Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Sok Paling Kuasa Vs Realitas

    Share

    via

    848
    04.03.09

    Sok Paling Kuasa Vs Realitas

    Post  via on Mon Jun 21, 2010 1:18 pm

    Sok Paling Kuasa Vs Realitas

    Sigmund Freud, pionir dan pakar psikoanalisis, mendasarkan pemahaman perbedaan karakter jender pada perbedaan bentuk dan fungsi organ tubuh manusia, terutama pada alat kelaminnya.

    Kepemilikan penis pada lelaki mendorong posisi lelaki lebih tinggi, lebih perkasa, dan lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Oleh karena itu, kecemburuan perempuan akan kepemilikan penis yang disebut dengan istilah penis envy pada lelaki dikompensasikan melalui kemampuan perempuan melahirkan bayi.

    Tetap saja kompensasi tersebut tidak menurunkan posisi keperkasaan lelaki di hadapan perempuan. Dari bukti tatanan budaya manusia pada umumnya pun, posisi suami diletakkan lebih tinggi dari perempuan. Ungkapan lelaki pencari nafkah, pengayom keluarga, lelaki harus diladeni, lelaki penentu keputusan dalam keluarga, lelaki ”seolah” mendapat pembenaran budaya untuk bersikap dominan dalam keluarga. Lelaki harus dihargai dan dibenarkan dengan cara apa pun untuk mempertahankan tingginya harga dirinya dalam keluarga; lelaki selingkuh bahkan melakukan poligami tanpa seizin istri seyogianya dimaafkan; perempuan selingkuh harus diceraikan dan sebagainya.

    Ekses lanjut dari posisi tersebut, lelaki-suami sulit sekali meminta maaf bila bersalah, mau menang sendiri dan berbuat semena-mena, tanpa mempertimbangkan perasaan perempuan-istri. Posisi perempuan pun disudutkan ke dalam posisi harus patuh, menurut, harus bersikap rendah hati, bahkan kalau mungkin rendah diri, dan sangat populer disebut sebagai ”konco wingking” atau teman yang posisinya di belakang, seperti di sumur, dapur, kasur. Ungkapan-ungkapan tersebut terkesan dipegang teguh lelaki hingga saat ini walaupun sering kenyataan hidup yang dijalani sebenarnya berlawanan.

      Waktu sekarang Fri Sep 30, 2016 8:31 pm