Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Bertengkarpun perlu Strategi

    Share

    mikelia

    96
    11.11.09

    Bertengkarpun perlu Strategi

    Post  mikelia on Mon Dec 13, 2010 1:53 pm


    Mungkinkah menjadikan pertengkaran sebagai salah satu lem perekat hubungan agar makin mesra dan saling memahami dengan pasangan?
    Perbedaan yang diwujudkan dalam pertengkaran atau perdebatan, merupakan bumbu-bumbu penyedap yang memiliki esensi dalam hubungan itu sendiri. Bukan justru menjadi jurang pemisah di antara kedua insan. Simak beberapa hal yang dapat memicu perbedaan yang ada dalam suatu hubungan menjadi sebuah pertengkaran dalam rumah tangga:
    Terus Menerus Lembur
    Salah satu hal yang menyebabkan terjadinya pertengkaran adalah persoalan pekerjaan. Tidak sedikit, lho, suami yang menginginkan istrinya hanya fokus mengurus kebutuhan keluarga. Nah, inilah salah satu sebab munculnya persoalan. Bagi istri yang sebelum menikah telah memiliki masa depan karier yang cemerlang, tentunya akan merasa sangat berat meninggalkan dunia kerja yang Anda cintai tersebut. Lagi-lagi, menyudutkan Anda untuk memilih antara cinta keluarga atau suami, bukan?
    Belum lagi ketika jam kerja Anda yang menuntut untuk pulang malam, pastinya menjadi pemicu utama perselisihan Anda dengan suami. Mungkin saja, suami Anda akan merasa disepelekan dan dinomor duakan dari pekerjaan Anda. Padahal, bagi Anda sendiri, tentu tidak bermaksud seperti itu.
    Solusinya:
    Ada baiknya sebelum melangkah ke pernikahan, diskusikan secara serius mengenai status pekerjaan yang menuntut Anda sering pulang malam. Selain itu bicarakan mengenai status pekerjaan calon suami, apakah hal itu juga mengganggu Anda ke depannya.
    Seringnya, ketika masa berpacaran, konsekuensi pekerjaan tidak dianggap serius. Padahal cinta perlu diiringi logika. Dan, bila pertengkaran muncul di tengah jalan pernikahan mengenai pekerjaan masing-masing, tidak perlu emosi. Toh, Anda berdua dari awal memang telah mengetahui risiko pekerjaan masing-masing, bukan?
    Untuk urusan pekerjaan dan jam pulang kantor yang tidak menentu, Anda wajib duduk bersama kembali dan merumuskan jalan keluarnya. Apakah Anda atau suami yang perlu mencari tempat kerja baru dengan jam kerja yang lebih masuk akal bagi keluarga dan menguntungkan keduanya.
    Jadi, rancanglah bagaimana kehidupan keluarga Anda ke depan dan perhitungkan segala kemungkinan, misalnya, bila anak-anak telah lahir. Makan malam romantis akan sangat membantu diskusi penting ini, lho!
    Tentang Anak
    Tidak mudah menjadi orang tua karena tantangannya datang dari berbagai sisi, baik itu sisi tanggung jawab hingga moral dan akhlak. Ini pula yang sering menyebabkan pertengkaran. Sebut saja, menentukan cara mengasuh, aturan, dan cara didik terhadap anak-anak. Bisa saja Anda dan pasangan memiliki pandangan berbeda.
    Jika pola asuh anak menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga Anda, maka satu hal yang wajib Anda ingat adalah jangan pernah bertengkar di depan anak-anak! Karena itu merupakan contoh dan pembelajaran negatif yang dapat dengan mudah diserap oleh anak Anda.
    Solusinya:
    Jika emosi meningkat, diam saja dulu. Jika suami sudah memulai dahulu dengan omelan, maka Anda perlu menahan diri lebih lagi, dan bisikkan kepada suami Anda, jangan di depan anak-anak, ya. Ingat, saling jaga mulut antara istri dan suami di depan anak sangatlah penting.
    Mulailah menjadi dewasa dalam segala hal. Atur nafas panjang, pergilah dari hadapan Si Kecil sesegera mungkin, apalagi bila ingin menangis kesal. Masuklah ke kamar mandi dengan berpura-pura ingin buang air kecil atau membersihkan muka.
    Setelah itu, ketika berdua saja dengan suami, gunakan kepala dingin karena ini menyangkut apa yang akan diterapkan kepada buah cinta. Mulai saja dengan senyuman hangat, atau bahkan dengan seringai senyum kocak agar suasana tegang berubah reda.
    Gengsi? Nah, kalau sudah urusan rumah tangga buat apa lagi gengsi! Pastinya setelah masalah selesai akan menjadi semakin lengket, perasaan respek juga akan muncul ketika Anda berdua berhasil melalui pertengkaran atau perbedaan pendapat tersebut. Nikmati saja seninya.
