Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Tertawa Itu Spontan, Menangis Itu Butuh Proses

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    Tertawa Itu Spontan, Menangis Itu Butuh Proses

    Post  clara on Wed Nov 17, 2010 9:52 am

    Tertawa Itu Spontan, Menangis Itu Butuh Proses


    Seseorang akan lebih mudah untuk ikut tertawa jika melihat orang lain tertawa, dibandingkan dengan ikut menangis ketika melihat orang lain sedih. Kenapa seperti itu? Karena tertawa itu spontan tapi untuk menangis butuh alasan.

    Berbagai ekspresi bisa ditunjukkan seseorang seperti tertawa, menangis, sedih atau marah. Studi terbaru menunjukkan bahwa seseorang dilahirkan untuk tertawa karena tertawa itu naluriah walaupun ketika lahir bayi pasti menangis.

    Peneliti menemukan tertawa itu sangat alamiah tanpa perlu alasan untuk melakukannya. Sedangkan menangis orang butuh alasan yang biasanya dipelajari melalui sebuah pengalaman atau butuh proses belajar.

    Ekspresi tertawa ketika menggelitik atau menertawakan sebuah lelucon menurut peneliti bersifat naluriah. Tapi vokalisasi emosional lainnya seperti menangis tidak bisa spontan.

    Peneliti Belanda melibatkan 16 sukarelawan yang setengahnya menderita gangguan pendengaran untuk membuat suara terhadap berbagai emosi seperti kesedihan, teror, kemarahan, kegembiraan, perasaan lega dan emosi lainnya tanpa menggunakan kata-kata.

    Lalu interpretasi emosi ini diputarkan di depan 25 orang yang semuanya memiliki pendengaran normal. Ternyata diketahui bahwa hanya tertawa dan mendesah saja yang bisa diidentifikasi dari orang yang memiliki gangguan pendengaran.

    Sedangkan suara lainnya seperti teriakan ketakutan dan isak tangis kesedihan akan lebih mudah ditebak ketika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki masalah pendengaran.

    Hasil ini menunjukkan bahwa tertawa adalah sesuatu yang sudah diketahui oleh orang sejak ia lahir, sedangkan emosi lainnya membutuhkan pembelajaran misalnya dari suara yang dikeluarkan.

    "Hal ini berarti untuk beberapa jenis suara emosional, mendengar suara orang lain adalah salah satu bagian penting dari pengembangan diri kita untuk bisa memahami orang," ujar peneliti Disa Sauter dari Max Planck Institute for Psycholinguistics di Nijmegen, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (16/11/2010).

    Sauter menuturkan hewan primata sekalipun seperti orangutan atau gorila akan tertawa jika tubuhnya digelitik. Hal ini berarti ekspresi emosi tertawa dan tersenyum tidak perlu dipelajari tapi sudah terjadi secara naluriah atau alami.

    Profesor Sophie Scott, seorang ahli biologis berbicara dari London's Institute of Neuroscience menuturkan temuan ini menunjukkan bahwa tertawa adalah salah satu cara berbeda dari bernapas, dan bukan cara lain dari berbicara.


      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 2:44 am