Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Senyum Palsu, Biang Keladi Depresi

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    Senyum Palsu, Biang Keladi Depresi

    Post  clara on Tue Mar 29, 2011 7:47 am

    Riset: Senyum Palsu, Biang Keladi Depresi


    Bila tuntutan pekerjaan mengharuskan Anda untuk terus tersenyum, berhati-hatilah. Anda mungkin harus berpikir ulang sebelum mengobral senyum kepada orang lain, bahkan kepada pelanggan atau klien penting perusahaan Anda.
    Sebagai salah satu bentuk kesopanan atau tuntutan kerja, seringkali kita berusaha untuk tersenyum kepada orang lain. Namun, berdasarkan sebuah penelitian, ternyata senyum yang dipaksakan malah justru tak baik untuk kejiwaan maupun etos kerja.

    Ini tentu saja berlawanan dengan maksud kebijakan banyak perusahaan. Biasanya, karyawan-karyawan perusahaan transportasi umum, pertokoan, bank-bank, serta bagian call center di setiap perusahaan, diwajibkan untuk selalu tersenyum kepada pelanggan mereka.

    "Perusahaan-perusahaan mungkin mengira dengan menyuruh karyawan mereka tersenyum, akan berakibat baik bagi organisasi mereka. Tapi tak selalu begitu," kata Brent Scott, pemimpin riset yang juga Asisten Profesor pada Michigan State University AS.

    Riset tersebut meneliti sekelompok pengemudi bus selama lebih dari dua pekan. Para peneliti mengamati efek dari penampakan senyum dengan kondisi emosi mereka. Hasil riset menunjukkan bahwa melempar senyum yang dibuat-buat alias senyum palsu, ternyata justru bisa membuat seseorang menjadi tertekan.

    Senyum palsu bisa memperburuk mood dan bahkan bisa membuat produktivitas kerja seseorang menyusut. Sementara itu, ketika seorang karyawan tersenyum karena gembira karena mendapatkan pikiran yang positif--misalnya ketika mereka menghadapi hari libur--justru bisa meningkatkan mood dan membuat mereka lebih efisien dalam bekerja.

    Situasi ini akan semakin membekas pada pekerja wanita. Ketika mereka tersenyum di saat merasakan emosi yang negatif, ini justru akan membahayakan kondisi emosional mereka. "Saat melakukan akting permukaan, wanita akan menerima efek yang lebih daripada pria. Emosi mereka bisa lebih buruk," kata Scott.

    Tapi, bila karyawan wanita itu bisa menghayati senyuman mereka saat bekerja, mood mereka memang bisa semakin meningkat dan mereka bisa menekan depresi yang mereka alami.

    Diperkirakan, ini tak lepas dari intensitas emosional dan tingkat ekspresi yang lebih besar, yang dimiliki oleh wanita ketimbang pria.

    Walau demikian, Scott mengingatkan efek jangka panjangnya. Walaupun akting senyum yang lebih dihayati bisa meningkatkan mood dalam jangka pendek, tapi bila dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama, bisa membuat seseorang merasa tidak otentik.

    "Mungkin Anda berusaha untuk menanamkan emosi positif pada diri Anda. Namun, pada akhirnya, Anda mungkin akan merasa bahwa itu bukan diri Anda lagi," ujar Scott. [kosmo]




      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 9:23 pm