Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Yesterday at 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA

Paid2YouTube.com

    Hidup tak Semangat Dekat pada Kematian

    Share

    mayang.ungu

    301
    14.06.09

    Hidup tak Semangat Dekat pada Kematian

    Post  mayang.ungu on Sat Aug 21, 2010 11:04 am



    APA jadinya bila kita menjalani hidup ini tanpa semangat, tanpa tujuan yang ingin dicapai, tanpa dorongan melakukan sesuatu. Kehidupan mungkin akan terasa hampa dan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu.

    Selain menjadi tak bermakna, hidup tanpa semangat juga dapat membuka jalan atau mendekatkan diri pada gerbang kematian. Secara ilmiah, hal ini telah dibuktikan melalui sebuah penelitian.

    Riset ilmuwan Jepang mengindikasikan, seseorang yang tak memiliki "ikigai" - diartikan sederhana sebagai semangat dan tujuan hidup - cenderung akan meninggal lebih cepat dalam beberapa tahun ke depan.

    Berdasarkan riset tersebut, meningkatnya risiko kematian juga ditentukan faktor lain seperti penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) dan penyebab eksternal terutama upaya bunuh diri.

    Dimuat jurnal Psychosomatic Medicine edisi Juli/Agustus, Dr. Toshimasa dari Sone Tohoku University Graduate School of Medicine di Sendai meneliti untuk pertama kalinya pengaruh 'ikigai' terhadap risiko kematian seseorang. Toshimasa juga mengklaim bahwa risetnya adalah yang kedua meneliti kematian akibat penyebab yang spesifik.

    Dalam risetnya, Toshimasa melibatkan 43.391 pria dan wanita berusia 40 hingga 79 tahun yang tinggal di wilayah Ohsaki. Partisipan dipantau selama tujuh tahun dan sepanjang periode itu tercatat 3.048 orang meninggal dunia.

    Selama riset partisipan disodori pelbagai pertanyaan termasuk "Apakah Anda memiliki Ikigai dalam hidup Anda?". Sebanyak 59 persen mengatakan 'Ya', sebanyak 36,4 persen mengatakan 'Tidak Yakin', dan 4,6 persen menyatakan 'Tidak'.

    Mereka yang mengaku tak punya ikigai cenderung berstatus belum menikah dan tak punya kerja. Mereka juga berpendidikan rendah, kualitas kesehatan yang buruk, mengalami stres mental dan sering merasakan sakit. Mereka juga cenderung memiliki fungsi fisik yang terbatas.
    Walaupun peneliti telah menggunakan teknik statistik untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut, orang yang tak punya ikigai tetap mengalami peningkatan risiko kematian selama periode penelitian dibandingkan mereka yang punya ikigai. Hubungan antara faktor-faktor ini juga bersifat independen setelah memperhitungkan sejarah penyakit dan konsumsi alkohol.

    Hasil analisis secara keseluruhan menunjukkan, orang yang tak punya ikigai tercatat 50 persen berisiko lebih besar meninggal oleh pelbagai sebab selama periode penelitian dibanding mereka yang punya semangat dan arti hidup .

    Orang yang tak punya ikigai berisiko 60 persen lebih besar mengalami kematian akibat penyakit kardiovaskuler, terutama stroke, dan 90 persen cenderung meninggal oleh faktor eksternal. Tercatat sebanyak 186 kematian partisipan terjadi karena penyebab eksternal dan 90 di antaranya adalah bunuh diri.

    sumber: kompas online

      Waktu sekarang Sun Sep 25, 2016 5:39 am