Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Pria Bisa Alergi dengan Sperma Sendiri

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    Pria Bisa Alergi dengan Sperma Sendiri

    Post  clara on Thu Jan 27, 2011 12:53 am

    Pria Bisa Alergi dengan Sperma Sendiri


    Sindrom misterius menyebabkan pria bisa terserang flu setiap kali orgasme. Penyebabnya tak lain adalah alergi terhadap spermanya sendiri dan hanya bisa diatasi dengan imunoterapi yang memakan waktu cukup lama yakni sekitar 5 tahun.

    Post orgasmic illness syndrome (POIS) atau sindrom penyakit setelah orgasme ditandai dengan munculnya gejala-gejala mirip flu setiap kali mengalami orgasme dab bisa berlangsung hingga sepekan. Di antaranya demam tinggi, hidung meler dan mata pedas.

    Penyebabnya adalah kelainan autoimun yang memicu reaksi yang tidak diharapkan ketika terlibat kontak dengan sperma sendiri. Kelainan ini hanya bisa diatasi dengan terapi hipersensitisasi, yakni menyuntikkan sperma sendiri dalam tingkat pengenceran tertentu selama kurang lebih 5 tahun.

    Meski beberapa jurnal ilmiah telah mencatat kasus-kasus semacam ini sejak tahun 2002, hingga kini belum banyak penelitian yang mendalami POIS. Pasalnya, kebanyakan pria merasa malu jika harus memeriksakan diri saat mengalami gejala tersebut.

    Penelitian terbaru tentang POIS dilakukan belum lama ini oleh Prof Marcel Waldinger, ahli farmakologi seksual dari Utrecht University di Belanda. Dalam penelitian tersebut, ia melibatkan 45 pria dewasa yang didiagnosis menderita POIS.

    "Saat diminta melakukan masturbasi, para partisipan masih baik-baik saja. Gejala itu baru muncul setelah mengalami ejakulasi, beberapa pria mengalaminya kurang dari 1 menit kemudian," ungkap Prof Waldinger seperti dikutip dari Reuters.

    Hasil pemeriksaan pada 33 partisipan yang setuju menjalani skin-prick test menunjukkan 29 pria atau 88 persen di antaranya mengalami gejala yang mengindikasikan reaksi autoimun. Mekanisme terjadinya reaksi ini hampir sama dengan reaksi alergi pada umumnya, hanya sedikit lebih parah.

    Temuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan pemberian imunoterapi yang dinamakan terapi hipersensitisasi. Caranya dengan mengencerkan sperma hingga kadar tertentu, lalu menyuntikkannya secara teratur di bawah permukaan kulit.

    "Prosesnya sangat lambat. Beberapa ada yang sudah membaik dalam 1-3 tahun, namun ada juga yang sampai 5 tahun," tambah Prof Waldinger.



      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 1:22 am