Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Penderita Kanker Lebih Percaya 'Orang Pintar'

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    Penderita Kanker Lebih Percaya 'Orang Pintar'

    Post  kuning on Fri Mar 25, 2011 6:26 am

    Penderita Kanker Lebih Percaya 'Orang Pintar'


    Tidak bisa dipungkiri, beberapa pasien lebih mempercayakan pengobatan kanker kepada 'orang pintar' dibandingkan dokter. Baru setelah terapi alternatifnya gagal, pasien kembali lagi ke dokter dalam kondisi yang sudah terlanjur parah.

    Akibatnya terapi dengan obat moderen menjadi lebih sulit dilakukan karena kanker yang dideritanya terlanjur memasuki stadium lanjut. Andai diterapi sejak awal, peluang untuk sembuh atau minimal bisa dikendalikan tentu lebih besar karena kondisinya belum terlalu parah.

    Kendala ini diakui oleh pakar kanker, Dr Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP dalam acara penyerahan bantuan dari Jakarta Run Against Cancer Everyone (RACE) untuk Yayasan Kanker Indonesia (YKI), di Hotel Four Seasons Jakarta yang dikutik detikhealth.

    "Seringkali pasien datang ke dokter dengan kanker stadium 2, tapi kemudian menghilang dan salah satunya berobat ke 'orang pintar'. Setelah gagal di 'orang pintar', baru datang lagi ke dokter yang 'tidak terlalu pintar' dengan kondisi kanker yang sudah terlanjur parah," kata Dr Aru.

    Mengenai terapi alternatif untuk kanker sendiri, Dr Aru mengaku kurang setuju dan tidak menganjurkan karena istilah terapi alternatif berarti menghilangkan terapi utama yakni dengan obat-obatan moderen lalu menggantinya dengan jenis terapi lain yang belum terbukti kemanjuran dan keamanannya secara ilmiah.

    Ia lebih setuju jika terapi alternatif yang umumnya menggunakan herbal itu diposisikan sebagai terapi komplementer, yakni pelengkap terapi utamanya. Itupun tidak boleh sembarangan, karena harus tetap dikonsultasikan dengan dokter untuk mengantisipasi kemungkinan interaksi dengan obat.

    "Meski katanya ada yang sembuh dari kanker meski cuma mengkonsumsi herbal, terapi utama sebaiknya jangan dihilangkan sama sekali. Memang benar ada yang sembuh, bahkan yang tidak diobati sama sekali juga ada yang sembuh sendiri tapi persentasenya tentu sangat kecil," tambah Dr Aru.

    Selain herbal, suplemen-suplemen makanan seperti antioksidan serta beta karoten sebaiknya dikonsumsi dengan hati-hati oleh penderita kanker. Menurutnya sesuatu yang bermanfaat bagi orang sehat, bisa saja memberikan efek negatif ketika dikonsumsi bersama dengan obat-obat kemoterapi.

    "Suplemen antioksidan misalnya, sebenarnya bisa bikin badan makin sehat. Tapi kalau diminum bersama-sama dengan obat kemoterapi, sel-sel kankernya jadi ikut sehat," kata Dr Aru.

    Meski dalam kondisi sehat antioksidan bisa melawan radikal bebas pemicu kanker, namun Dr Aru tidak menganjurkan suplemen tersebut untuk diberikan bersama obat-obat kanker. Demikian juga pada perokok, suplemen antioksidan justru bisa menginduksi atau memicu pertumbuhan sel kanker.




      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 1:49 pm