Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Desa Tenganan, Museum Hidup Visualisasi Tradisi Abad Ke-11

    Share

    niagara

    341
    11.06.09

    Desa Tenganan, Museum Hidup Visualisasi Tradisi Abad Ke-11

    Post  niagara on Fri Oct 15, 2010 6:06 am

    Desa Tenganan, Museum Hidup Visualisasi Tradisi Abad Ke-11



    Ada decak kagum begitu pertama melihat desa Tenganan Pegeringsingan yang terletak di pantai timur Bali, kabupaten Karangasem ini. Setelah melalui sawah, perkebunan dan hutan milik desa yang luasnya 917 hektar, tersembunyi sebuah desa cantik dengan struktur bangunan yang rapih. Pintu masuk ke desa tersebut terbuat dari batu dengan pintu khas Bali. Di sekelilingnya dibatasi batu berundak-undak seakan dinding pertahanan desa. Bangunan rumahnya sama seperti bangunan rumah tradisional Bali pada umumnya, hanya saja di Tenganan semua luas bangunan rumah dan pembagian kamarnya sama. Yang membedakan hanyalah bahan bangunannya saja, ada yang sudah lebih modern di semen, ada yang masih menggunakan batu bata merah.

    Ada 3 jalan masuk ke desa Tenganan. Dua harus melewati hutan dan satu melewati jalanan beraspal dari jalan raya Candidasa. Jalan ketiga ini yang menjadi pilihan utama para pelancong yang ingin melihat keindahan desa Tenganan. Dari jalan terakhir ini dapat terlihat bagaimanan desa Tenganan berbeda dengan desa-desa lain di Bali, mereka membangun kompleks perumahan tersendiri yang lebih terstruktur.

    Memang seperti itu lah Tenganan, sejak abad ke-11 semua hal yang ada di desa sudah diatur dalam hukum adat mereka, termasuk masalah bangunan rumah. Semua hukum di Tenganan berfilosofi pada keseimbangan hidup, dalam hal ini mengacu pada pemerataan, keadilan, dan kemandirian. Ketika seorang pemuda-pemudi Tenganan menikah, mereka pun diharuskan untuk keluar dari rumah orang tua mereka dan membangun rumah sendiri di tempat yang sudah tersedia. Hukum Tenganan yang melarang warganya untuk menebang pohon yang masih hidup, memberikan dispensasi pada pasangan yang baru menikah ini. Mereka boleh menebang pohon hanya untuk membangun rumah, tidak boleh dengan alasan yang lain.

    Struktur desa yang terorganisir dengan batasan dinding berundak serta pintu masuknya yang seperti itu, disebut dengan Jagasatru atau waspada pada ‘musuh’. Simbolisasi musuh di sini berarti ‘serangan luar’ dalam artian modernisasi dan budaya-budaya di luar budaya Tenganan. Budaya Tenganan merupakan budaya tertua di Bali. Adat istiadat mereka diturunkan dari para leluhur sejak abad ke-11 yang hingga sekarang masih dipegang teguh. Inilah desa tertua di Bali, dengan hukum Bali kuno. Meski demikian, mereka tidak menutup diri dari dunia luar. Terbukti dengan terbukanya mereka dalam menerima wisatawan yang sudah ramai datang sejak tahun 1933.

    Dari banyaknya wisatawan yang datang, bagaimana mereka masih mempertahankan tradisi dan budaya mereka? Penanaman nilai-nilai kebudayaan sejak kecil, keterlibatan anak-anak muda dan diberinya tanggung jawab serta peranan mereka dalam upacara adat, membuat tradisi itu masih bertahan hidup dalam jiwa mereka hingga sekarang. Walaupun TV dan internet sudah mereka kenal, tapi dengan tradisi kuat yang ada dalam diri, kesadaran akan tanggung jawab pada budaya yang mereka yakini, dengan sendirinya menjadi benteng pertahanan terhadap dunia luar. Tapi tetap, masih ada kekhawatiran akan lunturnya budaya dan tradisi Tenganan. Untuk menghindari hal tersebut, karena itu mereka melarang orang luar untuk tinggal bermalam di desa Tenganan. Meski banyak yang tertarik untuk bermalam demi merasakan sendiri budaya Tenganan dari dalam, larangan itu tetap mereka pegang, termasuk untuk para peneliti dari seluruh dunia.

    Fenomena ini yang sangat menarik, di tengah pesatnya arus modernisasi, hanya Tenganan lah yang mampu bertahan memegang teguh tradisi kuno mereka sejak jaman dulu tanpa menutup diri terhadap dunia luar.

    Hukum keseimbangan dalam pembagian hasil perkebunan di Tenganan pun sudah di atur. Alam Tenganan yang masih subur, banyak menghasilkan tanaman dan buah-buahan yang segar dan nikmat. Salah satunya durian yang tumbuh liar di hutan. Jika musimnya datang, si pemilik lahan dilarang untuk mengambil hasil keuntungan dari durian itu. Hanya orang luar lah yang boleh mengambil, dengan keuntungan yang nantinya diperuntukkan untuk desa dan kepentingan bersama. Sama halnya dengan hasil bumi lainnya di Tenganan semua untuk pertimbangan kepentingan desa.

    Hal menarik lainnya dari budaya Tenganan adalah persamaan hak antara lelaki dan perempuan. Sejak jaman dahulu, perempuan Tenganan posisinya sama dengan lelaki. Mereka sangat dihormati dan dijaga. Kecantikan alami para gadis Tenganan yang mampu menarik hati para pengunjung dari luar, dijaga dengan dilarangnya mengambil foto mereka sehari-hari. Mereka hanya boleh diambil fotonya jika ada upacara besar. Di Tenganan pun tidak berlaku garis keturunan atau kasta seperti umat Hindu pada umumnya. Semua warga di sini memiliki persamaan hak dan derajat yang sama, kecuali jika ada yang melanggar hukum adat. Mereka yang melanggar bisa dicabut haknya dalam desa, meski tidak diusir keluar desa sepenuhnya.

    Tenganan menyimpan banyak kekayaan budaya dan tradisi para nenek moyang bangsa Indonesia. Sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya dan sudah sepatutnya didukung pelestarian budayanya. Sungguh sulit dipercaya masih ada suku-suku asli yang masih mempertahankan tradisi kuno mereka tanpa menutup diri pada dunia luar



    SOURCE

      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 10:28 pm