Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu

    Share

    pravda

    260
    07.06.10

    Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu

    Post  pravda on Fri Mar 04, 2011 12:43 pm

    Ajari Anak Melawan Rasa Takut Hantu



    Anak sebenarnya tidak punya rasa takut terhadap hantu tetapi tertular oleh orang-orang sekitarnya. Orangtua perlu memberikan pengertian soal makhluk-makhluk halus seperti hantu agar anak bisa melawan rasa takutnya.

    "Sebenarnya anak kecil itu nggak kenal hantu. Kalau anak kecil menganggap hantu itu menyeramkan ya karena lingkungannya," jelas Muhammad Rizal, Psi dari Lembaga Terapan Psikologi UI ketika dihubungi detikHealth.

    Menurut Rizal, anak kecil sebenarnya tidak mengenal konsep bahwa hantu itu menakutkan, tapi lingkunganlah yang menciptakan konsep tersebut.

    Biasanya anak kecil akan takut hantu bila melihat orangtua atau orang-orang di sekitarnya ketakutan dan teriak-teriak saat menonton film atau iklan yang menunjukkan sosok hantu.

    "Karena orangtuanya teriak-teriak lihat hantu, jadi anak membuat penilaian bahwa hantu itu menyeramkan, akhirnya dia juga takut," lanjut Rizal.

    Rizal menuturkan sebaiknya orangtua memberi contoh perilaku yang benar dengan tidak menakuti atau menanamkan penilaian bahwa hantu itu menakutkan, karena pada dasarnya anak tidak takut dengan hantu.

    "Gambar hantu itu kan sebenarnya netral, tapi karena sudah ada penilaian bahwa hantu itu seram jadi si anak takut. Jadi jangan dicontohkan bahwa hantu itu seram," jelas Rizal.

    Untuk menanamkan stigma positif pada anak, lanjut Rizal, orangtua tidak hanya harus menjelaskan bahwa hantu itu seram tetapi juga mencontohkannya secara perilaku.

    "Anak-anak itu belajar secara konkret. Kalau orangtuanya bilang hantu itu tidak menyeramkan tapi ternyata teriak-teriak pas nonton film hantu ya sama saja. Caranya jangan berlebihan kalau lihat sosok hantu di TV, jadi anak juga tidak tahu bahwa hantu itu seram," tambahnya.

    Menaggapi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang meminta meninjau ulang iklan yang menunjukkan sosok hantu, Rizal menilai hal tersebut mungkin untuk menghindari orang-orang bersikap berlebihan terhadap sosok hantu.

    Sementara Dawn Huebner, seorang psikolog dari Exeter, New Hampshire mengatakan jika seorang anak percaya adanya makhluk halus di tempat tidurnya, maka orangtua harus bisa menenangkannya seperti mengatakan, 'Itu karena dia ingin bermain bersama'. Saat anak sudah merasa sedikit tenang, orangtua bisa menjelaskan bahwa makhluk tersebut sebenarnya tidak ada dan tidak nyata.

    Jika anak sudah bisa memahami perbedaan antara khayalan dan kenyataan, maka anak harus bisa mengatasi ketakutan tersebut dengan pikiran bahwa gambar yang menghantuinya adalah tidak nyata.

    Orangtua bisa mengajari anak cara membedakan ketakutan di kepalanya dengan bahaya yang sebenarnya. Anak yang sudah bisa memahami konsep "false alarm" dapat membantunya memahami bahwa rasa takut tersebut tidak berarti ada ancaman dan dapat meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi lebih berani.

    Jika anak belum bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan, maka orangtua bisa menggunakan strategi makhluk itu hanya ingin bermain dan cara ini terbilang cukup berhasil. "Ini bukan menekan pikiran negatif, tapi berusaha membingkai sesuatu menjadi sedikit lebih positif," ujar psikolog Liat Sayfan dan Kristin Hansen Lagattuta.



      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 9:22 am