    kenangan akan anak perempuan itu, kenangan yang
    kusimpan dalam hati dan memberiku kemauan untuk
    meneruskan hidupku setelah aku pindah ke Amerika untuk
    memulai hidup baru.

    Tahun-tahun berlalu. Sampai tahun 1957. Saat itu aku
    tinggal di New York City. Seorang kawan memaksaku
    melakukan kencan buta dengan seorang wanita kawannya.
    Dengan enggan, aku menyetujuinya. Ternyata wanita
    itu manis, namanya Roma. Seperti aku, dia juga seorang
    imigran. Dengan begitu setidak-tidaknya kami punya persamaan.
    “Di mana kau selama masa perang?” Roma bertanya
    kepadaku, dengan cara halus seperti umumnya para imigran
    yang saling bertanya tentang tahun-tahun itu.
    “Aku ada di sebuah kamp konsentrasi di Jerman,” jawabku.
    Mata Roma tampak menerawang, seakan-akan dia ingat
    sesuatu yang manis namun membuatnya sedih.

    “Ada apa?” tanyaku.

    “Aku ingat masa laluku, Herman,” Roma menjelaskan
    dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat lembut. “Wak-
    tu masih kecil, aku tinggal dekat sebuah kamp konsentrasi.
    Di sana ada seorang anak laki-laki, seorang tahanan.
    Selama beberapa bulan aku selalu mengunjunginya setiap
    hari. Aku ingat, aku biasa membawakan apel untuknya.
    Aku selalu melemparkan apel itu lewat atas pagar. Anak
    itu senang sekali.”

    Roma mendesah panjang, lalu meneruskan, “Sulit menggambarkan
    bagaimana perasaan kami masing-masing—
    bagaimanapun waktu itu kami masih muda sekali. Bahkan
    jika situasi memungkinkan pun kami hanya bertukar beberapa
    kata—tetapi aku yakin, waktu itu di antara kami
    tumbuh cinta yang tulus. Aku yakin dia pasti dibunuh seperti
    yang lain-lain. Tetapi, aku tak sanggup membayangkan
    itu. Karenanya, aku berusaha mengenangkan dia seperti
    yang kulihat di bulan-bulan itu, ketika kami sedang bersama-
    sama.”

    Dengan jantung berdegup kencang hingga kupikir
    nyaris meledak, aku menatap Roma lekat-lekat dan bertanya,
    “Apakah pada suatu hari anak laki-laki itu berkata kepadamu,
    ‘Besok jangan bawakan aku apel. Aku akan dipindahkan
    ke kamp lain’?”

    “Wah, ya,” sahut Roma, suaranya bergetar.

    “Tapi, Herman, bagaimana mungkin kau bisa tahu itu?”

    Aku meraih tangannya dan menjawab, “Karena aku
    adalah anak laki-laki itu, Roma.”

    Detik-detik berlalu lambat. Yang ada hanya keheningan.
    Kami tak dapat mengalihkan mata kami. Lama kami saling
    memandang. Kemudian, setelah tirai waktu terangkat,
    kami mengenali jiwa di balik mata yang saling bertatapan,
    kami mengenali kawan yang manis dan pernah sangat
    kami cintai, yang selalu kami cintai, yang tak pernah
    hilang dari kenangan kami.

    Akhirnya, aku berkata, “Roma, aku pernah dipisahkan
    darimu. Sekarang aku tidak ingin dipisahkan lagi darimu.
    Sekarang aku bebas, aku ingin selalu bersamamu, selamanya.
    Sayangku, maukah kau menikah denganku?”

    Aku melihat binar-binar yang sama di mata yang dulu
    sering kupandangi itu ketika Roma menjawab, “Ya, aku
    mau menikah denganmu.” Lalu kami berpelukan, pelukan
    yang sudah kami dambakan selama berbulan-bulan, tetapi
    terhalang oleh, pagar kawat berduri yang memisahkan
    kami. Sekarang, tak ada lagi yang akan memisahkan kami.
    Hampir empat puluh tahun telah berlalu sejak aku
    menemukan Roma-ku lagi. Nasib mempertemukan kami
    untuk pertama kalinya di masa perang, untuk menunjukkan
    kepadaku adanya janji harapan. Sekarang, nasib pula yang
    mempersatukan kami untuk menunaikan janji itu.

    Hari Valentine tahun 1996. Kuajak Roma ke acara
    Oprah Winfrey Show untuk menghormatinya di siaran
    televisi nasional. Di depan jutaan pemirsa, aku ingin mengatakan
    kepadanya apa yang kurasakan dalam hatiku
    setiap hari:

    “Kekasihku, kau memberiku makanan di kamp konsentrasi
    ketika aku kelaparan. Aku akan tetap lapar dan
    dahaga akan sesuatu yang rasanya takkan pernah cukup
    kuperoleh: Aku lapar dan dahaga akan cintamu.”

    Herman dan Roma Rosenblat
    Seperti diceritakan kepada Barbara De Angelis, Ph.D.

      Waktu sekarang Tue Sep 27, 2016 3:45 pm