Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    [Film] Kemelut di Ujung Benua

    Share

    ludwina

    127
    18.04.11

    [Film] Kemelut di Ujung Benua

    Post  ludwina on Mon Apr 18, 2011 4:17 am

    Kemelut di Ujung Benua


    Sebuah film yang mengeksplorasi hubungan rumit antarmanusia.

    Judul: How I Ended This Summer
    Pemain: Sergei Puskepalis, Grigory Dobrygin
    Sutradara: Aleksei Popogrebsky
    Durasi: 124 menit


    Dua lelaki beda generasi bertemu di sebuah stasiun cuaca milik Rusia. Di sekeliling mereka hanya salju yang menjejalkan dingin ke udara. Lelaki pertama bernama Sergei (Sergei Puskepalis). Lelaki kedua, Pavel (Grigory Dobrygin). Usia yang pertama sekitar akhir empatpuluhan; sementara yang kedua awal duapuluhan. Mereka berada dalam situasi pelik.

    Pekerjaan Pavel dan Sergei adalah mengamati kecepatan angin, gugusan awan, dan suhu udara. Selain itu, mereka juga mesti mencatat tingkat radiasi di pulau itu. Pada interval tertentu, mereka melaporkan hal-ihwal cuaca ke pusat meteorologi melalui radio panggil: "Archym calling fairy..."

    Hari demi hari adalah tangan yang terpoles karbon dari pensil, dan suara yang pecah di meja pelaporan. Tak ada televisi atau surat kabar. Pemuda Pavel kadang mengisi jeda waktu dengan mendengarkan musik melalui pemutar MP3, dan permainan adu tembak di komputer jinjing. Selebihnya hanyalah kegilaan dalam diam.

    Di suatu hari yang canggung, ketika Sergei pamit memancing ikan forel ke teluk, Pavel mendapatkan kabar dari kota bahwa istri dan anak Sergei mengalami kecelakaan yang mungkin fatal. Ia diminta menyampaikannya kepada Sergei. Namun, Pavel nyaris tak memiliki keberanian mengabarkan berita lelayu itu. Sejak itu, hubungan di antara mereka menjadi kian ganjil, dan tak terarah. Pavel memelihara kebohongan, sedangkan Sergei tak memberikan ruang bagi si pemuda jenuh untuk mengekspresikan diri. Keduanya membeku dalam nonsense.

    Aleksei Popogrebsky, sutradara dan penulis film "How I Ended This Summer" ini, yang berlatar di Chukotka, tepian Samudra Arktik, yang berada pada jarak renang ke Alaska, sungguh pelit menyertakan dialog. Hubungan rumit antara Sergei dan Pavel mendapat penekanan dari lanskap tak terukur daratan es dengan batuan pejal dan tajam. Pavel Kostomarov, yang bertanggung jawab terhadap sinematografi, mampu menonjolkan lanskap-lanskap elok itu dengan cermat. Bahkan, mungkin, ia mampu membawa hubungan sedingin salju kedua rekan kerja itu ke diri penonton.

    Satu pertanyaan muncul: Apa yang menyebabkan Pavel menunda-nunda, untuk tidak mengatakan menolak, mengabarkan kepada Sergei perihal keluarganya yang mendapat celaka? Saya tak menemukan jawaban. Hanya saja, kian dalam Pavel menghindari Sergei, kian dekat kita merasa bahwa tindakan itu sia-sia belaka. Memang, pada beberapa adegan, kamera memperlihatkan Sergei menunjukkan sikap keras atas Pavel. Tapi, itu juga tanggapan atas kecerobohan si pemuda. Karenanya, sulit bagi penonton menerima bahwa Sergei tak berhak tahu akan tragedi yang menciderai keluarganya.

    Di luar itu, eksplorasi hubungan manusia pada latar geografi ekstrem seperti yang disematkan dalam "How I Ended This Summer" sungguh menantang. Sergei dan Pavel ditempatkan pada situasi perbatasan tempat keintiman ideal dan egosentrisme saling memilin. Dan pada kasus mereka, jalinan itu berakhir kusut kasau.




      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 11:25 pm