Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Jenis - Jenis Kertas Yang Sering Digunakan Dalam Dunia Percetakan
Yesterday at 1:34 pm by flade

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

IKLAN ANDA


    Tertawa Itu Spontan, Menangis Itu Butuh Proses

    Share
    avatar
    clara

    945
    23.01.09

    Tertawa Itu Spontan, Menangis Itu Butuh Proses

    Post  clara on Wed Nov 17, 2010 9:52 am

    Tertawa Itu Spontan, Menangis Itu Butuh Proses


    Seseorang akan lebih mudah untuk ikut tertawa jika melihat orang lain tertawa, dibandingkan dengan ikut menangis ketika melihat orang lain sedih. Kenapa seperti itu? Karena tertawa itu spontan tapi untuk menangis butuh alasan.

    Berbagai ekspresi bisa ditunjukkan seseorang seperti tertawa, menangis, sedih atau marah. Studi terbaru menunjukkan bahwa seseorang dilahirkan untuk tertawa karena tertawa itu naluriah walaupun ketika lahir bayi pasti menangis.

    Peneliti menemukan tertawa itu sangat alamiah tanpa perlu alasan untuk melakukannya. Sedangkan menangis orang butuh alasan yang biasanya dipelajari melalui sebuah pengalaman atau butuh proses belajar.

    Ekspresi tertawa ketika menggelitik atau menertawakan sebuah lelucon menurut peneliti bersifat naluriah. Tapi vokalisasi emosional lainnya seperti menangis tidak bisa spontan.

    Peneliti Belanda melibatkan 16 sukarelawan yang setengahnya menderita gangguan pendengaran untuk membuat suara terhadap berbagai emosi seperti kesedihan, teror, kemarahan, kegembiraan, perasaan lega dan emosi lainnya tanpa menggunakan kata-kata.

    Lalu interpretasi emosi ini diputarkan di depan 25 orang yang semuanya memiliki pendengaran normal. Ternyata diketahui bahwa hanya tertawa dan mendesah saja yang bisa diidentifikasi dari orang yang memiliki gangguan pendengaran.

    Sedangkan suara lainnya seperti teriakan ketakutan dan isak tangis kesedihan akan lebih mudah ditebak ketika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki masalah pendengaran.

    Hasil ini menunjukkan bahwa tertawa adalah sesuatu yang sudah diketahui oleh orang sejak ia lahir, sedangkan emosi lainnya membutuhkan pembelajaran misalnya dari suara yang dikeluarkan.

    "Hal ini berarti untuk beberapa jenis suara emosional, mendengar suara orang lain adalah salah satu bagian penting dari pengembangan diri kita untuk bisa memahami orang," ujar peneliti Disa Sauter dari Max Planck Institute for Psycholinguistics di Nijmegen, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (16/11/2010).

    Sauter menuturkan hewan primata sekalipun seperti orangutan atau gorila akan tertawa jika tubuhnya digelitik. Hal ini berarti ekspresi emosi tertawa dan tersenyum tidak perlu dipelajari tapi sudah terjadi secara naluriah atau alami.

    Profesor Sophie Scott, seorang ahli biologis berbicara dari London's Institute of Neuroscience menuturkan temuan ini menunjukkan bahwa tertawa adalah salah satu cara berbeda dari bernapas, dan bukan cara lain dari berbicara.


      Waktu sekarang Sat Aug 19, 2017 3:13 am