Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    Patah Semangat Bisa Dideteksi dari Air Ludah

    Share
    avatar
    clara

    945
    23.01.09

    Patah Semangat Bisa Dideteksi dari Air Ludah

    Post  clara on Thu Feb 24, 2011 6:19 am

    Patah Semangat Bisa Dideteksi dari Air Ludah


    Stres yang berkelanjutan bisa memicu burnout atau kehilangan semangat hidup, yang seringkali didagnosis sebagai gejala depresi. Untuk membedakan burnout dengan depresi, cara paling akurat adalah memeriksa komposisi air ludah di pagi hari.

    Padamnya semangat hidup alias burnout tidak bisa dipandang remeh karena sangat mempengaruhi produktivitas seseorang. Namun penanganan burnout sering tumpang tindih dengan depresi, sehingga tidak tertangani dengan baik dan kadang malah memburuk.

    Keduanya memang memiliki gejala yang hampir sama misalnya kurang motivasi dan tidak bergairah, karena burnout pada dasarnya terjadi akibat depresi kronis yang tidak tertangani. Namun dilihat dari kondisi hormonal yang mempengaruhi, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.

    Depresi ditandai dengan peningkatan kadar kortisol, yang dikenal juga sebagai hormon stres. Sebaliknya ketika depresi itu berkembang hingga memasuki fase burnout, produksi kortisol justru mengalami penurunan hingga level yang sangat rendah.

    "Perbedaan kadar kortisol terjadi karena kondisi itu psikologis mempengaruhi sistem pengaturan hormon pada tubuh manusia," ungkap peneliti masalah kejiwaan dari Louis-H Lafontaine Hospital, Dr Sonia Lupien seperti dikutip dari Health24.

    Tanpa deteksi yang akurat, gejala burnout sering tidak tertangani dengan tepat. Karena dikira masih depresi, seseorang yang mengalami burnout sering mendapat antidepresan yang fungsinya adalah menurunkan kadar kortisol. Padahal pada fase burnout, kadar kortisol sudah sangat rendah.

    Deteksi yang diklaim paling akurat dikembangkan baru-baru ini oleh tim gabungan dari Louis-H Lafontaine Hospital dan University of Montreal, Kanada. Para ahli dalam penelitian itu menggunakan air ludah yang diambil pada pagi hari, karena diyakini paling mewakili kondisi hormonal seseorang.

    Metode yang dikembangkan dalam penelitian itu telah dibuktikan akurasinya pada sekitar 30 relawan paruh baya yang mengalami berbagai gangguan kejiwaan yang meliputi stres, depresi dan burnout. Pemeriksaan kadar kortisol melalui air ludah pada pagi hari menunjukkan hasil yang sesuai dengan hasil tes darah maupun psikotes.

      Waktu sekarang Thu Aug 17, 2017 12:28 am