Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Saat Anak Paham Jenis Kelaminnya

    Share

    flade

    936
    23.09.09

    Saat Anak Paham Jenis Kelaminnya

    Post  flade on Mon Feb 21, 2011 12:34 am

    Saat Anak Paham Jenis Kelaminnya


    Meski sudah bisa berdiri atau bicara, bayi belum paham jenis kelamin apa itu perempuan atau laki-laki. Anak baru mengerti setelah ia mampu mempelajari perilaku maskulin dan feminin dari lingkungan sekitarnya, seperti teman-temannya.

    Menurut Albert Bandura dan Bussey dalam buku Children, perkembangan identitas gender anak terjadi melalui observasi dan imitasi perilaku yang dilakukan oleh orang lain, serta melalui perilaku yang disukai atau tidak disukai oleh individu dari jenis kelaminnya.

    Seiring bertambahnya usia, anak mulai bergaul dengan teman-teman seusianya dan ia akan mulai mempelajari perilaku maskulin dan feminin dari teman-temannya.

    Anak-anak perempuan akan asyik bermain rumah-rumahan atau boneka bersama dengan teman perempuan lainnya, sedangkan anak laki-laki bergerombol bermain perang-perangan, berlarian kesana kemari sambil membawa pistol-pistolan.

    Dan biasanya, ketika anak-anak mulai tahu arti jenis kelamin mereka enggan untuk bermain bersama teman yang berbeda gender. Hasilnya, terkadang sulit untuk menyatukan anak-anak ini untuk bermain bersama karena mereka cenderung lebih suka bermain sendiri jika tidak ada teman sesama gendernya.

    Jika dibiarkan, maka anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kurang supel, pemilih, bahkan, kurang bisa berempati pada orang lain di luar gank bermainnya.

    Laurence Kohlberg, dengan teori kognitifnya yang dikenal sebagai Cognitive Developmental Theory of Gender, menyatakan bahwa pembelajaran anak mengenai gender terjadi setelah anak mampu berpikir dan menyadari jenis kelaminnya, apakah ia perempuan atau laki-laki.

    Ketika mereka telah menyadarinya, anak akan cenderung memilih aktivitas, benda, dan perilaku yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Sebagai hasilnya, seorang anak akan berpikir, 'Aku adalah anak perempuan, jadi Aku akan melakukan hal-hal yang disukai oleh teman-teman perempuanku'.

    Menurut Kohlberg, anak mencapai tahap yang disebut dengan identitas gender pada usia 2 tahun. Pada masa ini seorang anak mampu menyebutkan jenis kelaminnya sendiri, apakah ia disebut perempuan atau laki-laki.

    Ketika anak berusia sekitar 4 tahun ia telah mampu menyadari bahwa jenis kelaminnya tidak akan berubah, kondisi ini masuk tahap stabilitas gender. Akan tetapi, pada masa ini kemampuan anak masih terbatas pada fitur eksternal seperti pakaian dan rambut. Anak laki-laki pada usia ini mungkin berkata, 'Kalo aku pakai rok, berarti anak perempuan. Aku nggak mau jadi perempuan!'.

    Baru pada tahap ketiga, yaitu tahap konstansi gender terjadi ketika anak berusia sekitar 6-7 tahun. Pada tahap ini anak akan mampu memahami bahwa jenis kelaminnya akan tetap sama sepanjang hidupnya, meskipun gaya berpakaian, potongan rambut, atau kegiatan yang dilakukan berubah.

    Peran orangtua sangat dibutuhkan anak dalam membimbing perkembangan gender anak. Yang bisa dilakukan orangtua antara lain:

    1. Ajarkan anak mengenai perilaku feminin dan maskulin yang pantas dan cocok dilakukan oleh anak sesuai jenis kelaminnya, serta atribut-atribut fisik yang sesuai dengan jenis kelamin tertentu (misalnya rambut panjang lebih cocok untuk anak perempuan, sedangkan rambut cepak lebih cocok untuk anak laki-laki).

    2. Kenalkan dan ajak anak untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dari kedua jenis kelamin, dan biarkan ia untuk bermain dengan teman-teman sejenisnya. Anak akan belajar mengenai peran masing-masing jenis kelamin dari anak-anak seusianya.

    3. Ajarkan anak untuk tidak bersikap agresif dan kasar. Seringkali anak laki-laki didorong untuk bersikap lebih berani dan agresif secara fisik. Sebenarnya cara yang lebih positif adalah dengan mendorong mereka bersikap lebih asertif tetapi tidak agresif secara fisik, baik dengan teman sejenis ataupun teman dari lawan jenis.



      Waktu sekarang Sat Dec 10, 2016 1:56 pm