Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Macaronis, Surga peselancar dunia itu kini luluh lantak

    Share

    jakarta

    522
    23.04.10

    Macaronis, Surga peselancar dunia itu kini luluh lantak

    Post  jakarta on Tue Nov 02, 2010 2:45 pm

    Macaronis, Surga peselancar dunia itu kini luluh lantak


    Mentawai, situs yang katanya surga para peselancar dunia itu luluh lantak disapu Tsunami pada awal pekan ini. Memang tidak seluruh Mentawai yang merupakan gugusan pulau kecil dan sedang di Samudra Hindia yang terkenal ganas itu tersapu Tsunami. Akan tetapi, Pulau Macaroni dan Pagai di Sipora merupakan dua pulau penting dari beberapa yang terkena terjangan Tsunami.

    Macaroni mengingatkan kita pada kehebohan pemberitaan yang terjadi dua tahun lalu. Pulau Macaroni Resort bersama dua pulau lain di gugusan Mentawai dijual secara terbuka kepada orang-orang kaya di dunia.

    Maraconi Resort yang seluas 15 hektare ditawarkan dengan harga pembuka US$4 juta, Pulau Kondui Resort seluas 26 ha ditawarkan seharga US$8 juta, dan Pulau Siloina seluas 24 ha dilelang pula senilai US$1,6 juta.

    Gempa berkuatan 7,2 SR yang mengguncang Mentawai telah merontokkan Macaroni dan Pagai hingga rata dengan tanah.

    Pagai dari dulu sangat terkenal di kalangan perselancar dunia sebagai pantai berombak tinggi dengan pasir pantai yang putih. Tidak heran, saat musim ombak bagus para turis dari kalangan peselancar berdatangan ke Padang untuk transit menuju Mentawai.

    Adanya penerbangan perintis ke Mentawai salah satunya juga dilatarbelakangi oleh kebutuhan transportasi bagi peselancar menuju pulau yang masuk ke dalam wilayah administratif Sumatra Barat itu.

    Wisata selancar merupakan salah satu andalan pemasukan bagi Mentawai melalui retribusi dan bagi hasil usaha dengan penyelenggara wisata surfing yang umumnya dikelola orang asing. Setiap tahun, penerimaan PAD dari surfing mencapai Rp400 juta hingga Rp1 miliar.

    Angka penerimaan sebesar itu mungkin sangat kecil bagi daerah sekelas Tangerang atau Badung. Akan tetapi bagi Mentawai sangat besar dan penting untuk mengisi APBD-nya yang hanya Rp400 miliaran.

    Siapa yang mengira, kini salah satu sumber penerimaan itu hancur hanya oleh satu kali sentakan gempa yang memicu Tsunami.

    Pengelola wisata surfing di Mentawai menyatakan ada sekitar sembilan orang wisatawan asal Australia yang sudah teridentifikasi selamat di Pulai Pagai. Akan tetapi dikhawatirkan masih ada wisatawan lain yang belum terpantau dan terkena Tsunami.

    Sampai saat ini belum ada penjelasan resmi yang didapatkan dari pejabat daerah mengenai nasib wisatawan tersebut.

    Tsunami itu sendiri disebut-sebut oleh sebagian saksi yang masih hidup mencapai ketinggian 8 meter dan datang menyapu secara tiba-tiba.

    "Apa salah kami hingga Mentawai dirundung bencana," kata Legen Satoinong, warga Desa Muntei, Mentawai, kepada Harian Singgalang di Mentawai.

    Pariwisata surfing dan budaya praktis menjadi andalan utama ekonomi Mentawai, setelah industri HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang sempat jaya di sana mulai redup.

    Dulu Mentawai sempat berfoya-goya dari hasil HPH, yang salah satu pemilik terbesarnya adalah keluarga Cendana. Kini era itu sudah habis dan Mentawai harus bekerja keras karena industri itu sudah ditutup.

    Memang masih ada angan Mentawai yang belum terwujud, yaitu potensi cadangan migas. Tapi itu tidak pernah atau setidaknya belum terbukti hingga kini.

    PT Pertamina era Hamayunbusa dan Baihaki Hakim pernah mencoba meneliti situs yang disebut Blok Mentawai itu, bersama dengan Blok Singkarak. Namun, tidak ada kepastian cadangan Blok Mentawai itu hingga kini.


    Dengan semua itu, kini Mentawai tidak boleh berputus asa. Mereka harus kuat untuk bertahan. Bencana Tsunami memang memilukan, tapi bisa juga menjadi pelecut agar warganya segera bangkit dan bekerja lebih keras untuk mengejar kemajuan, seperti tanah tepian lain di wilayah Ranah Minang.


      Waktu sekarang Tue Dec 06, 2016 9:57 am