Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    A True Story

    Share

    Belldandy
    Moderator Umum

    1395
    Age : 33
    Lokasi : Pontianak
    19.01.09

    A True Story

    Post  Belldandy on Mon Mar 09, 2009 9:46 am

    Cerita yg Luar biasa, cerita yang mungkin sering terjadi dilanjutkan dengan
    adanya EGO yang KUAT diantara
    keduanya. Sehingga tidak terpikir jalan keluar



    JANGAN "NGAMBEK" BERKEPANJANGAN TERHADAP ORANG YANG DIKASIHI.



    Bagi yg sudah pernah baca, luangkan waktu untuk baca sekali lagi Ini adalah
    cerita sebenarnya ( diceritakan
    oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang )



    Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah
    tangga.Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan
    sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal
    bersama menghabiskan masa tuanya
    bersama kami, malah telah menghianati ikrar

    cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami
    setuju menjemput nenek di kampung
    utk tinggal bersama. Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia
    adalah satu-satunya harapan nenek,
    nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.



    Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg
    menghadap taman untuk nenek, agar
    dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri di depan kamar
    yg sangat kaya dgn sinar
    matahari,tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya
    dan memutar-mutar saya seperti
    adegan dalam film India dan berkata :"Mari, kita jemput nenek di
    kampung".


    Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya
    yg bidang, ada suatu perasaan
    nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa
    diangkat dan dimasukan kedalam
    kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba
    mengangkatku tinggi-tinggi diatas
    kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru sampai aku
    berteriak ketakutan baru
    diturunkan.Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.



    Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah
    dengan bunga segar, sampai akhirnya
    nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup
    foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga
    tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah
    dengan bunga segar membuat rumah terasa
    lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira." Nenek berlalu sambil
    mendumel, suamiku berkata sambil tertawa:
    "Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga."
    Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap
    kali melihatku pulang sambil membawa bunga,dia tidak bisa menahan diri untuk
    bertanya berapa harga bunga itu,
    setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengka n
    kepala. Setiap membawa pulang
    barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya ,ini berapa.Setiap aku
    jawab, dia selalu berdecak dengan
    suara keras.Suamiku memencet hidungku sambil berkata:"Putriku, kan kamu
    bisa berbohong.Jangan katakan
    harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku
    mulai terusik.


    Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan
    sarapan pagi untuk dia sendiri, di
    mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat
    memalukan. Di meja makan, wajah nenek
    selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu
    membuat bunyi-bunyian dengan alat
    makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes. Aku adalah
    instrukstur tari, seharian terus menari
    membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku
    dengan bangun
    pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur,
    tetapi makin dibantu aku menjadi
    semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas
    belanjaan, dikumpulkan bisa untuk
    dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik,
    dimana-mana terlihat kantong
    plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.



    Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci,
    agar supaya dia tidak
    tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.Suatu
    hari, nenek mendapati aku
    sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil
    membanting pintu dan menangis. Suamiku
    jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba
    bermanja-manja dengan dia, tetapi dia
    tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia
    melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu
    biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"



    Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama, suasana mejadi
    kaku. Suamiku menjadi sangat
    kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan
    suamiku masuk ke dapur, setiap pagi
    dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu
    kebahagiaan terpancar di wajahnya jika
    melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku
    sewaktu melihat padaku,
    seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga
    suasana pagi hari tidak terganggu,
    aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami
    berkata:"Lu Di, apakah kamu
    merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah
    makan di rumah?" sambil
    memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua
    belah pipiku. Dan dia akhirnya
    berkata: "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap
    pagi." Aku mengiyakannya dan kembali
    ke meja makan yg serba canggung itu.



    Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu
    perasaan yg sangat mual menimpaku,
    seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar
    mandi, sampai disana aku segera
    mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri
    didepan pintu kamar mandi dan
    memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan
    nenek dan berkata-kata dengan
    bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh
    bukan sengaja aku berbuat
    demikian!. Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan
    suamiku, nenek melihat kami dengan
    mata merah dan berjalan menjauh??suamiku

    segera mengejarnya keluar rumah.

    Belldandy
    Moderator Umum

    1395
    Age : 33
    Lokasi : Pontianak
    19.01.09

    Re: A True Story

    Post  Belldandy on Mon Mar 09, 2009 9:47 am

    Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari
    suamiku tidak pulang ke rumah dan
    tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah
    ini, aku sudah banyak mengalah,
    mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu
    makan ditambah lagi dengan
    keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman
    sekerjaku berkata: "Lu Di, sebaiknya
    kamu periksa ke dokter."Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil.
    Aku baru sadar mengapa aku mual-mual
    pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan
    nenek sebagai orang yg
    berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?



    Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia
    berubah drastis, muka kusut kurang
    tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan
    memanggilnya. Dia melihat ke arahku
    tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan
    kebencian dan itu melukaiku. Aku
    berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil
    taksi. Padahal aku ingin
    memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku
    akan diangkatnya tinggi-tinggi
    dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi
    kenyataan. Didalam taksi air mataku
    mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?



    Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan
    sinar matanya yg penuh dengan
    kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara
    orang membuka laci, aku menyalakan
    lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan
    buku tabungannya. Aku nenatapnya
    dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera
    berlalu. Sepertinya dia sudah
    memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat
    begini dia masih bisa membedakan
    antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.



    Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan
    masalah ini, aku akan membicarakan
    semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu
    dengan seketarisnya yg melihatku
    dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan
    lalu lintas dan sedang berada di
    rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat
    menemukannya, nenek sudah
    meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad
    nenek yg terbujur kaku. Sambil
    menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
    Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku
    tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan
    pandangan penuh dengan kebencian.


    Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek
    berjalan ke arah terminal, rupanya dia
    mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari
    makin cepat sampai tidak melihat
    sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa
    pandangan suamiku penuh dengan
    kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar,
    jika........ ....dimatanya, akulah
    penyebab kematian nenek.



    Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh
    dengan bau asap rokok dan alkohol.
    Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin
    menjelaskan bahwa semua ini
    bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak.
    Tetapi melihat sinar matanya, aku
    tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki
    olehnya walaupun ini bukan salahku.
    Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak
    mengenal satu sama lain. Dia pulang
    makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.



    Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan
    kisi-kisi jendela, aku melihat
    suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis
    dengan mesra. Aku tertegun dan
    mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan mereka
    sambil menatap tajam kearahnya.
    Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus
    berkata apa. Sang gadis
    melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh
    suamiku dan menatap kembali ke
    arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku
    terasa sangat keras, setiap detak
    suara seperti suara menuju kematian.



    Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin
    aku akan jatuh bersama bayiku
    dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan
    padaku apa yang telah terjadi.
    Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga

    sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu
    pulang ke rumah, aku mendapati
    lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang
    keperluannya. Aku tidak ingin
    menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan
    semua ini. Tetapi itu tidak
    terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.



    Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali
    melihat sepasang suami istri
    sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman
    menyarankan agar aku membuang saja bayi
    ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya.
    Hitung-hitung sebagai pembuktian
    kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.



    "Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu.
    Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada
    selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu.2
    bulan hidup sendiri, aku sudah
    bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya:
    "Tunggu sebentar, aku akan segera
    menanda tanganinya"" .Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan
    demikian juga aku. Aku berkata pada diri
    sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi
    aku terus bertahan agar air
    mata ini tidak keluar.

    Belldandy
    Moderator Umum

    1395
    Age : 33
    Lokasi : Pontianak
    19.01.09

    Re: A True Story

    Post  Belldandy on Mon Mar 09, 2009 9:47 am

    Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan
    perutku yg agak membuncit.
    Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan
    kepadanya."" Lu Di, kamu hamil?""
    Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku
    tidak bisa lagi membendung air
    mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi
    tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi".
    Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan.
    Perlahan-lahan dia membungkukan badannya
    ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk
    hatiku, semua sudah berlalu, banyak
    hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali."Entah sudah berapa
    kali aku mendengar dia mengucapkan kata:
    "Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya
    tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe
    itu tidak akan pernah aku lupakan.Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg
    menganga. Semua ini adalah
    sebuah akibat kesengajaan darinya.



    Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan
    pernah kembali. Hanya sewaktu
    memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku
    dingin bagaikan es, tidak pernah
    menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah
    pemberiannya tidak juga berbicara lagi
    dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah
    berlalu, harapanku telah lenyap tidak
    berbekas.



    Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke
    ruang tamu, dia terpaksa
    kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar
    nenek tetapi aku tidak perduli.
    Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan
    berpura-pura sakit sampai aku
    menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil
    tertawa terbahak-bahak. Dia
    lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi
    yg aku miliki?


    Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai
    anakku lahir. Hampir setiap hari
    dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan
    buku-buku bacaan untuk
    anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan
    barang-barang. Aku tahu dia mencoba
    menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri
    dalam kamar, malam hari dari
    kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi
    tergila-gila chatting dan
    berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.



    Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku
    berteriak dengan suara yg keras. Dia
    segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah
    yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku
    digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia
    mengenggam dengan erat tanganku,
    menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku
    segera digendongnya menuju ruang
    bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam
    dekapannya. Sepanjang hidupku,
    siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?



    Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih
    sayang saat aku didorong menuju
    persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar
    dari ruang bersalin, dia memandang
    aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia.
    Aku memegang tangannya, dia
    membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab
    ke lantai. Aku berteriak histeris
    memanggil namanya.



    Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya???aku pernah
    berpikir tidak akan lagi
    meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian,
    aku tidak pernah merasakan
    sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium
    mematikan, bisa bertahan sampai hari
    ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi?
    5 bulan yg lalu kata dokter,
    bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan
    nasehat perawat, aku segera
    pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.



    Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih
    berpikir dia sedang
    bersandiwara????Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg
    ditujukan kepada anak kami."Anakku,
    demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah
    harapanku. Aku tahu dalam hidup ini,
    kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia
    jika aku bisa melaluinya
    bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Di dalam komputer
    ini, ayah mencoba memberikan
    saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu
    boleh mempertimbangkan saran
    ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu
    hidup selama bertahun -tahun. Ayah
    sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg
    paling mencintaimu dan dia adalah
    orang yg paling ayah cintai".



    Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai
    kuliah, semua tertulis dengan
    lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku,
    dapat menikahimu adalah hal yg paling
    bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah
    memberitahumu tentang
    penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya.
    Kasihku, jika engkau menangis sewaktu
    membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu
    padaku selama ini. Hadiah-hadiah
    ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada
    bungkusan hadiah tertulis semua tahun
    pemberian padanya".



    Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak
    kami dan membaringkannya di atas
    dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah
    anak kita. Aku mau dia merasakan kasih
    sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka
    matanya, tersenyum... ......... ..anak
    itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan
    ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu
    aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil
    berurai air mata........ .........
    ...



    Teman-teman terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua
    bisa menyimak pesan dari cerita
    ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih
    sembab sehabis menangis, ingatlah
    pesan dari cerita ini :"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara
    kalian yg saling mengasihi, sebaiknya
    utarakanlah jangan simpan di dalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok?
    Ada sebuah pertanyaan: Jika kita
    tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah
    kita perbuat? atau apa yg telah
    kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg
    akan kita lakukan sebelum kita
    menyesalinya seumur hidup.

    lea

    383
    Age : 31
    08.03.09

    Re: A True Story

    Post  lea on Mon Mar 09, 2009 11:22 am

    postingan bagus banget 0467

    hercules
    Admiral

    667
    Age : 45
    Lokasi : Palembang
    23.01.09

    Re: A True Story

    Post  hercules on Mon Mar 09, 2009 11:04 pm

    Aduh duh. bagus sekali cerita ini.
    Ram Punjabi mesti buat sinetron kaya ini,versi asia banget.

    btw,idup ini complicated banget.
    Manusia sering berbuat salah hanya karena TIDAK TAHU.
    Seandainya manusia tahu semua hal mungkin hidup manusia tak ada yg salah paham & tak ada peperangan di bumi ini.

    TORPEDO
    Moderator Entertainment

    1831
    Age : 42
    Lokasi : Bekasi
    20.01.09

    Re: A True Story

    Post  TORPEDO on Tue Mar 10, 2009 9:22 am

    hiks... hiks... :fann6:

    d3sy

    179
    Age : 23
    Lokasi : Tambora
    19.02.09

    Re: A True Story

    Post  d3sy on Tue Mar 10, 2009 9:35 am

    TORPEDO wrote:hiks... hiks... :fann6:

    ketawa22 ketawa22 ketawa22
    rupanya om torpedo bisa sedih juga ya

    KaWaii
    Mod Motivasi

    421
    Age : 25
    Lokasi : Kal-Bar
    21.02.09

    Re: A True Story

    Post  KaWaii on Tue Mar 10, 2009 10:05 am

    Nice Banget!!! :b678:


    _________________
    Tak ada kejutan yang lebih ajaib daripada mengetahui bahwa diam-diam kita dicintai ; hal itu seperti merasakan tangan Tuhan dibahu kita.

    genit

    138
    Age : 42
    Lokasi : Sunter
    26.02.09

    Re: A True Story

    Post  genit on Tue Mar 10, 2009 12:07 pm

    KaWaii wrote:Nice Banget!!! :b678:

    signature adik KaWaii tuh buat om berdecak kagum :geek1:

    Belldandy
    Moderator Umum

    1395
    Age : 33
    Lokasi : Pontianak
    19.01.09

    Re: A True Story

    Post  Belldandy on Wed Mar 18, 2009 2:15 pm

    Semangkuk Nasi Putih.....
    (Based on True story)

    Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.
    "Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."

    Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan,memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.
    Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :
    "dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."

    Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum :
    "Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!"

    Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : "kuah sayur gratis."
    Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih....

    "Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

    "Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !"

    Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota , demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

    Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.
    Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi ?

    Suaminya kemudian membisik kepadanya :

    "Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain
    hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."

    "Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."
    "Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi striku ?"
    Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

    "Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka.

    Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

    "Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat!" katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.
    Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.
    Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

    Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih,
    pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan
    mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

    Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
    "Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian
    kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."

    "Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

    "Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami,
    direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."

    Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya.

    Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan
    sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia
    tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang. Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkukdalam-dalam berkata kepada mereka :"bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"

    Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adala suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.


    TERHARU?, ayo mulai jangan sungkan untuk berbuat baik hari ini...

    You never know... what will happens tommorow?

    hercules
    Admiral

    667
    Age : 45
    Lokasi : Palembang
    23.01.09

    Re: A True Story

    Post  hercules on Wed Mar 18, 2009 10:45 pm

    kebaikan itu tak terbatas
    Bisa dalam bentuk apa aj

    mirna

    36
    Age : 26
    02.03.09

    Re: A True Story

    Post  mirna on Sat Mar 21, 2009 12:17 pm

    hercules wrote:kebaikan itu tak terbatas
    Bisa dalam bentuk apa aj

    76399

    Sponsored content

    Re: A True Story

    Post  Sponsored content Today at 9:20 pm


      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 9:20 pm