Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Jangan Biasakan Memotong Tablet Obat

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    Jangan Biasakan Memotong Tablet Obat

    Post  clara on Mon Jan 10, 2011 6:26 am

    Kebiasaan Memotong Tablet Banyak yang Tidak Tepat Dosis


    Terkadang tablet harus dipotong atau dibagi jika dosis yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan. Namun membagi tablet hingga diperoleh ukuran yang sama besar tidak mudah dilakukan, umumnya terdapat selisih bobot rata-rata 15 persen dari yang diharapkan.

    Bukan hanya pasien awam yang sering memotong tablet, dokter sekalipun sering meresepkan obat dengan aturan pakai 1/2 tablet atau 1/4 tablet. Bisa dibayangkan jika ukuran tablet sangat kecil, betapa sulitnya mendapatkan 4 potongan dengan ukuran sama besar.

    Pengamatan visual saja tidak bisa diandalkan untuk memperkirakan kesamaan ukuran pada potongan-potongan tablet. Padahal jika obat memiliki indeks terapi yang sempit, selisih beberapa miligram saja bisa menyebabkan obat tidak berfek atau bahkan berubah jadi racun.

    Ketidakakuratan pemotongan manual dibuktikan dalam sebuah penelitian di Ghent University baru-baru ini. Penelitian yang dipimpin Dr Charlotte Verrue ini melibatkan 5 relawan yang dibekali 3 jenis alat bantu untuk memotong tablet yakni gunting, pisau dapur dan alat khusus untuk membagi tablet.

    Total ada 3.600 tablet yang harus dipotong oleh relawan, seluruhnya tersedia dalam 8 ukuran yang berbeda. Jenis tablet yang digunakan sangat beragam mulai dari tablet obat untuk Parkinson, serangan jantung, thrombosis hingga arthritis.

    Penggunaan alat pemotong khusus terbukti meningkatkan akurasi pemotongan, meski bukan berarti potongan yang dihasilkan sudah 100 persen sama besar. Penggunaan alat khusus tersebut masih memberikan selisih bobot hingga 15 persen, namun sudah lebih baik dibanding gunting dan pisau dapur.

    Ukuran tablet yang dipotong dengan gunting dan pisau dapur memiliki selisih bobot yang lebih beragam. Sebanyak 31 persen potongan tablet yang dihasilkan punya selisih rata-rata 21 persen, bahkan 14 persen di antaranya punya selisih bobot lebih dari 25 persen.

    "Bagaimanapun kebiasaan memotong tablet masih sering dilakukan dengan berbagai alasan. Misalnya agar lebih mudah ditelan, atau karena memang tidak ada dosis yang sesuai dengan kebutuhan," ungkap Dr Verrue sperti dikutip dari Health24.

    Mengingat adanya risiko perbedaan ukuran pada potongan tablet, kebiasaan membagi tablet sebaiknya dihindari. Kalaupun terpaksa, perhatikan obat apa yang akan dipotong karena beberapa jenis tablet memang tidak boleh dipotong sama sekali.

    Dikutip dari IPC-INC.com, berikut ini adalah jenis-jenis tablet yang tidak boleh dipotong:

    • Tablet salut enterik, yakni tablet yang didesain untuk hancur di usus

    • Tablet salut film, yakni tablet yang didesain untuk melepaskan obat secara perlahan

    • Tablet dengan indeks terapi sempit seperti obat asma

    • Pil KB.


      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 3:13 am