Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Impian, Pilihan Dan Kepastian

    Share

    kellyn

    123
    25.01.09

    Impian, Pilihan Dan Kepastian

    Post  kellyn on Sat Jul 10, 2010 2:16 pm

    Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya melihat dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.

    Ia menyapa, "Hai saudari. Namaku Rose. Aku berusia lapan puluh tujuh tahun. Maukah kamu memelukku ?"

    Saya tertawa dan dengan segera menyambutnya, "Tentu saja boleh !"

    Diapun memberi saya pelukan yang sangat erat. "

    Mengapa puan ada di kampus pada usia yang masih muda dan tak berdosa seperti ini ?" tanya saya cuba bergurau dan berolok-olok.

    Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk mencari suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pencen dan akhirnya pulang ke dunia lain."

    Aku ketawa dan kemudian bersuara lagi "Ah yang seriusnya macamana puan ?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil peluang ini di usianya.

    "Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya !" katanya.

    Setelah kuliah selesai, kami berjalan menuju kantin dan minum segelas air. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengar berbagai pengalaman dan kebijaksanaannya.

    Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan sesiapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkan suasana.

    Pada akhir semester, kami mengundang Rose untuk berbicara dalam acara makan malam kelab bola sepak kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya kepada kami.

    Dia diperkenalkan diri dan naik ke podium. Begitu dia mula menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kertas pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon.

    "Maafkan saya sangat gugup. Saya tidak minum minuman keras. Tapi saya tidak boleh menyusun pidato saya kembali, maka izinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

    Saat kami tertawa dia membersihkan kerongkongannya dengan minum air yang disediakan dan mulai pidatonya, "Kita sepatutnya tidak boleh berhenti bermain kerana kita tua; kita menjadi tua kerana kita berhenti bermain. Hanya ada empat rahsia untuk tetap awet muda, tetap bahagia, dan meraih kejayaan. Kamu harus tertawa dan menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai IMPIAN. Bila kamu kehilangan IMPIAN-IMPIANmu, kamu mati. Ada ramai sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun tidak mengetahuinya !"

    "Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia lapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi lapan puluh lapan. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak memerlukan suatu keahlian atau bakat. Sedangkan tumbuh kedewasaan dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan. Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

    Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia mengajak setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Akhirnya Rose meraih gelaran siswazah sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah konvokesyen, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa/mahaiswi menghadiri upacara pengkebumiannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang boleh kau lakukan.

    Ingatlah, Menjadi Tua Adalah Kemestian, Menjadi Dewasa Adalah Pilihan.

      Waktu sekarang Fri Sep 30, 2016 10:13 pm