Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Tue Sep 27, 2016 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    “Sate Bulayak”, Nikmatnya Khas di Alam Terbuka

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    “Sate Bulayak”, Nikmatnya Khas di Alam Terbuka

    Post  clara on Wed Feb 16, 2011 6:48 am

    “Sate Bulayak”, Nikmatnya Khas di Alam Terbuka


    MASYARAKAT di Kota Mataram dan pulau Lombok secara umum, tentu tak asing dengan sate bulayak. Ini nama panganan khas Lombok yang terdiri dari sate daging sapi, atau daging ayam, yang disajikan bersama Bulayak; sejenis lontong tapi bungkusnya lilitan daun enau atau daun kelapa.

    Dalam satu dekade terakhir, sate bulayak seakan membumi, menjadi menu khas yang tersedia di semua lokasi wisata di pulau Lombok. Mulai dari pemandian alam hingga ke Pantai Senggigi yang ternama.

    Di Taman Udayana, misalnya, sejak sore hingga larut malam, sate bulayak bisa dinikmati. Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di sana menyediakannya.

    Taman seluas lebih dari dua hektare ini disediakan Pemerintah Kota Mataram, untuk taman rekreasi kota. Jaraknya hanya 1 km dari pusat Kota, dan hanya sekitar 300 meter, arah utara dari Bandara Selaparang, Bandar Udara di kota Mataram.

    “Makanya, kadang ada juga rombongan dari Jakarta yang langsung kemari mencicipi sate bulayak, sebelum mencari penginapan,” kata Sumiatun (25), salah seorang pedagang sate bulayak di Taman Udayana.
    Memesan sate bulayak, ternyata butuh sedikit kesabaran. Apalagi kalau pengunjung sedang banyak. Maklum, makanan ini tergolong cepat saji. Hanya nikmat disantap di saat hangat. Padahal, butuh waktu 15 sampai 20 menit untuk menyajikan satu paket sate bulayak.

    Hmm.., aroma yang tercium bisa membuat perut lebih dulu keroncongan, sebelum lidah mencicipi nikmatnya sate bulayak. Satu porsi sate bulayak selalu terdiri dari sepiring sate irisan daging sapi atau ayam, satu piring berisi beberapa potong bulayak, dan satu piring bumbu pelalah, atau bumbu sambalnya.

    Sate dagingnya bertekstur lebih lembut, dan ukurannya lebih kecil dibanding dengan sate kambing khas Madura. Selain daging, ada juga pilihan lain yakni jeroan, biasanya sate irisan usus sapi. Tusukan sate pun menggunakan lidi daun kelapa, bukan irisan bambu. Sate kemudian dipanggang menggunakan bara arang batok kelapa, ketika ada yang memesan.

    Bumbu pelalah untuk sate bulayak terbuat dari sambal cabai merah, rempah-rempah, dan santan, sekilas mirup bumbu kari yang kental. Ada juga beberapa pedagang menambahnya dengan kacang tanah untuk menambah cita rasa.

    Yang tak boleh ketinggalan, tentu bulayaknya. Ini juga yang membuat khas. Bulayak adalah beras yang ditanak dalam bungkus daun kelapa atau janur. Beda dengan ketupat yang janurnya dianyam membentuk kubus, bulayak dibungkus dengan daun kelapa melilit-lilit seperti spiral. Panjangnya sekitar 10 centimeter.

    Sama seperti Sumiatun, semua pedagang di Taman Udayana tidak boleh membangun bangunan permanen, demi menjaga keasrian taman Udayana. Tiap pedagang hanya boleh menempatkan sebuah etalase kayu dan gerobak kecil kaki lima, sebagai tempat meracik menu dan memajang softdrink.

    Di depan gerobak para pedagang, di taman rerumputan, meja-meja kayu berukuran satu meter kali 80 centimeter disusun rapi berjarak-jarak. Ini tempat lesehan bagi pengunjung yang hendak menikmati hidangan sate bulayak. Alas duduknya tikar atau terpal plastik. Satu meja bisa untuk dua sampai empat orang. Waktu saya dan keluarga memesanya, saat itu sedikit lebih cepat. Hanya dalam 12 menit, satu porsi sate bulayak buatan Sumiatun sudah tersaji. Makan sate bulayak unik juga. Membuka lilitan bulayak harus dari ujung yang tepat, jika tak ingin terhambat. Selanjutnya, tinggal pilih sesuai selera, bulayaknya atau satenya dulu yang dicocolkan di bumbu pelalah, lalu disantap.

    Sejarah Nan Terlupakan

    Bukan hanya nikmatnya yang menggoda, sate bulayak juga punya makna filosofi yang kuat untuk semangat persatuan dan kesatuan masyarakat di Lombok. Menu ini tak bisa dipisahkan, antara sate daging, bulayak, dan bumbunya. Bukan sate bulayak namanya, kalau hanya makan sate dagingnya saja, atau hanya makan bulayak dan bumbunya saja.

    “Tadinya saya pikir sate bulayak ini ya bulayak yang ditusuk dan dipanggang. Tapi ternyata paket sate dan bulayak,” kata Andi, mahasiswa sebuah universitas di Yogyakarta yang berlibur ke Lombok.
    Andi juga baru tahu kalau bulayak itu adalah penganan beras semacam ketupat dan lontong. Tadinya ia menyangka bulayak adalah sebutan untuk jenis hewan tertentu di Lombok yang dagingnya bisa dimakan.
    Sate bulayak memang penuh misteri, termasuk tentang asal-usul sejarahnya. Meski tersedia di hampir di seluruh lokasi wisata di pulau Lombok, ternyata tidak semua pedagang sate bulayak tahu sejarahnya.

