Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Benarkah Kelamin Anak Pengaruhi Risiko Cerai

    Share

    niagara

    341
    11.06.09

    Benarkah Kelamin Anak Pengaruhi Risiko Cerai

    Post  niagara on Fri Nov 19, 2010 6:14 am

    Benarkah Kelamin Anak Pengaruhi Risiko Cerai



    Benarkah kelamin anak sulung menjadi faktor penentu perceraian?

    Sebuah penelitian mengungkap, pasangan memiliki anak sulung perempuan lebih banyak bercerai dibandingkan dengan mereka yang memiliki anak sulung laki-laki. Benarkah kelamin anak sulung menjadi faktor penentu perceraian?

    Pada penelitian tahun 2003, Gordon Dahl, seorang ahli ekonomi dari University of California, dan Enrico Moretti dari UC Berkeley, menemukan, perceraian yang dialami pasangan dengan anak sulung perempuan 5 persen lebih tinggi dibandingkan pasangan dengan anak pertama laki-laki.

    Persentasi meningkat menjadi 10 persen pada pasangan dengan tiga anak perempuan. Tapi, peneliti tidak berani menyimpulkan bahwa pasangan dengan anak sulung perempuan lebih berisiko mengalami perceraian.

    Terkait penelitian itu, sejumlah psikolog mempelajari pengaruh anak perempuan terhadap masalah orang tua. Mereka memperdebatkan kemungkinan seorang anak perempuan memberi dukungan sosial kepada ibunya untuk meninggalkan pernikahan yang buruk.

    Keputusan bercerai pasti tidak mudah dan membutuhkan pertimbangan yang panjang. Saat merasa pernikahannya tak bisa dipertahankan, wanita cenderung memutuskan cerai demi masa depan putrinya.

    "Terjebak dalam suatu pernikahan yang buruk, tampak sangat menyedihkan karena seorang wanita merasa dia mengajari anak perempuannya hal yang salah tentang cinta dan perkawinan," kata Susan Heitler, seorang psikolog, seperti dikutip dari Times of India.

    "Bercerai pasti akan sulit dalam prakteknya, tetapi dalam pikiran banyak wanita ia tidak ingin bertahan dalam pernikahan yang buruk karena itu akan menjadi contoh negatif bagi putrinya dalam hal perkawinan," Heitler menambahkan.

    Dalam penelitian Gordon Dahl juga terungkap wanita belum menikah yang hamil lebih mungkin meresmikan hubungan jika janin berkelamin laki-laki. Wanita bercerai dengan memiliki anak laki-laki juga cenderung lebih mudah menikah lagi.


      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 7:17 pm