Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kontroversi Bahaya Garam

    Share

    flade

    936
    23.09.09

    Kontroversi Bahaya Garam

    Post  flade on Sat May 07, 2011 12:13 pm

    Kontroversi Bahaya Garam


    Anda mungkin sering mendengar bahwa konsumsi banyak garam dapat berdampak buruk pada tubuh. Namun, sebuah penelitian kontorversial mengatakan bahwa mengurangi garam justru dapat meningkatkan risiko kematian akibat serangan jantung dan stroke.

    Temuan menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi sedikit garam, sekitar satu sendok teh per hari, tidak menunjukkan dampak positif terhadap kesehatan. Ini dibanding mereka yang mengonsumsi lebih banyak garam. Mereka yang mengonsumsi sedikit garam justru berisiko tinggi mengalami kematian akibat penyakit jantung.

    Penelitian juga menemukan bahwa asupan garam di atas rata-rata tidak meningkatkan kemungkinan terjadinya tekanan darah tinggi. Penelitian ini melibatkan 3.681 wanita dan pria sehat di Eropa, dengan kisaran umur 60 tahun.

    Seperti dilansir dari situs Daily Mail, penelitian yang dilakukan selama delapan tahun ini mengukur kadar natrium pada urin di awal dan akhir penelitian.

    Mereka yang mengonsumsi sedikit garam memiliki risiko kematian 56 persen lebih tinggi karena serangan jantung atau stroke, dibandingkan mereka yang mengonsumsi lebih banyak. Angka ini muncul tanpa mengabaikan faktor peningkat risiko lainnya seperti obesitas, kadar kolesterol, kebiasaan merokok, dan diabetes.

    Ada 50 kematian responden yang memiliki kadar garam terendah, 24 kematian responden dengan asupan sedang, dan 10 kematian dengan asupan tinggi.

    Hasil penelitian ini diterbitkan di Journal of the American Medical Association. Dirilis tiga bulan setelah pemerintah Amerika Serikat meluncurkan kampanye kesehatan yang mendesak restoran dan produsen makanan untuk mengurangi penggunaan garam.

    "Kami tidak mendukung pengurangan asupan garam masyarakat karena hasil penelitian ini," ujar Jan Staessen, pemimpin peneliti dan Kepala Laboratorium Hipertensi di Universitas Leuven, Belgia.

    Namun, para ilmuwan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap hasil penelitian mereka. Mereka hanya berspekulasi bahwa rendahnya kadar garam di dalam tubuh dapat memicu kepanikan sistem saraf, meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, serta memengaruhi hormon pengontrol tekanan darah dan penyerapan natrium.

    Penelitian itu jelas menuai kontroversi. Sejumlah ahli menyatakan bahwa masyarakat harus tetap mengonsumsi sedikit garam. Penelitian tersebut disanksikan karena hanya mengikutsertakan orang-orang dengan tekanan darah normal, muda, dan relatif sehat.

    Sedangkan penelitian sebelumnya yang mendukung kampanye pengurangan asupan garam, mengikutsertakan orang dengan tekanan darah tinggi, tua, obesitas dan cenderung bereaksi negatif jika mengonsumsi banyak garam. Banyak penelitian mengatakan bahwa garam berdampak buruk pada tubuh.



      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 12:48 pm