    Para pedagang sate bulayak hanya bisa mengamini bahwa makanan khas Lombok ini, berasal dari Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Ya, di Taman Narmada, sekitar 25 Km arah Timur dari Kota Mataram, puluhan pedagang sate bulayak juga menggelar dagangannya. Taman Narmada merupakan salah satu peninggalan sejarah abad ke 18 ketika kekuasaaan Kerajaan Karang Asem, Bali, masih berpengaruh di Lombok.
    Berbeda dengan Taman Udayana, Taman Narmada lebih luas, dilengkapi sejumlah pancoran pemandian. Sentuhan arsitektur cagar budaya ini juga didominasi arsitektur khas Bali. Konon, taman ini merupakan miniature Danau Segara Anak, sebuah danau di gunung Rinjani.

    Sejak ditetapkan menjadi salah satu destinasi pariwisata Lombok tahun 1970-an silam, Taman Narmada juga menjadi tempat masyarakat sekitar menggantungkan ekonomi. Termasuk para pedagang sate bulayak.
    “Dulu hanya di Taman Narmada ini ada jualan sate bulayak. Tapi sekarang sudah menyebar sampai ke Kota, di Senggigi juga ada,” kata Ibu Siti (58).

    Siti, warga Desa Peresak, Kecamatan Narmada, ini merupakan salah satu pedagang sate bulayak generasi awal. Ia sudah berjualan sate bulayak sejak masih lajang, tahun 1970-an, di Taman Narmada. Kini, tiga anak Siti sudah membuka dagangan yang sama di Taman itu.

    Toh, tidak banyak juga yang bisa dikisahkan Siti tentang sejarah sate bulayak. Seingatnya, saat masa kanak-kanak dulu di tahun 1960-an, bulayak hanya dibuat ketika ada pesta panen raya, atau saat memasuki masa tanam padi.
    Kecamatan Narmada termasuk salah satu daerah potensial pertanian di Lombok. Kelimpahan air yang bersumber dari hutan Sesaot di kaki Gunung Rinjani membuat kawasan ini bisa menuai musim tanam padi tiga kali setiap tahun.

    “Waktu saya kecil dulu, bulayak ini dibawa ke sawah kalau ada panen atau musim tanam. Untuk makan bersama keluarga yang bekerja,” katanya. Bedanya, dulu bulayak hanya disantap dengan rebusan toge atau kecambah kacang hijau yang diberi bumbu pelalah. Entah siapa yang memulai, bulayak kemudian disandingkan dengan sate daging, dan kini tersohor dengan sebutan Sate Bulayak. Ingin menikmati cita rasa sate bulayak sebenarnya? Datang saja ke tempat dagang Siti di dalam kompleks Taman Narmada. Pasalnya, bumbu sate bulayak bikinan Siti, masih asli. Resepnya turun temurun dari orangtuanya di Narmada.

    Untuk sambal pelalah, bahan bumbunya antara lain cabai merah besar, cengkeh, kayu manis, sapu laga, merica, jahe, kunyit, gula merah, bawang putih, bawang merah, dan santan kelapa. Setelah semua bumbu digiling halus, kemudian direbus dengan santan kelapa hingga mengental. “Bahannya biasa saja, gampang didapat di pasar. Tapi tidak semua orang racikannya sama, jadi rasanya beda-beda,” kata Siti. Siti yang berpenampilan sangat sederhana, ternyata juga pernah menuai sukses. Tahun 1990-an, sate bulayak buatannya meraih penghargaan sebagai juara dalam lomba penganan khas daerah, untuk memperingati Hari Pangan Sedunia, tingkat nasional.
    “Waktu itu saya dapat uang Rp300ribu sebagai hadiahnya, dan saya sempat juga bertemu pak Harto dan pak Sutrisno (Presiden Suharto dan wakil Try Sutrisno) di Jakarta,” katanya mengenang.

    Siti memulai usahanya ketika satu porsi sate bulayak masih seharga Rp1.500,-. Saat itu satu kilogram daging sapi masih seharga Rp4.500,-. Kini satu porsi sate bulayak sudah seharga Rp12.500,- sampai Rp15.000,-. Satu porsi terdiri dari lima belas tusuk sate daging, lima potong bulayak, dan satu piring sambal pelalah. “Bahannya yang semakin mahal, daging sekilo sekarang sudah Rp80 ribu,” kata Siti. Sate bulayak memang kuliner fenomenal di Lombok. Penganan ini sudah merambah semua kawasan wisata, termasuk pantai Senggigi. Tapi jangan berharap menemukan sate bulayak dijual di warung makan khusus. Sebab, penganan ini nampaknya khas untuk alam terbuka, dan pedagangnya selalu pedagang kaki lima.

    Pengunjung lokasi wisata di Lombok pun tak perlu repot membawa bekal makanan, sebab sate bulayak pasti tersedia. Hmm, sate bulayak, memang penggoda lidah di alam terbuka.[sumber: kompasiana]

      Waktu sekarang Sat Oct 01, 2016 7:08 pm