Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Yesterday at 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA

Paid2YouTube.com

    Cuci Moral dengan “Deterjen”

    Share

    flade

    935
    23.09.09

    Cuci Moral dengan “Deterjen”

    Post  flade on Thu Jul 22, 2010 10:31 am

    Cuci Moral dengan “Deterjen”

    Sebuah lukisan besar dipampang menghadap pintu keluar masuk Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

    Lukisan itu tampak kokoh diletakkan untuk menyambut para pengunjung ke dalam pameran berjudul “Deterjen”.
    Tak hanya itu, lukisan tersebut seolah-olah sudah menjadi jawaban atas rasa penasaran dari judul pameran yang identik dengan urusan cuci-mencuci. Gambar itu kental dengan nuansa islami. Warna hijau dan bulan bintang menjadi simbol Islam. Tokoh-tokoh Indonesia, baik yang sudah almarhum dan yang belum, dilukiskan menggunakan atribut pemimpin religius seperti kerudung, sorban, dan sarung yang diselempangkan di bahu. Adalah almarhum Gus Dur, dan Hamengku Buwono X yang berada di posisi paling atas di sisi yang berseberangan. Lalu berkumpul di tengah adalah Goenawan Mohammad, Amien Rais, Jusuf Kalla, Taufiq Kiemas, Megawati, dan Hidayat Nur Wahid.
    Yang tentu mengejutkan adalah keberadaan Magniz Suseno dan Jacob Oetama di dalam kumpulan tersebut. Nama mereka masing-masing ditambahkan gelar Kyai Haji dan Hajah. Tak kalah menarik adalah foto diri sang pelukis, H Hardi, yang berukuran lebih besar dari antara semuanya. Maksud itu semua makin terlihat jelas saat melihat angka 2015 yang berada di tengah atas lukisan, siluet patung selamat datang yang diubah menjadi bersorban dan berkerudung, serta sejarah kerajaan Islam di Indonesia sebelum merdeka.
    Deterjen. Itulah kata kuncinya. Dalam menafsirkan lukisan tadi pun sebaiknya memakai kata kunci tersebut. Kata deterjen sendiri berasal dari kata latin “de-“ yang artinya jauh serta “tergere” yang secara harafiah berarti menyeka diri. Jelas bahwa lukisan tadi dan 25 lainnya bertujuan untuk menghadirkan metafora akan keinginan untuk membersihkan suatu keadaan buruk dalam bangsa ini.
    Seperti yang Merwan Yusuf, sang kurator, katakan bahwa bangsa ini tidak kekurangan orang-orang pintar, pun negeri ini tidak kekurangan kekayaan alam. Lalu mengapa tetap terpuruk bahkan kalah jauh dibanding negara tetangga? Jawabannya adalah moralitas. Bangsa ini tidak memiliki lusinan orang pintar yang sekaligus bermoral benar. “Bangsa ini butuh pembersihan moral,” kata Merwan.

    “Moralitas Rendahan”
    Pameran Deterjen yang memamerkan 26 lukisan milik 26 pelukis Jabotabek ini, dipakai sebagai kritik atas segala perilaku dan moralitas rendahan yang seolah-olah sudah mendarah daging di negeri ini. Ragam lukisan dipamerkan. Mulai dari yang seperti lelucon macam lukisan ekspresi badut dalam lukisan “Republik Badut” dan lukisan “Deterjen Proof” yang memperlihatkan seseorang sedang terputar-putar dalam mesin cuci sampai kepada yang bernada sarkas seperti lukisan “Corrupnation” yang sebenarnya adalah sebuah jam analog, namun penuh dengan coretan warna dan kata makian. Salah satu kata makiannya adalah “Indonesial”.
    Permainan warna hitam dan putih dalam lukisan berjudul “Peziarah # VII” juga menghadirkan kenyataan sebenar-benarnya tentang Indonesia. Lukisan hitam berukuran 200x180 cm itu hanya memiliki sapuan garis putih tipis yang bahkan tidak mencapai seperseratus luas keseluruhan. Bahkan, sapuan garis putih tadi seakan-akan pernah enggan untuk disapukan di situ. Hitam yang identik dengan energi negatif memiliki kekuatan lebih dibanding dengan putih yang mewakili kekuatan positif, dan itulah Indonesia.
    Lukisan 2015 tadi pun boleh jadi mewakili kerinduan si seniman atas masa depan Indonesia yakni Indonesia dipimpin tokoh yang memiliki moral benar. Walaupun ada tokoh-tokoh yang terkesan mualaf, tapi si seniman tidak sedang meramal nasib. Bagi H Hardi, si seniman, perbuatan baik yang dilakukan para “mualaf” tadi adalah tindakan yang islami. Itulah yang diinginkannya dan juga untuk menyatakan bahwa atribut keagamaan bukanlah bukti seseorang bermoral benar. Tafsiran lain yang boleh terjadi adalah sindiran atas kedaulatan Indonesia sebagai negara republik. Akankah status negara republik berubah menjadi negara agama?
    Pameran yang akan digelar hingga tanggal 30 Juli ini juga menyuarakan suara keprihatinan kondisi bangsa. Ketika unjuk rasa sudah dianggap hal biasa, kiranya lewat seni pemerintah, penguasa, dan kaum intelek Indonesia boleh mawas diri.

      Waktu sekarang Sun Sep 25, 2016 7:21 am