Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    Benarkah Kelamin Anak Pengaruhi Risiko Cerai

    Share
    avatar
    niagara

    334
    11.06.09

    Benarkah Kelamin Anak Pengaruhi Risiko Cerai

    Post  niagara on Fri Nov 19, 2010 6:14 am

    Benarkah Kelamin Anak Pengaruhi Risiko Cerai



    Benarkah kelamin anak sulung menjadi faktor penentu perceraian?

    Sebuah penelitian mengungkap, pasangan memiliki anak sulung perempuan lebih banyak bercerai dibandingkan dengan mereka yang memiliki anak sulung laki-laki. Benarkah kelamin anak sulung menjadi faktor penentu perceraian?

    Pada penelitian tahun 2003, Gordon Dahl, seorang ahli ekonomi dari University of California, dan Enrico Moretti dari UC Berkeley, menemukan, perceraian yang dialami pasangan dengan anak sulung perempuan 5 persen lebih tinggi dibandingkan pasangan dengan anak pertama laki-laki.

    Persentasi meningkat menjadi 10 persen pada pasangan dengan tiga anak perempuan. Tapi, peneliti tidak berani menyimpulkan bahwa pasangan dengan anak sulung perempuan lebih berisiko mengalami perceraian.

    Terkait penelitian itu, sejumlah psikolog mempelajari pengaruh anak perempuan terhadap masalah orang tua. Mereka memperdebatkan kemungkinan seorang anak perempuan memberi dukungan sosial kepada ibunya untuk meninggalkan pernikahan yang buruk.

    Keputusan bercerai pasti tidak mudah dan membutuhkan pertimbangan yang panjang. Saat merasa pernikahannya tak bisa dipertahankan, wanita cenderung memutuskan cerai demi masa depan putrinya.

    "Terjebak dalam suatu pernikahan yang buruk, tampak sangat menyedihkan karena seorang wanita merasa dia mengajari anak perempuannya hal yang salah tentang cinta dan perkawinan," kata Susan Heitler, seorang psikolog, seperti dikutip dari Times of India.

    "Bercerai pasti akan sulit dalam prakteknya, tetapi dalam pikiran banyak wanita ia tidak ingin bertahan dalam pernikahan yang buruk karena itu akan menjadi contoh negatif bagi putrinya dalam hal perkawinan," Heitler menambahkan.

    Dalam penelitian Gordon Dahl juga terungkap wanita belum menikah yang hamil lebih mungkin meresmikan hubungan jika janin berkelamin laki-laki. Wanita bercerai dengan memiliki anak laki-laki juga cenderung lebih mudah menikah lagi.


      Waktu sekarang Thu Aug 17, 2017 6:46 pm