Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Ketika Kita Mencintai Tanpa Pamrih

    Share

    via

    851
    04.03.09

    Ketika Kita Mencintai Tanpa Pamrih

    Post  via on Sat Jun 19, 2010 12:49 pm

    Ketika Kita Mencintai Tanpa Pamrih


    Apabila ’Aku mencintaimu karena Dikau mencintaiku’,
    maka Cintamu menjadi semata-mata seperti reaksi transaksi timbal balik,
    seperti seseorang sedang berjualan
    dan yang satunya sedang membeli di hiruk pikuk sebuah pasar.
    Dan Cintamu bukanlah lagi sebuah ’cinta yang sakral tanpa syarat’
    Akan tetapi lebih menjadi hal lumrah yang murah
    dan diperoleh dengan sangat mudah.
    Mencintai tidak mengenal meminta balasan
    ataupun segala bentuk imbalan apapun sebagai balasannya;
    atau bahkan tidak merasakan perasaan bahwa Engkau sedang memberi sesuatu –
    karena perasaan memberi akan membuatmu menunggu balasan,
    apapun bentuknya
    walau sekedar ungkapan terimakasih atas pemberianmu,
    Mencintai lebih dari memberi sesuatu,
    Ketika Engkau mencintai
    Engkau berbagi bagian kehidupanmu yang terindah
    Karena:
    ’Mencintai membuat Dirimu menjadi insan yang bebas’
    Memberi tanpa ikatan dan keterlekatan
    yang menanti balasan,
    menunggu pamrih apapun,
    maupun menunggu jawaban:
    ’Aku juga cinta Kamu.’


    (Terjemahan bebas ’What is Love’ by J. Khrisnamurti.oleh Emmy LD)

    Ketika aku pas jalan-jalan ke Plaza Indonesia, aku melihat sebuah kemeja yang bagus banget, branded lagi dan sedang sale. Cepat-cepat aku belikan satu buat suami tercinta sebagai oleh-oleh. Aku sengaja pilihkan warna hijau salem. Menurutku warna hijau salemlah yang terbagus di antara jajaran kemeja-kemeja yang ada di Plaza Indonesia. Aku sudah membayangkan dengan memakai kemeja hijau salem, suamiku akan nampak lebih cakep dan lebih muda. Ketika dia menerima kemeja tersebut, dia tersenyum lalu mencium pipiku dan memuji pilihan warnaku. Katanya, warna pilihanku selalu bagus dan dia tahu betul warna hijau salem adalah warna favoritku. DEG!!! Aku baru menyadari bahwa sebenarnya warna hijau salem adalah warnaku sedangkan warna favorit suamiku adalah warna biru lembut. Aduh!! Sudah terlanjur, nih kemeja bermerek terkenal yang aku pilih sebenarnya mempunyai warna yang bukan warnanya. Aku baru sadar ketika memilihkan kemeja itu, egoku yang berbicara, menginginkan suamiku mengikuti kesenanganku dalam soal pilihan warna.

    Lain pula ceritanya dengan anak-anakku. Ketika anak-anakku baru tumbuh dalam masa usia balita, rasanya dunia ini indah karena mereka selalu mengikuti apa yang aku katakan. ”Adek, jangan pegang lampu mama, ya. Ntar pecah. Kalau pecah ntar kaki Adek bisa terluka deh.” Dan si Bungsuku, gadis kecil manisku, dengan manisnya tidak jadi memegang table lamp yang baru dibeli. Atau, ”Abang, susunya dihabisin, ya biar cepet gede dan pinter. Kalau sudah gede mau jadi apa, Bang?” Jawab si Abang, anak sulungku, ”Kayak papa ya Ma. Kan Abang anaknya papa”. Wah rasanya senang sekali mendengar jawaban anak sulungku yang ingin kayak papanya, jadi insinyur mesin lulusan ITB, cihui…. !! Rasanya anak-anak ku adalah superkids dan sangat comel, dan aku menjadi super mom!

