Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Anak Laki Paling Tidak Siap Menghadapi Perceraian Orangtua

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    Anak Laki Paling Tidak Siap Menghadapi Perceraian Orangtua

    Post  clara on Fri Jan 28, 2011 5:58 am

    Anak Laki Paling Tidak Siap Menghadapi Perceraian Orangtua


    Perceraian yang dilakukan oleh orangtua pasti akan berdampak pada anak-anaknya. Tapi studi terbaru menunjukkan efek perceraian akan lebih mempengaruhi anak laki-laki dibanding perempuan.

    Anak laki-laki yang belum berumur 18 tahun biasanya lebih terpukul menghadapi perceraian orangtua dan lebih besar berpikir untuk melakukan hal-hal negatif.

    Studi yang dilaporkan dalam jurnal Psychiatric Research mencatat anak laki-laki yang kurang 18 tahun berpikiran ingin bunuh diri 3 kali lipat ketika orangtuanya bercerai. Sedangkan perempuan hanya 2 kali lipat yang berpikiran seperti itu.

    Selama ini diketahui bahwa perceraian kemungkinan memiliki dampak yang lebih besar pada anak perempuan dibanding laki-laki karena perempuan cenderung lebih rentan terhadap pikiran depresi dan bunuh diri. Namun hasil studi justru menunjukkan hal sebaliknya.

    Dr Esme Fuller-Thompson dari University of Toronto menuturkan dalam kebanyakan kasus perceraian, seorang ibu memperoleh hak asuh terhadap anak-anaknya dan kurang melakukan kontak teratur dengan ayahnya. Kondisi ini akan mempengaruhi emosional dan juga perkembangan anak terutama bagi anak laki-laki.

    "Hilangnya peran laki-laki untuk anak akan mempengaruhi kesejahteraannya. Figur ayah yang positif sangat penting bagi anak laki-laki dalam hal mengembangkan identitas gender, belajar cara mengatur emosi dan meningkatkan kesehatan mentalnya," ungkapnya, seperti dikutip dari NYTimes.

    Dr Fuller-Thompson menambahkan umumnya anak laki-laki lebih banyak bungkam dan menyimpan sendiri kesedihannya, sedangkan anak perempuan lebih mungkin untuk mengungkapkannya.

    Selain itu laki-laki cenderung enggan untuk meminta bantuan sehingga ia lebih rentan terhadap penyalahgunaan narkoba atau pikiran bunuh diri.

    "Laki-laki selalu disosialisasikan untuk menjadi kuat dan bukan untuk menunjukkan kelemahan atau perasaannya, karenanya ia lebih banyak diam," ujar Dana Alonzo, asisten profesor dari Columbia University School of Social Work.

    Efek dari perceraian yang dilakukan oleh orangtua bisa berpengaruh terhadap anak-anak, seperti menimbulkan stres, kesehatan fisik dan mental yang memburuk, kesulitan di sekolah dan berpengaruh pada penurunan potensi penghasilannya saat dewasa. Selain itu anak-anak dari perceraian cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pernikahan.


      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 11:35 am