Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Nasib Fiksi Ilmiah di Indonesia

    Share

    mayang.ungu

    301
    14.06.09

    Nasib Fiksi Ilmiah di Indonesia

    Post  mayang.ungu on Wed Jun 23, 2010 8:21 am

    “Semenjak ada himbauan untuk memperbanyak tayangan siaran lokal di TV swasta, semakin lama semakin sedikit tayangan fiksi ilmiah di televisi.”


    Saya mengenal serial fiksi ilmiah The X-Files maupun Star Trek The Next Generation (STTNG) dari stasiun televisi swasta di Indonesia, khususnya di Jakarta. Saya masih samar-samar ingat The X-Files pertama kali ditayangkan sore hari, sementara STTNG pertama kali diputar Kamis siang, sehingga saya bisa menyesuaikan jadwal untuk menonton keduanya.

    Ada beberapa serial fiksi ilmiah genre luar angkasa yang lain yang juga sempat diputar, seperti Babylon 5 yang diputar hari Minggu siang dan Space: Above & Beyond yang diputar pada malam hari. Lalu saya ingat ada serial mirip The X-Files yaitu The Psi Factor, diputar di malam hari, yang saya kurang begitu suka karena spesial efeknya terlihat kurang bagus, selain jalan ceritanya juga biasa saja. Kelanjutan dari serial Star Trek seperti Voyager dan Deep Space 9 juga sempat diputar.

    Saya masih ingat serial Star Trek The Original Series, yang dibintangi oleh William Shatner sebagai Kapten Kirk dan Leonard Nimoy sebagai Mr. Spock, sempat diputar juga oleh RCTI tepat di tengah malam. Di TVRI sendiri kalau tidak salah ingat pernah memutar Battlestar Galactica (versi orisinal) dan Buck Rogers. Serial fiksi ilmiah lain yang saya ingat pernah ditayangkan di televisi swasta lokal antara lain Time Trax, Quantum Leap, Starman, Dark Angel dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Waktu itu memang belum jamannya sinetron lokal membanjiri program TV, ditambah stasiun televisi swasta masih belum sebanyak sekarang (waktu itu masih didominasi oleh RCTI). Namun semenjak ada himbauan untuk memperbanyak tayangan siaran lokal di TV swasta, semakin lama semakin sedikit tayangan fiksi ilmiah di televisi. Tentu saja ini tidak berlaku bagi yang berlangganan TV kabel/satelit seperti Kabelvision, Telkomvision dan Indovision, yang pilihan acaranya didominasi dengan kanal siaran luar negeri.

    “TVRI sebagai stasiun televisi nasional yang dikelola oleh pemerintah malah kadang sedikit mengejutkan.”


    Serial fiksi ilmiah yang sudah lama tayang di luar negeri seperti Battlestar Galactica: Reimagined, Heroes dan Firefly, seperti tidak mendapat tempat di dalam program tayangan televisi swasta. Ini tidak mengherankan, karena rating fiksi ilmiah di Indonesia bisa dibilang 0, alias sangat kurang peminat. Tidak hanya di dunia televisi, di dunia layar lebar hal yang sama terjadi. Film Star Wars yang keempat, Phantom Menace, sangat lambat masuk ke Indonesia. Setelah film Star Trek: Generations, film Star Trek berikutnya yaitu First Contact hanya diputar tidak lebih dari seminggu di bioskop Jakarta, dan film selanjutnya Resurrection dan Nemesis bahkan tidak diputar di Indonesia. Hanya film Star Trek yang merupakan reboot karya J.J. Abrams yang diputar lebih lama, itu pun sangat lama mencapai kota lainnya di Indonesia.

    TVRI sebagai stasiun televisi nasional yang dikelola oleh pemerintah malah kadang sedikit mengejutkan, saya pernah melihat serial Farscape ditayangkan di malam hari. Saya berasumsi karena TVRI tidak penuh diisi dengan sinetron klise atau jiplakan alias plagiat, program tayangannya masih bisa memungkinkan memutar serial fiksi ilmiah, walaupun belum tentu bisa ditayangkan secara konsisten.

    Lalu bagaimana buat para penggemar serial maupun fiksi ilmiah Indonesia? Untuk film, sepertinya asal hype-nya besar, kemungkinan besar bisa ditayangkan di Indonesia, contohnya seperti Star Trek versi J.J. Abrams, walaupun sepertinya harus menonton di Jakarta kalau tidak ingin menunggu lama ditayangkan di kota lain. Untuk serial TV, seperti Fringe, FlashForward, Caprica dan Warehouse 13 misalnya, mungkin harus mengandalkan TV kabel/satelit, karena kecil kemungkinan akan ditayangkan secara tetap di televisi swasta yang sudah kebanjiran sinetron lokal. Cara lainnya bagi yang punya akses internet, membeli episode-episode yang dijual di iTunes Store, walaupun belum tentu ada semua episode yang kita inginkan.

    Singkatnya, fiksi ilmiah belumlah menjadi komoditi yang dinikmati oleh mayoritas umum secara luas di Indonesia.


      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 12:57 am