    Dari kecil aku menemani mereka untuk mengerjakan tugas sekolah. Pe-ernya selalu aku koreksi terlebih dahulu sehingga kalau ada yang salah, bisa diperbaiki dan aku yang membantu memperbaikinya sehingga nilai-nilai pe-er mereka selalu bagus-bagus. Pada saat aku membantunya, aku merasa menjadi ibu yang hebat yang begitu memperhatikan anak-anakku supaya mendapat nilai yang baik. Ketika Sulungku yang duduk di bangku SMP kelas satu frustasi mendapat tugas mengarang yang topiknya cukup sulit untuk seusianya, yaitu tentang lingkungan hidup, maka akulah yang mengerjakan tugasnya. Dan tentu saja hasilnya mentakjubkan dapat nilai tertinggi di kelas. Ketika di kelas dua, dia sampai terpilih sebagai pelajar teladan di sekolahnya. Hebat, bukan? Ketika si Bungsu dapat tugas membuat cookies untuk mencari dana dan dijual di bazar sekolah, maka akulah yang turun tangan karena takut cookiesnya gosong dan kurang enak. Rasanya saat itu aku menjadi ibu yang sangat amat baik, bahkan menjadi ibu yang terbaik, deh. Aku sangat mencintai anak-anakku dan apapun aku lakukan agar mereka tahu ibu mereka sayang sekali kepada mereka Sehingga mereka juga akan membalas mencintaiku juga dan menuruti nasihat-nasihatku. Padahal sebenarnya yang aku lakukan salah besar. Aku tidak mencintai anak-anakku, sebaliknya aku telah mengajari anak-anakku untuk tidak jujur dan berbohong kepada dirinya sendiri!

    Lalu ketika si Sulung, lulus dari bangku SLTA, dia memilih jurusan teknik mesin sesuai cita-cita yang selalu diceritakan kepada siapapun, ingin jadi seperti papanya. Siapa sih yang tidak bangga apabila mempunyai anak sulung yang bisa meneruskan kuliah ke sebuah universitas bagus di Amerika?. Tetapi kemudian ketika dia mulai menyukai fotografi, mimpi yang sebenarnya mulai terkuak muncul ke permukaan hidupnya. Dia ingin jadi seorang fotografer daripada seorang insinyur mesin! Bayangkan, betapa hancur hatiku. Padahal aku sudah memimpikan anak pertamaku jadi seorang insinyur mesin dan bekerja di perusahaan multi nasional seperti papanya. Sebenarnya jujur aku katakan, bahwa yang patah hati adalah hati mamanya, bukan hatinya. Dia selalu hepi dengan hobi barunya, kok.

    Sebagai seorang ibu saat itu hatiku tetap gundah gulana, sulit menerima keputusannya. Hari demi hari berlalu, si Sulung pindah jurusan ke Marketing dengan mimpi lain mengembangkan bisnisnya sendiri di bidang fotografi, jadi bukan sekedar ’tukang foto’ seperti yang aku sangka sebelumnya. Pelan-pelan, dia menunjukkan bakat yang semula terpendam di bidang seni fotografi menjadi makin nampak. Bisa memberi kursus kepada mahasiswa teman-temannya, membentuk kelompok fotografi, mulai mencari uang dari fotografi. Dan katanya, yang penting dia sangat enjoy banget daripada ketika kuliah di teknik mesin. Beberapa alat-alat fotografi yang mahal dibelinya dari hasil ’menjual’ talentanya di bidang fotografi. Dan sekarang setelah lulus dengan Bachelor of Artsnya, dia sedang merintis untuk memiliki sebuah studio foto digital yang mempunyai sentuhan seni. Aku mulai menyadari bahwa selama ini aku telah ‘membentuk’ mimpinya, yang sebenarnya bukan mimpi miliknya tapi mimpi yang aku inginkan.

    Dan pelan-pelan aku leburkan mimpiku dengan mendampinginya dalam perjalanan hidup si Sulungku dengan mimpi barunya. Pengalamanku dengan si Sulung menjadikan sebuah pelajaran yang berharga bagiku dalam mendampingi anak keduaku, si Bungsu. Dengan si Bungsu, aku lebih fleksibel. Mendengarkan keinginannya, mendampinginya ketika mengambil keputusan, dan tidak membentuk keinginan dan mimpiku lagi dalam dirinya. Malahan dia bisa mendapat beasiswa, ikut pertukaran pelajar ke Inggris, mendapat nilai akademis yang cukup membanggakan di bidang pilihannya, dan menjalani hidupnya dengan lebih nyaman karena yang dia jalankan adalah pilihannya dan keinginannya. Aku berusaha mentransformasikan kesalahanku dalam mendidik anak pertamaku menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan keluargaku.

