Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Anak Sudah Bisa Kena Penyakit Jantung Sejak Usia 9 Tahun

    Share

    pravda

    260
    07.06.10

    Anak Sudah Bisa Kena Penyakit Jantung Sejak Usia 9 Tahun

    Post  pravda on Mon May 16, 2011 10:18 am

    Anak Sudah Bisa Kena Penyakit Jantung Sejak Usia 9 Tahun


    Siapa bilang penyakit jantung penyakit orang dewasa? Tim dokter di Swedia menemukan, anak bisa terkena penyakit jantung sejak usia 9 tahun.

    Anak-anak yang berisiko terkena penyakit jantung ini bukan hanya yang berbadan gemuk karena obesitas tapi juga yang berbadan kurus.

    Meski tidak gemuk, anak yang sehari-hari kerjanya hanya menonton TV dan jarang beraktivitas fisik bisa sakit jantung sejak umur 9 tahun.

    Risiko anak yang terkena penyakit jantung ini karena kurangnya aktivitas fisik pada anak. Akibatnya konsumsi oksigen maksimum oleh tubuh tidak terpenuhi. Efek lanjutannya jika konsumsi oksigen sedikit bisa mempengaruhi berbagai fungsi organ.

    Anak yang rajin beraktivitas fisik rata-rata mengonsumsi oksigen sebanyak 41,7 mL/menit/kg berat badan. Sementara anak yang jarang bergerak hanya mampu mengonsumsi 35,7 41,7 mL/menit/kg berat badan. Perbedaan ini mempengaruhi fungsi organ secara keseluruhan termasuk ritme jantung.

    Penelitian terbaru ini dilakukan di Skane University Hospital, Swedia. Penelitian yang dipimpin oleh Dr Tina Tahna dan dipublikasikan di jurnal Acta Paediatrica ini melibatkan 123 anak laki-laki dan 100 anak peremuan beruusia antara 9 hingga 10 tahun.

    Selain diukur indeks massa tubuhnya, anak-anak tersebut juga diamati aktivitas fisiknya dengan memasang berbagai peralatan termasuk Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam ritme jantung. Selain itu, peneliti juga memasang accelerometer untuk mengukur aktivitas fisik para partisipan.

    Hasil selama 4 hari berturut-turut menemukan pengaruh kurangnya olahraga terhadap risiko sakit jantung tetap tinggi meski anak-anak tersebut tidak bertubuh gemuk.

    Selain dilihat dari konsumsi oksigen, hasil tes darah juga menunjukkan bahwa kurang olahraga menyebabkan komposisi darahnya tidak sehat.

    "Studi ini menunjukkan hubungan klinis antara kurangnya aktivitas fisik dengan faktor risiko sakit jantung yang meningkat hingga 11 persen," ungkap Dr Tahna seperti dikutip dari Sciencedaily.

    Penelitian ini juga mengungkap, penambahan aktivitas selama 20 menit tiap hari sudah memberi pengaruh cukup signifikan dalam mengurnagi risiko sakit jantung. Namun sebagian besar pakar kesehatan menyarankan, anak-anak harus melakukan aktivitas fisik sedikitnya 60 menit sehari.



      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 11:04 pm