Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Inovasi Bisnis Kelinci Hasilkan Omzet Rp50 Juta/Bulan

    Share

    mikelia

    96
    11.11.09

    Inovasi Bisnis Kelinci Hasilkan Omzet Rp50 Juta/Bulan

    Post  mikelia on Tue Jun 29, 2010 10:36 am


    Sebagian besar orang mungkin biasa mendengar sate kelinci. Tapi, pernahkah Anda mendengar nugget kelinci? Saat ini sudah ada orang yang terpikir untuk mengembangkannya.

    Adalah Nuning, wanita berusia 44 tahun, yang secara tidak sengaja mengawali bisnis nugget ini. "Awalnya saya melihat di sepanjang jalan raya Puncak itu banyak yang menjual makanan dari kelinci, seperti sate kelinci. Lama-lama saya terpikir, produk apa yang belum diolah dari daging kelinci," kisahnya.

    Berbekal rasa ingin tahu itu lah, Nuning memulai bisnis nugget kelincinya. Dikisahkannya, untuk membuat nugget kelinci itu tidaklah sulit. "Semuanya saya kerjakan secara manual. Saya olah sendiri, belum dibuat secara massal dengan mesin," katanya.

    Dengan cara tersebut, kata Nuning, dirinya bermaksud menekan biaya operasional, dalam hal ini yaitu upah tenaga kerja. "Lagipula, saya saat ini masih menunggu ijin produk nugget saya dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Kalau sudah keluar nanti, barulah saya berani berproduksi secara massal," katanya.

    Lebih lanjut Nuning mengatakan, produk nuggetnya tersebut tidak hanya dipasarkan di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga ke sejumlah daerah, seperti Yogyakarta, Malang, dan Ambarawa. "Untuk sekali angkut, jumlahnya bisa mencapai 100 kemasan per daerah. Dengan harga per kemasannya Rp20 ribu," urainya.

    Kendati demikian, dia mengakui untuk mengembangkan usahanya ini tidaklah mudah, terutama karena selama ini kelinci identik sebagai hewan peliharaan.

    "Terkadang saya mengalami kesulitan dalam meyakinkan calon konsumen untuk membeli produk nugget saya. Karena, mereka umumnya merasa kasihan dengan kelinci yang dijadikan nugget tersebut. Kan selama ini mereka mengenal kelinci sebagai hewan peliharaan atau hiasan, bukan untuk dikonsumsi," ujar ibu dua anak ini.

    Namun dia pun tak merasa kecil hati dengan anggapan kebanyakan orang tersebut. Dia pun menganggap hal tersebut sebagai pemicu untuk lebih bisa meyakinkan orang lain untuk mencoba produknya. "Saya sering bawa contoh nugget yang sudah digoreng, agar calon pembeli teryakinkan," ujarnya.

    Peternakan Kelinci

    Ide pengembangan bisnis nugget ini, menurut Nuning sebenarnya tidak terlepas dari peternakan kelinci yang mulai dirintisnya sejak dua tahun lalu. Saat ini jumlah kelinci yang ada di peternakan itu sudah mencapai 1.000 ekor, terdiri dari kelinci hias dan kelinci pedaging.

    Padahal, pada awal dia merintis usaha ini, jumlah kelinci yang dimilikinya hanya empat ekor. "Awal mula saya memulai bisnis kelinci ini karena saya suka kelinci. Modal awal saya dulu cuma Rp1 juta," kenangnya.

    Oleh karena kelinci-kelinci itu berkembang biak, bahkan hingga 75 ekor anak kelinci, dia akhirnya memutuskan untuk memindahkan sebagian kelinci-kelinci tersebut ke lahan kosong miliknya di Cisarua, Bogor.

    "Ketika belum lama sejak saya pindahkan ke Cisarua, ternyata ada orang yang meminta saya untuk menyediakan kelinci sebanyak 100 ekor. Dari situlah saya mulai terpikir untuk menjalankan bisnis kelinci ini," katanya.

    Dari bisnis kelinci tersebut, kini dia mampu meraup omzet Rp50 juta per bulan dengan marjin 20 persen per bulan. Untuk harga kelinci, dia mematok harga yang bervariasi. Induk kelinci hias dihargainya mencapai Rp1,5 juta per ekor, sedangkan anak kelinci hias dihargai Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per ekor. Sementara, untuk induk kelinci pedaging dihargainya Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per ekor, sedangkan anak kelinci pedaging dihargai Rp30 ribu per ekor.

    "Dalam sebulan saya bisa menjual 150 ekor kelinci. Saya jual ke pengepul untuk didistribusikan lagi ke penjual sate, bahkan ke tempat wisata, seperti Taman Safari," paparnya.

    Tidak hanya itu, menurut Nuning, semua bagian dari kelinci itu bisa diolah kembali. Misalnya, kotoran kelinci, yang dia jadikan sebagai pupuk. Selain itu, kulit kelinci, yang dia olah menjadi kerupuk kulit. "Jadi tidak ada yang tersisa dari seekor kelinci, semua bisa mendatangkan uang," katanya.

    Ditambahkannya, hingga saat ini, dia telah mempekerjakan 10 orang karyawan di peternakan kelincinya di Cisarua yang luasnya mencapai 2.000 meter persegi.

    Dari kisah suksesnya merintis bisnis kelinci ini, dia pun berpesan agar para pemula bisnis ini menjalankan secara total. "Yang penting niat, jangan setengah-setengah, dan harus ikhlas," tandasnya.

      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 9:24 am