Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Tari Caci, Uji Nyali Pria Manggarai

    Share

    pravda

    260
    07.06.10

    Tari Caci, Uji Nyali Pria Manggarai

    Post  pravda on Mon Sep 20, 2010 2:25 pm

    Tari Caci, Uji Nyali Pria Manggarai


    TARI CACI Sepasang penari caci saling memukulkan cambuk ke lawan masing-masing pada pagelaran seni yang diselanggarakan RRI Kupang, belum lama ini.

    AYUNAN keras pecut dari seorang pria langsung menimbulkan bunyi seperti petir, menghentak ratusan penonton Panggung Hiburan yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Kupang.

    Empat pria muda yang memegang pecut serta menggunakan busana khas Manggarai yang sudah dilengkapi tameng, dan pelindung lainnya badan, saling unjuk kebolehan.

    Dua di antara empat orang itu saling berhadap-hadapan, seorang diantaranya mengambil posisi siap menyerang sementara yang lainnya mengambil posisi bertahan. Dan, sebelum menyerang, pecut tersebut di kibas-kibas sehingga menyebabkan bunyi-bunyi yang keras dan tajam, tak ubahnya petir.

    Tidak lama kemudian, seorang di antaranya mengibaskan pecut ke tubuh seorang yang mengambil posisi bertahan dan penoton pun berteriak histeris. Para penari cari terus saja beraksi mengikuti irama musik dan lagu.

    Empat pria ini merupakan bagian dari grup Tari Caci dari Sanggar Wela Rana Pauk-Kupang yang tampil membawakan atraksi caci.

    Tarian ini dibawakan oleh empat orang dan didukung delapan orang penyanyi tradisional untuk mengiring penampilan grup ini. Empat orang itu adalah Anyok Fanis Sina, Roby Yanuarius, Renold Yoland dan Dolfus Jama.

    Mereka yang membawakan atraksi caci ini merupakan gambaran pria Manggarai yang memiliki nyali untuk bertarung. Mereka saling serang dan bertahan, bahkan saling melukai. Namun tidak ada dendam di antara mereka. Yang ada hanya suka cita.

    Caci merupakan tarian atraksi dari bumi Congkasae- Manggarai. Hampir semua daerah di wilayah ini mengenal tarian ini. Kebanggaan masyarakat Manggarai ini sering dibawakan pada acara-acara khusus.

    Peralatan dalam tarian ini antara lain cambuk (larik), perisai (giliq), pelindung dada, pelindung kaki dan lutut (bik) dan pelindung kepala (pangga).

    Semua bahan ini terbuat dari kulit kerbau. Masing- masing pihak mendapat kesempatan memukul dan pihak lainnya menangkis. Dan masing-masing mendapat giliran untuk memukul dan menangkis.


    Giring-giring yang digantungkan di belakang pinggangnya agar pada saat menari dapat mengeluarkan irama atau nada yang merdu didengar dalam mengikuti irama gong yang dibunyikan oleh kelompoknya. Tarian ini diiringi musik tradisional Manggarai dan serta syair-syair berbahasa Manggarai.

    Servas S Budiman, anggota Sanggar Wela Rana Pauk ini mengatakan, tari caci saat ini sudah kurang populer di kalangan anak muda di Manggarai, apalagi mereka yang sudah tinggal di kota. Ada juga yang masih meminati tarian ini namun tidak memahami makna yang terkandung dalam tarian ini.

    Menurutnya, caci sebenarnya merupakan gambaran suka ria dan cinta kasih antara petarung. Sebab, tarian ini berasal dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya. "Jadi tidak ada dendam dalam pertarungan ini.

    Caci sendiri dari legendanya menggambarkan begitu besar cinta kasih sang kakak pada adik. Sehingga tradisi kasih sayang itu disalurkan dalam bentuk ini, sehingga para petarung tidak boleh dendam meski harus mengalami luka akibat terkena pecut lawannya," jelas anak muda asal Manggarai ini.


    Cerita Kakak dan Adik
    Budiman mengisahkan, pada jaman dahulu hiduplah seorang kakak bersama adiknya di sebuah kawasan di Manggarai. Keduanya merupakan anak yatim piatu, namun mereka memiliki satu ekor kerbau (ka'ba).

    Suatu ketika, kakak dan adik ini berjalan-jalan di hutan sambil mengembalakan kerbau. Dan saat jalan-jalan itu, sang adik tanpa sengaja terperosok ke dalam sebuah lubang. Sang adik pun langsung berteriak minta tolong pada sang kakak, dan saat yang bersamaan sang kakak pun langsung berusaha menolong sang adik.

    Cara yang dilakukan adalah mencari tali untuk membantu mengeluarkan sang adik dari dalam lubang. Upaya itu tidak berhasil karena sang adik selalu gagal dikeluarkan dari dalam lubang karena tali tidak bisa dijangkau oleh sang adik. Saat berusaha menolong sang adik, sang kakak mengatakan asa nana? (sudah?) dan sang adik menjawab toe di (belum).

    Karena kecintaan yang begitu besar pada sang adik, sang kakak kemudian rela menyembeli kerbau satu- satunya milik mereka. Ekor kerbau kemudian dijadikan tali untuk mengeluarkan sang adik. Upaya ini berhasil mengeluarkan sang adik dari lubang.

    Karena rasa bahagia itu, kedua kakak beradik ini kemudian momotong kerbau. Daging kerbau dimakan, sementara kulit kerbau ini dijadikan perisai.

    Sebagai rasa suka cita, kedua kakak beradik ini saling adu ketangkasan memukul dengan tali dari kulit kerbau.

    Kulit kerbau tersebut digunakan untuk alas dada (bik/semacam body protector) dan perisai (giliq), tali (larik) yang kemudian digunakan sebagai cambuk serta pelindung kepala (pangga)

    Setelah kakak dan adik membuat dan memasang berbagai properti tersebut ke tubuh mereka, keduanya bertarung dengan senang. Selanjutnya tradisi ini diberi nama caci.

    Makna cerita ini mempertegas bahwa caci bukanlah tarian atraksi saling unjuk kekuatan atau kecekatan, melainkan tarian yang menggambarkan keakraban dan persaudaraan. Tarian ini menggambar suka cita masyarakat Manggarai.

    Menurut Servas Budiman, pemuda Manggarai yang tinggal di Kupang, dalam pertarungan oleh penari caci ini terkadang salah satu bahkan kedua penari mengalami luka serius atau berdarah. Namun, masing- masing tidak dendam. Sebab, tarian caci merupakan wujud cuka cita dan persaudaraan.

    Sayangnya, banyak anak muda Mangarai yang tidak paham makna di balik tarian ini. Bahkan, makin sedikit anak muda yang mau memainkan tarian ini.
    Menurut Budiman, anak-anak muda kini lebih menyukai hal-hal yang modern sehingga tari caci semakin kurang diminati.

    "Kita sebagai anak muda Manggarai di Kupang berusaha agar tarian ini tetap lestari sehingga belajar dan terus membawakan tarian di Kupang. Ini juga sebagai bentuk rasa cinta kita pada bumi Manggarai," jelasnya.



      Waktu sekarang Mon Sep 26, 2016 10:41 pm