Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    Keragaman Gaya Yang Membebaskan Spirit Wanita

    Share
    avatar
    flade

    947
    23.09.09

    Keragaman Gaya Yang Membebaskan Spirit Wanita

    Post  flade on Sat Nov 13, 2010 10:44 am

    Keragaman Gaya Yang Membebaskan Spirit Wanita

    Dewi Fashion Knights menggandeng lima desainer yang terpilih karena semangatnya



    Untuk ketiga kalinya Dewi Fashion Knights hadir sebagai bagian dari Jakarta Fashion Week 2010/2011. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dewi Fashion Knights kini juga menggandeng para perancang busana yang dianggap mewakili semangat kekinian serta memiliki visi yang turut membentuk masa depan mode Indonesia.

    Mengusung tema Style Spectrum, Dewi Fashion Knights menggandeng lima desainer yang terpilih karena semangatnya dalam berkarya untuk mengukuhkan esksistensi industri yang semakin enerjik. Mereka adalah Ali Charisma, Kiata Kwanda, Priyo Oktaviano, Stella Rissa, dan Tex Saverio.

    "Dewi Fashion Knights tahun ini tentang perbedaan. Kelima desainer yang terpilih memiliki karakter yang begitu kuat. Ini memperkaya keragaman gaya yang pada akhirnya membebaskan spirit wanita dalam berbusana. Keindahan perbedaan itulah yang kita rayakan tahun ini," ujar Ni Luh Sekar, Edikor in Chief Majalah Dewi di Jakarta Fashion Week 2010/2011, Jumat malam.

    Sebagai acara pamungkas sekaligus penutup JFW 10/11, Ali Charisma mengawali show Dewi Fashion Knights dengan karyanya yang bertema Culture War.
    Terinspirasi dari keraton Yogya pada zaman kolonial Belanda, Ali memadukan styling Jawa dengan berbagai corak budaya. Hasilnya, perkawinan antara gaya busana Jawa dengan busana militer pada materi sutra Thailand, satin, renda dan organza. "Ini seperti perang budaya," kata Ali.

    Disusul Kiata Kwanda, gaya rancangannya yang sangat Asia, karyanya selalu menekankan unsure-unsur simplisitas, kemurnian dan harmoni dengan ketelitian tinggi pada pengolahan detail.
    Mengedepankan tema Pure Line, ia bermain dengan materi sutra dalam palet hitam bersentuhan dengan warna putih. Kain-kain yang relative utuh dibentuk dengan teknik moulage, jatuh mengikuti alur tubuh. Art, unpredictable, mysterious feminity merupakan konsep dasar Pure Lines.
    Meski didominasi warna hitam, keindahan tubuh wanita tetap terlihat. Bahkan, siluet tersamar masih tetap memperlihatkan lekuk tubuh terutama bagian punggung yang hampir selalu terbuka. Dari 10 baju yang ditampilkan, beberapa di antaranya berhiaskan detail berupa tali yang dibungkus, pelapis (lining) berwarna kontras atau bermotif.

    Tak mau ketinggalan, Tex Saverio mengisnpirasikan karyanya melalui keindahan es. Dengan tema La Glacons yang berarti "The Icicles" busana karyanya mengedepankan kontradiksi karakter yang dimiliki oleh es dan inilah yang menjadi konsep dasar dari koleksi La Glacons.

    "Di satu sisi es memiliki karakter yang tenang, hening, dan terekesan light. Namun di sisi lain, es juga memiliki sifat berlawanan seperti keras, tajam, dan kokoh. Kekuatan dan keunikan karakter inilah yang saya tuangkan dalam sebuah koleksi yang menjadikan kontradiksi sifat dari es sebagai benang merahnya," ujar Tex.

    Berangkat dari karakter es yang kontradiktif, ia mengolah materi organza, tulle, taffeta hingga kulit sintetis yang diproses dengan berbagai teknik termasuk laser cutting.

    Berbeda dengan yang lainnya, Stella Rissa menampilkan koleksi yang menggambarkan berbagai tipikal kepribadian wanita namun tetap menampilkan kesan seksi dan menarik.
    Mengusung tema Woman’s Possesions, garis rancangannya ready to wear, bisa dipakai kapan saja. Materi halus mulai dari renda, sifon, tulle, gabardin, dan satin crepe dimaksudkan sebagai ekspresi eksternal dari kulit tubuh yang dilapisinya.

    Sementara itu, Priyo Oktaviano tak hanya inovatif menggali materi dan mengulik desain, peragannya juga dihiasi dengan teatrikal. Dan khusus untuk koleksi Dewi Fashion Knights kali ini "The Glory" menjadi tema yang diusungnya.
    Sebuah konsep simbolik tentang perjalanan hidup seorang wanita, yang tak selalu dipenuhi keindahan serta kelembutan, namun juga berisi jatuh bangun dalam mengahadapi cobaan hidup serta kemauan untuk terus belajar dari kegagalan demi mencapai satu tujuan kemenangan.

    Melalui dua detail yang bertolak belakang dalam koleksinya, ia memaparkan kompleksitas dualisme sifat seorang wanita. Sisi depan busana menggunakan bahan-bahan lembut seperti sutra, wol sutra, cashmere, dan bulu-bulu.

    Sementara itu, sisi belakang menggunakan bahan-bahan serupa tali tambang, raffia, dan aneka kancing melambangkan ketangguhan pada wanita dalam menyikapi kerasnya hidup.

    Warna beige dan putih pun menjadi warna pilihannya yang identik dengan kepolosan dan kesucian menjadi lambing mutlaknya peran spiritualiatas dalam kemenangan hidup seorang wanita.


      Waktu sekarang Sun Jul 23, 2017 3:50 am