Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Tradisi Ciam Si, Meramal Peruntungan pada Perayaan Imlek di Bali

    Share

    niagara

    341
    11.06.09

    Tradisi Ciam Si, Meramal Peruntungan pada Perayaan Imlek di Bali

    Post  niagara on Thu Feb 03, 2011 10:33 am

    Tradisi Ciam Si, Meramal Peruntungan pada Perayaan Imlek di Bali


    Klenteng Lie Gwan Kiong di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki keunikan dalam setiap menyambut Tahun Baru Imlek. Tradisi Ciam Si, meramal peruntungan dilakukan secara turun temurun selama 137 tahun.

    Ciam Si yang merupakan ramalan kuno untuk mengetahui peruntungan dalam satu tahun masih menjadi tradisi yang unik di Klenteng Lie Gwan Kiong yang terletak di bekas Pelabuhan Buleleng Bali Utara. Tradisi ini hanya boleh dilakukan sekali dalam setahun oleh Loucu dan Touke (sebutan pengurus klenteng,red), itu pun dilakukan saat malam pergantian Tahun Baru Imlek setelah umat melakukan persembahyangan. Tradisi ini telah dilakukan sejak 137 tahun atau saat Klenteng Lie Gwan Kiong didirikan pada tahun 1874.

    Ramalan Ciam Si yang diyakini mampu memberikan petunjuk peruntungan dalam setahun tersebut biasanya selalu ditunggu oleh umat Tri Dharma yang terdiri dari Budha, Konghucu dan Tao di Buleleng, untuk menjalankan usaha ekonomi agar lancar dan mendapat keuntungan.

    Rohaniawan Klenteng Lie Gwan Kiong, Hendarto Herlim yang memiliki nama Tionghoa Yong Ki mengatakan, Ciam Si memang dilakukan turun temurun, sejarah awal dilaksanakan Ciam Si di Lie Gwan Kiong tidak diketahui secara pasti, namun diyakini tradisi itu dilakukan sejak berdirinya Klenteng yang berhadapan dengan Pantai Buleleng.

    "Sudah ada sejak dulu, turun temurun tradisi Ciam Si ini dilakukan, kita meminta petunjuk kepada para Dewa dan Dewi terkait peruntungan usaha ekonomi, baik jualan kain, palawija, minyak mapun buah-buahan, dari petunjuk itu umat meyakini jenis usaha yang dilakukan," ujar Yong Ik.

    Ciam Si yang dilakukan setelah pukul 00.00 Wita, diawali dengan mengocok sejumlah batang bambu kecil yang berisi angka dalam sebuah tempat khusus dan dilakukan Loucu, dari puluhan bambu, satu bambu akan terlempar. Setelah terlempar satu bambu, Loucu melemparkan dua buah keping kayu untuk mendapat persetujuan dari para Dewa dan Dewi yang bersemayam di Klenteng.

    "Kalau dua kayu dilempar menunjukan sisi yang berbeda, itu artinya bambu yang terlempar mendapat persetujuan dari dewa dan dewi," kata Yong Ik.


      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 1:02 pm