Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Pakai Sepeda, Cara Baru Aksi Teror Bom

    Share

    niagara

    341
    11.06.09

    Pakai Sepeda, Cara Baru Aksi Teror Bom

    Post  niagara on Fri Oct 01, 2010 6:24 am

    Pakai Sepeda, Cara Baru Aksi Teror Bom
    Pelaku luka berat karena bom itu meledak setelah sepedanya menabrak pembatas jalan.


    'Surat Jihad' pembawa bom rakitan di Kalimalang, Bekasi


    Satu bom rakitan meledak di depan Pasar Sumber Artha, ruas Jalan Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis 30 September 2010, sekitar pukul 8.00 Wib. Berbeda dengan aksi bom yang kerap terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu, bom di perbatasan Jakarta-Bekasi itu dibawa pelakunya dengan sepeda. Bom meledak karena terjatuh, setelah sepeda menabrak pembatas jalan.

    Bom itu meletup hanya beberapa meter dari Ajun Komisaris Polisi Heri, Kepala Unit Petugas Pengatur Lalu Lintas Polres Bekasi. Ledakannya, menurut saksi mata, terdengar keras dan mengagetkan warga, pengunjung pasar, serta Ajun Komisaris Heri yang tengah mengatur lalu lintas. Tak ada korban jiwa dalam insiden itu.

    Si pelaku, Ahmad bin Abu Ali, 38 tahun, menderita luka berat. Dia terjengkang oleh ledakan bom buatannya sendiri, tapi sempat bangkit dan mencoba kabur. Polisi Heri mengejar, dan lalu membekuknya. Selama dicokok, Ahmad tak henti-hentinya berteriak 'Allahu Akbar'.
    Polisi sedang menyelidiki apakah pelaku berniat bunuh diri atau tidak. “Juga akan didalami orang itu waras atau tidak,” ujar Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Timur Pradopo di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis 30 September 2010.

    Pelaku menderita luka di pelipis kanan, leher, kaki, dada kiri, dan tangan kanan putus. "Kondisi dia membaik dan tengah dirawat di ruang ICU," jelas Timur. Dari cara yang digunakan, polisi menyimpulkan 'amatir', dibandingkan aksi teror bom di Jakarta sebelumnya. Target aksi Ahmad, diduga adalah polisi lalu lintas.
    Meski tidak berdaya ledak tinggi, bom Ahmad itu memiliki tombol pemicu yang belum sempat digunakan. "Memang ada tombol, ada knop-nya. Ini hand made (buatan tangan) tapi belum terlalu canggih kelasnya agak amatiran," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Iskandar Hasan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis 30 September 2010.

    Menurut Iskandar, saat ini Detasemen Khusus 88 Anti-Teror Mabes Polri sedang melakukan analisa terhadap bom itu. "Sedang diteliti bomb signature-nya. Kalau jenis seperti ini, rangkaian seperti ini, ini kelompok si a, si b atau kelompok mana. Kalau bomb signature, itu Densus yang tahu," kata dia.
    Walaupun amatiran, Ahmad meramu bom itu dengan benda berbahaya seperti paku ukuran 5-7 sentimeter. Di tempat kejadian polisi mengumpulkan bukti sisa bahan peledak berupa mesiu dan karbit, dan pipa paralon.

    Dari badan tersangka polisi mengaku mendapatkan dua carik kertas buku tulis yang bertuliskan “pesan” dari aksi itu. "Bom Syahid Ini adalah untuk Kalian Semua Orang-orang Kafir. Kalian akan Kami Kejar Walaupun Kalian Lari ke Awan. Kematian Kalian itu Pasti. Mujahidin Masih Hidup di Indonesia,” begitu bunyi tulisan tangan berhuruf kapital dengan spidol hitam, pada lembar kertas pertama.
    Pada carik kertas kedua tertulis: "Ini adalah Pembalasan pada Kalian, Sekutu-sekutu Setan. Membunuh, Menghukum mati dan Menahan Mujahidin. Kami Siap Mati untuk Agama yang Mulia ini."

    Meski aksi teror ini dinilai amatiran, Polda Metro Jaya tetap waspada mengingat kasus serangan ke Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Tiga polisi tewas dalam serangan brutal itu. "Tapi kita belum sampai Siaga I," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar kepada wartawan, Kamis 30 September 2010.

    Periset jaringan aksi terorisme, Sidney Jones, mengatakan belum pernah mendengar, dan mengenal nama Ahmad bin Abu Ali. Nama belakang 'Abu', bagi Sidney Jones, adalah jamak dilakukan orang-orang di jaringan aksi teror itu. “Para pelaku itu kadang menggunakan nama Abu, atau anak pertama mereka, di samping nama sebenarnya," kata Sidney, yang juga penasehat senior di International Crisis Group Asia Tenggara, kepada VIVAnews.com, Kamis 30 September 2010.

    Hingga kini, kata Sidney, belum ada laporan para teroris yang mengaitkan aksi mereka dengan nama Ahmad alias Abu Ali. Nama itu tidak dikenal, dan di dalam jaringan diamati Sidney, juga tidak terdeteksi. Jadi, "Saya tidak bisa menjelaskan Ahmad bin Abu Ali ini berasal dari jaringan mana," ujar Sidney.



      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 5:28 pm