    Sebenarnya yang aku lakukan ’aku mencintai anak-anakku’ agar mereka mendapat nilai yang baik, agar mereka bisa jadi insinyur dan orang terpandang, sebenarnya merupakan imbalan yang ingin aku peroleh dari mencintai mereka. Memilihkan baju bermerek dengan warna favoritku (yang sebenarnya bukan warna favorit suamiku) karena menginginkan suamiku mengucapkan terimakasih atas perhatianku dan juga biar tambah cakep dengan pilihan warnaku. Sebenarnya mencintai adalah membiarkan suamiku memakai warna yang dia sukai bukan yang aku sukai, apapun mereknya pasti dia bahagia, nampak lebih cakep dan lebih muda. Sebenarnya mencintai adalah membiarkan si Sulungku mengembangkan talentanya di bidang seni daripada bidang teknik, dan membiarkan si Bungsuku bereksperimen membuat cookies biar gosong, kurang enak, tapi membiarkan dirinya menjalani sebuah proses pembelajaran menuju ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi lagi. Mencintai adalah ketika mendampingi si Sulungku mencari sumber-sumber bacaan untuk keperluan tugasnya, dan membiarkan dirinya mengerjakan tulisannya oleh dirinya sendiri. Atau membiarkan anak-anak mengerjakan pe-er mereka tanpa campur tangan ibunya agar mereka bisa belajar dari kesalahan yang telah mereka lakukan.

    Bila kita mencintai, seperti ketika kita memberi makan ikan-ikan koki kita atau menyiram tanaman di halaman. Walaupun ikan koki tidak bisa menuruti kehendak kita atau mengerti keinginanan kita, kita tetap memberi makan tanpa kata-kata, dalam keheningan. Bahkan yang kita lakukan adalah berbagi waktu dalam kehidupan kita untuk memberikan kehidupan yang lebih sehat dan baik kepada ikan-ikan koki kita. Pun dengan tanaman, kita menyiraminya, walau belum atau tidak akan memberikan tempat yang teduh ketika kita kepanasan atau kehujanan, kita tetap menyiraminya, menyiangi rumput-rumput di sekitarnya, tanpa kata-kata, tanpa melekatkan keinginan kita kepada tanaman yang kita pelihara dengan penuh kesabaran.

    Mencintai yang sebenarnya adalah membiarkan orang yang kita cintai membeli apa yang dia inginkan, bukan apa yang kita inginkan. Adalah membimbing anak dalam menemukan jati diri mereka bukannya membentuk impian kita dalam hidupnya. Adalah membiarkan anak-anak belajar dari kesalahan, bukannya mengoreksi kesalahan yang mereka buat dan mematikan kesempatan dalam proses pembelajaran kehidupan selanjutnya. Adalah tetap mendampingi anak-anak ketika mereka dalam kesulitan tanpa mencampuri dan mendiktekan apa yang musti mereka lakukan. Adalah menerima siapapun dalam hidup kita apa adanya tanpa mengubah sisi apapun yang dia miliki.
    Seandainya mencintai anak, pendamping hidup, serta siapapun seperti kita mencintai tanaman dan hewan piaraan, tanpa kata-kata dalam keheningan, maka hidup kita lebih damai dan bebas. Bebas dari keterlekatan karena mengharapkan balasan untuk dicintai, paling tidak didengar dan dituruti kehendak kita oleh orang yang kita sayangi. Pun pada saat kita ditinggal oleh orang yang kita cintai selamanya, kita bisa merelakan kepergiannya, walau dengan perasaan sedih dan kehilangan.
    Kita bisa banyak belajar dari puisinya J. Khrisnamurti yang berjudul ’What is Love?’

    Sehingga kita bisa menjadi makhluk yang bebas mencintai tanpa syarat apapun, dan membebaskan diri dari pelekatan diri dan keterlekatan menanti jawaban: ”Hei…, aku juga sayang kamu!”

    Selamat mencintai tanpa pamrih.

      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 3:12 pm