Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Biarkan Kebaya Memikat Dunia

    Share

    pravda

    260
    07.06.10

    Biarkan Kebaya Memikat Dunia

    Post  pravda on Mon Jun 14, 2010 12:56 pm



    Sentuhan Eropa menjadi salah satu cara untuk menginternasionalkan kebaya.

    Inovasi kebaya terus dilakukan demi mempertahankan pasar modern. Tanpa berniat merusak pakem kebaya tradisional, sejumlah perancang asyik berkreasi mengawinkannya dengan detail Barat.

    Kebaya tak lagi sekadar penutup kemben, seperti pada zaman dulu. Kini dia menjelma menjadi bagian tren busana. Desainnya pun tak melulu berlengan panjang dengan aksen lipatan di bagian krah, seperti yang dikenakan RA Kartini.

    Potongan kebaya modern juga tidak selalu pendek sebatas bokong. Di masa lalu, tidak ada potongan kebaya panjang karena masyarakat tidak ingin menutupi jarik atau kain batik yang dianggap sebagai busana utama. Lewat inovasi di masa kini, kebaya tumbuh menjadi busana utama.

    Maestro kebaya Anne Avantie bisa dikatakan sebagai perancang yang mengawali gebrakan di industri fesyen tanah air, dengan garis rancang kebaya modern. Ia bermain-main dengan desain kebaya asimetris. Ia tak sungkan memberi sentuhan Eropa demi sebuah karya dengan warna baru. Ia menyebutnya, produk tradisional dengan tampilan kosmopolitan.

    Di laman situsnya, Anne menyebut karyanya sebagai kebaya abad ke-21 atau Milenium III. Sentuhan Eropa yang terlihat melalui detail bordir, sulam, renda, payet, parel dan motte mendorong kebaya menembus pasar global, tanpa harus kehilangan jati diri. Dan, langkahnya menginspirasi banyak desainer muda.

    Di tengah kemeriahan perayaan Hari Kartini April lalu, desainer kebaya Andre Frankie melahirkan karya spektakuler dengan sentuhan detail gaun era Victoria. Kebaya rancangannya mengadopsi gaya busana Ratu Inggris Elizabeth I yang menonjolkan kekuatan bustier di bagian luar berpadu model krah berdiri.

    Sambil memperkenalkan teknik jahit tangan, Andre juga menonjolkan aksen ombak untuk sejumlah rancangan kebaya dengan potongan sebatas pingang. Kali ini, ia mengadopsi detail rok tutu, yang biasa dikenakan balerina, untuk rancangan kebayanya.

    Sementara desainer asal Bandung, Ferry Sunanto menampilkan kebaya pengantin dengan aksen bervolume di bagian lengan dan perut, serta ekor menjuntai. Ia rupanya mengambil inspirasi busana gaya Baroque yang populer di Eropa pada abad pertengahan.

    Marga Alam, yang dipercaya merancang kebaya yang akan dikenakan Miss Indonesia di ajang Miss Wolrd, pun sengaja memadukan kebaya rancangannya dengan tren gaun malam internasional. Modifikasi itu dilakukan demi menarik minat pecinta tren fesyen dunia terhadap kebaya.

    Tren fesyen dunia seperti yang ditampilan melalui tayangan Euromaxx agaknya menjadi penting bagi perkembangan fesyen tanah air. Perkawinan kebaya dengan detail modern membuat kebaya lebih mudah diterima panggung internasional.

    Kesan glamour dan elegan juga membuat selebriti atau sosialita tak malu mengenakan kebaya. Tak heran jika kebaya rancangan Anne selalu menjadi langganan membalut tubuh Putri Indonesia di ajang Miss Universe, juga Miss Universe yang hadir di Indonesia.

    Menurut Anne, pengaruh Eropa terhadap kebaya di Indonesia sudah terjadi sejak zaman penjajahan. Pengaruh kuat datang dari Belanda melalui aksen renda yang semula dikenal sebagai detail busana Eropa. 'Kebaya Belanda' umumnya dikenakan para perempuan Belanda yang lahir dan tumbuh di Indonesia. Kebaya dianggap sebagai busana yang cocok untuk tinggal di negara tropis.

    Namun, 'Kebaya Belanda' di zaman itu tak berkembang karena muncul sinisme dan kritik tajam bagi perempuan Belanda yang mengenakannya. Perempuan Belanda yang mengenakan kebaya dianggap merendahkan martabat bangsa Belanda. Pengaruh detail Belanda untuk kebaya di masa itu akhirnya tenggelam oleh pengaruh detail China yang melahirkan kebaya encim.

    Sejumlah desainer menganggap modifikasi kebaya sebagai salah satu usaha untuk memberikan nilai tambah terhadap karya-karyanya. Bukan bermaksud membunuh keklasikan sebuah busana tradisional, sentuhan Eropa justru menjadi salah satu cara untuk menginternasionalkan kebaya.

      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 4:13 am