Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Yesterday at 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    JADILAH PELITA

    Share

    lily.putih

    120
    Age : 37
    10.08.09

    JADILAH PELITA

    Post  lily.putih on Tue Jun 22, 2010 11:57 am

    Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.
    Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
    Orang buta itu terbahak berkata : “Buat apa saya bawa pelita ? Kan sama saja buat saya ! Saya bisa pulang kok”
    Dengan lembut sahabatnya menjawab, : “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu”
    Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.
    Tidak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.
    Dalam kagetnya, ia mengomel, : “Hei, kamu kan punya mata ! Beri jalan buat orang buta dong !”
    Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
    Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
    Kali ini si buta bertambah marah, : “Apa kamu buta ? Tidak bisa lihat ya ?
    Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat !”
    Pejalan itu menukas, : “Kamu yang buta ! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam !”
    Si buta tertegun...
    Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, : “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta”
    Si buta tersipu menjawab, : “Tidak apa – apa, maafkan saya juga atas kata – kata kasar saya”
    Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta.
    Mereka pun melanjutkan perjalanan masing – masing.
    Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak si buta.
    Kali ini, si buta lebih berhati – hati, dia bertanya dengan santun, : “Maaf, apakah pelita saya padam ?”
    Penabraknya menjawab, : “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama”
    Senyap sejenak.
    Secara berbarengan mereka bertanya, : “Apakah Anda orang buta ?”
    Secara serempak pun mereka menjawab, : “Iya….” sembari meledak dalam tawa.
    Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
    Pada waktu itu juga, seseorang lewat.
    Dalam keremangan malam, nyaris saja dia menubruk kedua orang yang sedang mencari – cari pelita tersebut.
    Dia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
    Timbul pikiran dalam benak orang ini, : “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka”
    Pelita melambangkan terang kebijaksanaan.
    Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
    Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan !)
    Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego dan kemarahan.
    Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri.
    Dalam perjalanan “pulang”, dia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya.
    Dia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain.
    Dia juga belajar menjadi pemaaf.
    Penabrak pertama mewakili orang – orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli.
    Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
    Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja.
    Mereka bisa menjadi guru – guru terbaik kita.
    Tidak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
    Orang buta kedua mewakili mereka yang sama – sama gelap batin dengan kita.
    Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya.
    Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya.
    Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
    Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
    SUDAHKAH KITA SULUT PELITA DALAM DIRI KITA MASING – MASING ?
    Jika sudah, apakah nyalanya masih terang atau bahkan nyaris padam ?
    JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
    Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan : “Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tidak akan pernah habis terbagi”.
    Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan.
    Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran.
    Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman.
    Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

      Waktu sekarang Wed Sep 28, 2016 10:29 am