Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Khasiat Sereh Wangi
Yesterday at 5:37 pm by flade

» Pria Ini Menghasilkan 38 Juta Per Hari Sambil Jalan-jalan Keliling Dunia!
Fri Jan 20, 2017 11:19 am by jakarta

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

IKLAN ANDA


    Bahaya Leptospirosis Belum Banyak Diketahui

    Share

    near

    128
    Age : 25
    Lokasi : JAKARTA UTARA
    09.02.11

    Bahaya Leptospirosis Belum Banyak Diketahui

    Post  near on Mon Mar 21, 2011 10:31 am

    Bahaya Leptospirosis Belum Banyak Diketahui


    YOGYAKARTA, KOMPAS - Petani di sejumlah wilayah DI Yogyakarta belum banyak mengetahui penyakit leptospirosis dan bahayanya. Padahal, penyakit yang sedang merebak itu mengancam para petani.

    Dinas Kesehatan DI Yogyakarta mencatat, tahun 2011 terdapat 106 kasus leptospirosis di Kabupaten Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta. Sebanyak 14 orang di antaranya meninggal dan 90 persennya petani.

    Boiran (56), petani Desa Gejawan Wetan, Kecamatan Gamping, Sleman, pekan lalu, mengaku tak tahu penyakit leptospirosis. Pemerintah belum pernah menyosialisasikan penyakit itu.

    ”Yang kerap datang justru petugas penyuluh lapangan. Mereka tak berbicara soal penyakit itu, tetapi upaya memberantas hama dan penyakit tanaman, salah satunya pemberantasan tikus,” kata Boiran.

    Taryono (52), petani Desa Jatisarono, Kecamatan Nanggulan, Kulon Progo, mengatakan, pemerintah desa memang meminta setiap warga mewaspadai penyakit akibat urine tikus. Namun, banyak yang belum tahu jelas gejala dan dampaknya.

    ”Kami hanya diimbau kalau terjadi panas tinggi dan sakit kepala, segera ke puskesmas. Kami juga diminta membasmi tikus di sawah,” kata Taryono.

    Secara terpisah, Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Hari Kusnanto mengatakan, berdasar penelitian di Bantul, pola penyebaran leptospirosis berada di alur irigasi dan sungai-sungai kecil di persawahan. Air di lokasi itu mengandung bakteri Leptospirosa sp yang berasal dari inang penular, seperti tikus atau sapi yang terjangkit leptospirosis.

    ”Agar tren penyakit itu tidak meningkat, masyarakat perlu menekan laju populasi tikus dan kembali mempraktikkan teknik-teknik kesehatan dasar. Jangan remehkan penyakit itu karena dapat mengakibatkan pendarahan paru-paru, gagal ginjal, dan lever,” kata Hari.

    Dinas kesehatan diharap tak hanya fokus mengobati dan mencegah leptospirosis. Koordinasi dengan dinas peternakan atau dokter hewan pun perlu. (HEN) [Sumber : Kompas]


      Waktu sekarang Wed Jan 25, 2017 2:16 am