Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kurang Tidur, Nafsu Makan Menggila

    Share

    via

    851
    04.03.09

    Kurang Tidur, Nafsu Makan Menggila

    Post  via on Sun Apr 03, 2011 12:59 pm

    Kurang Tidur, Nafsu Makan Menggila


    Kurang tidur tak hanya memicu kantuk, lemas dan hilang konsentrasi, tapi juga memengaruhi selera makan. Studi New York Obesity Researh Center Columbia University seperti dikutip vivanews menunjukkan bahwa kurang tidur memicu obesitas.

    Mereka yang hanya menghabiskan waktu tidur selama empat jam per hari cenderung akan mengasup lebih banyak kalori setelah bangun, dibandingkan mereka yang tidur cukup.

    Berdasar studi tersebut, efek terparah berlaku untuk wanita yang kurang tidur, dengan asupan rata-rata 329 kalori lebih banyak dibandingkan saat tidur cukup. Sedangkan pria memiliki kecenderungan peningkatan asupan sekitar 263 kalori.

    Studi dilakukan demi menjelaskan hubungan antara kurang tidur dan kelebihan berat badan. “Studi ini menunjukkan kemungkinan penyebabnya,” ujar Marie Pierre St Onge, Ph.D, peneliti utama studi yang dipublikasikan dalam Konferensi American Heart Association di Atlanta, awal pekan ini.

    Selama ini, orang dengan berat badan berlebih sering dikaitkan dengan sleep apnea atau gangguan pernapasan yang menyebabkan sering terbangun saat tidur. Namun, tidak jelas apakah kelebihan berat badan menyebabkan masalah tidur, atau justru pola tidur yang menyebabkan kelebihan berat badan. Kebingunan inilah yang kemudian dijawab Onge.

    Dalam studinya, Onge melibatkan 13 laki-laki dan 13 perempuan sukarelawan usia antara 30 dan 45, yang semuanya memiliki berat badan normal dan pola tidur cukup. Seluruh peserta kemudian dikarantina di sebuah laboratorium tidur.

    Selama enam hari, seluruh peserta diminta menjalankan dua tugas di bawah pengawasan ketat. Pada hari-hari awal, mereka bisa tidur hingga sembilan jam per malam. Namun, di waktu lain mereka hanya dibatasi tidur empat jam. Selama karantina, mereka tidak diizinkan tidur siang.

    Untuk empat hari pertama, seluruh peserta hanya boleh menyantap sereal dan susu di pagi hari, serta hidangan beku untuk makan siang dan malam.

    Dua hari terakhir, mereka bebas memilih menu makan. Namun, mereka hanya boleh jajan dengan uang saku yang ditentukan, serta mencatat kandungan gizinya secara jelas. Ini agar para peneliti bisa mengukurnya dengan benar.

    Selain lebih banyak mengkonsumsi makanan berkalori tinggi, peserta juga condong memilih makan berlemak, dan makanan tinggi protein saat kurang tidur. “Es krim adalah paling favorit,” ujar Onge seperti dikutip dari laman Shine.

    Baik pria maupun wanita lebih banyak mengonsumsi makanan kaya protein saat kurang tidur. Namun, wanita lebih banyak mengkonsumsi makanan mengandung lemak. Setelah tidur hanya selama 4 jam, para wanita mengkonsumsi lemak rata-rata 31 gram di atas pria.

    Menurut Onge, peserta yang kekurangan tidur mungkin mencari sumber yang tepat untuk memperbaiki kondisi mereka. Namun, kurang tidur bisa juga merusak kemampuan orang untuk memilih makanan sehat untuknya.

    “Makanan tinggi lemak lebih menggoda dan mungkin pada waktu tidur yang singkat, orang tidak lagi bisa mengkontrol dirinya sedangkan pada kondisi istirahat yang cukup, penolakan dalam diri akan lebih mudah,” ujar Onge.

    Gida Lundberg, asiten profesor klinis dari kardiologi di Emory University School of Medicine, Atlanta, mengatakan, temuan ini berlaku untuk semua orang, termasuk mereka yang memiliki berat badan normal.


      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 1:24 am