Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Anak Batuk-batuk Saat Panik atau Dimarahi, Waspadai Asma

    Share

    kuning

    557
    07.10.09

    Anak Batuk-batuk Saat Panik atau Dimarahi, Waspadai Asma

    Post  kuning on Fri Jun 10, 2011 8:34 am

    Anak Batuk-batuk Saat Panik atau Dimarahi, Waspadai Asma


    Batuk membandel termasuk salah satu gejala asma pada anak. Bedanya dengan batuk biasa, batuk membandel karena asma bisa sembuh sendiri tapi bisa memburuk pada kondisi tertentu misalnya di malam hari dan saat panik atau dimarahi orangtua.

    Orangtua harus waspada jika anaknya rewel saat batuk, lalu memburuk ketika dimarahi. Apabila tidak diatasi, kondisi ini bisa makin parah dan memicu serangan asma yang ditandai dengan warna biru di sekitar mulut (sianosis), bahkan bisa sampai muntah.

    "Batuk-batuk yang menandakan bahwa anak punya asma biasanya memburuk saat dimarahi. Kalau sudah begitu, jangan dimarahi terus," ungkap dr Emma Nurhema SpA, dokter anak dari RS Persahabatan dalam Talk Show You Can Control Your Asthma di RS Persahabatan, Rawamangun.

    Tanda-tanda lain yang membedakan batuk karena asma dengan batuk biasa menurut dr Emma adalah sebagai berikut.


    • Memburuk (makin berat) di malam hari atau menjelang subuh

    • Mengganggu tidur

    • Kadang sampai muntah

    • Punya riwayat alergi di keluarganya

    • Ada faktor pencetus misalnya debu, cuaca atau makanan tertentu

    • Terjadi usai beraktivitas

    • Gejala bisa membaik sendiri meski tidak diobati.


    Meski mengindikasikan bahwa anak memiliki asma, orangtua tidak perlu panik ketika menemukan gejala-gejala di atas. Pemeriksaan penunjang seperti tes darah untuk melihat seberapa besar bakat alergi yang dimiliki si anak tidak perlu buru-buru dilakukan.

    Menurut dr Emma, yang paling mendesak untuk dilakukan adalah mengenali faktor pencetus. Jika sudah bisa dikenali, maka cara paling ampuh untuk mencegah serangan asma adalah menghindari faktor pencetusnya dan jika perlu diberi obat-obatan pengontrol.

    Tes penunjang seperti tes alergi di atas bisa dilakukan kapan saja untuk memastikan bakat alerginya. Uji fungsi paru dengan spirometer juga tidak mendesak untuk dilakukan, bisa ditunda asalkan faktor pencertusnya sudah diketahui dan bisa dihindari.

    Gejala asma pada anak juga tidak selalu berlanjut hingga dewasa. Menurut dr Emma, 80 persen gejala asma pada anak akan mulai berkurang secara bertahap ketika masuk usia remaja dan bisa berhenti sama sekali meski sewaktu-waktu bisa kambuh lagi dengan faktor pencetus yang berbeda.



      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 2:54 pm