    You’re My Best Friend!
    Tidak semua teman dekat dari suami atau sahabat Anda cocok dengan Anda ataupun suami, bukan? Tidak sedikit juga, suami yang memiliki sahabat karib wanita, akan membandingkan Anda dengan sahabatnya yang telah dikenalkan jauh lebih dulu dari Anda. Dan, banyak juga dari suami yang biasanya tetap memberlakukan Anda sebagai istri, bukan sahabat tempat curhat seperti pada teman karibnya itu. Pastinya, Anda akan kesal karena dan merasa disepelekan bahkan muncul rasa cemburu berlebihan. Apalagi Anda dan sahabatnya bergender sama.
    Solusinya:
    Stop pikiran-pikiran negatif Anda karena akan mengotori akal waras Anda pada akhirnya. Bila Anda sudah kenal sebelumnya dengan sahabat suami, maka akan sangat baik bila Anda juga bersahabat dengannya. Bila belum, mintalah kepada suami untuk mengenalkannya. Undanglah sahabat ke rumah sehingga Anda bisa mengenalnya lebih jauh.
    Nah, secara bertahap mulailah menjadikan suami sebagai teman curhat bantal Anda. Sebelum tidur, bukalah obrolan ringan hingga persoalan apa yang dihadapi oleh suami. Jadilah pendengar yang baik. Ketika pasangan Anda telah terbuka, masuklah dengan saran dan dukungan positif yang dibutuhkan oleh suami. Hal tersebut, mungkin saja akan membuat suami Anda melirik kembali dengan kagum. So , menjadi sepasang suami istri tentunya lebih ideal jika menjadi sahabatnya juga, kan?
    Lagi-lagi Uang!
    Uang tak pelak sering menjadi pemicu yang sering juga melanda kericuhan dalam rumah tangga adalah masalah finansial. Misalnya dari suami yang bisa saja terlalu sibuk hingga sering amnesia memberikan uang belanja bulanan, hingga pada suami yang tidak menafkahi keluarga dengan baik.
    Meski Anda adalah wanita mandiri juga dibekali dengan penghasilan, apa jadinya jika suami tidak peduli atau tidak memberikan nafkah bagi Anda. Bisa-bisa bahtera yang dibangun akan rubuh seketika.
    Jadi, sebelum itu terjadi, rancang dengan matang kekuatan finansial dengan baik. Bagi yang sudah lama menikah namun masih juga berantakan finansialnya, tidak ada kata terlambat untuk menata kembali. Gunakan bantuan financial planner dan yang terpenting adalah komitmen dari Anda berdua.
    Solusinya:
    Masalah finansial sangat sensitif, sekalipun keluarga inti, jangan diumbar! Jika dilanggar, akan muncul rasa tidak respek dari pasangan. Atasi tanpa kemarahan, cukup dengan sindiran halus kepada suami sambil tersenyum manis. Pastinya ia juga akan tertawa karena bisa sampai lupa memberi uang belanja.
    Campur Tangan Orang Tua
    Yang tak kalah sensitif dalam persoalan rumah tangga adalah campur tangan berlebihan (sampai mengontrol hingga mendominasi) dari masing-masing orang tua pasangan. Pastinya makin lama menjadi tidak menyenangkan Rasanya mau ngamuk dan berkata tidak. Tapi, akan sangat menyakiti karena bagaimanapun mereka adalah orang tua kita juga.
    Solusinya:
    Silent is golden ! Cerna baik-baik sampai mana batas toleransi terhadap orang tua dalam mencampuri kehidupan rumah tangga. Jangan pernah melakukan sindiran terhadap suami mengenai turut campurnya orang tuanya. Karena sindiran, terkadang menjadi tidak lucu sebab ini menyangkut kredibilitas dari orang yang dikasihinya.
    Rancang liburan berdua dengan pasangan di akhir pekan yang menyegarkan pikiran. Inilah waktu yang tepat untuk membicarakan persoalan orang tua dan mertua ini. Dengan rileksnya pikiran, maka emosi akan bisa dikontrol menjadi lebih stabil ditambah dukungan dari suasana sekeliling yang mungkin sejuk, indah dan nyaman.
    Bukalah pembicaraan dengan tertawa riang, misalnya menceritakan pengalaman dengan mertua atau orang tua saat mereka berusaha turut campur urusan dapur Anda. Jadi dengan tertawa akan mengisyaratkan bahwa Anda hanya komplain biasa, tidak ada dendam di hati. Itu yang penting. Tanyakan pendapat suami Anda, dan kemukakan juga bila Anda ingin campur tangan mereka hanya sampai batas toleransi saja. Kesabaran diperlukan di sini, karena menyangkut pihak lain itu pastinya memerlukan proses agak lama.
    Selamat mencoba!

      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 11:34 pm