Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Sisi Positif Perceraian Bagi Anak

    Share

    niagara

    341
    11.06.09

    Sisi Positif Perceraian Bagi Anak

    Post  niagara on Fri Nov 19, 2010 6:12 am

    Sisi Positif Perceraian Bagi Anak



    "Jangan tinggal bersama demi anak-anak jika Anda hidup dalam perkawinan yang hancur,"

    Banyak pasangan suami istri yang terlibat konflik serius dalam rumah tangganya, memilih bertahan untuk tidak bercerai. Alasan mereka, demi anak-anak.

    Tapi, menurut penelitian terbaru di Amerika Serikat, ternyata anak-anak akan mengalami dampak yang buruk bila tetap hidup bersama orangtua yang bertengkar terus, seperti dikutip dari Timesofindia.

    Anak-anak dari keluarga yang sering berkonflik akan mengalami hubungan yang penuh konflik pula di masa dewasanya, jika dibandingkan dengan anak-anak yang orangtuanya sering bertengkar tapi memutuskan untuk bercerai.

    "Implikasi yang paling dasar adalah jangan tinggal bersama demi anak-anak jika Anda dalam perkawinan yang hancur," kata peneliti Constance Gager dari Montclair State University di New Jersey.

    Penelitian juga mengungkapkan, konflik antara orangtua yang terjadi secara konstan dapat menyebabkan hubungan anak-anak mereka di masa mendatang menjadi memburuk.

    "Kalau mereka terus menerus berada di tengah pertengkaran dan orangtua tetap tinggal bersama, itu berarti mereka akan selalu kena dampak konflik itu. Sedangkan jika orangtua mereka bercerai, setidaknya ada kesempatan bagi orangtua untuk mengurangi konflik setelah perceraian, " kata Gager.

    Beberapa penelitian juga mengungkapkan, anak yang memiliki orangtua bercerai memang lebih mungkin mengalami perceraian di masa dewasanya. Tapi, ini belum jelas apakah perceraian disebabkan oleh mereka sendiri atau memang konflik orangtua berdampak sangat besar terhadap hubungan anak-anaknya kelak.

    Untuk penelitian ini, Gager dan rekan-rekannya menganalisis hasil survei nasional yang melibatkan hampir 7.000 pasangan menikah dan anak-anak mereka di Amerika Serikat.
    Hasilnya, anak-anak yang orangtuanya sering bertengkar, namun akhirnya bercerai justru memiliki hubungan lebih baik di usia dewasanya nanti, dibandingkan anak-anak yang memiliki orangtua yang sering bertengkar tapi tidak memutuskan bercerai.

    Penelitian ini telah memperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan anak saat mereka menjadi dewasa. Misalnya, apakah anak-anak cenderung memiliki kesulitan bergaul dengan orang lain atau tidak.

    Tapi, tidak berarti bahwa perceraian tidak akan mempengaruhi anak-anak dalam jangka pendek, kata para peneliti. “Penelitian menunjukkan, anak-anak akan mengalami krisis selama satu atau dua tahun ketika orangtua bercerai. Tapi, mereka tabah dan bangkit kembali dari perceraian itu,” kata Gager.

    Penelitian ini dipresentasikan tahun lalu pada Pertemuan Tahunan Asosiasi Penduduk Amerika.


      Waktu sekarang Tue Sep 27, 2016 5:27 pm