Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Khasiat Sereh Wangi
Yesterday at 5:37 pm by flade

» Pria Ini Menghasilkan 38 Juta Per Hari Sambil Jalan-jalan Keliling Dunia!
Fri Jan 20, 2017 11:19 am by jakarta

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

IKLAN ANDA


    Kontroversi Makan Ikan Hidup untuk Obat Asma

    Share

    lea

    391
    Age : 31
    08.03.09

    Kontroversi Makan Ikan Hidup untuk Obat Asma

    Post  lea on Tue Jun 14, 2011 11:16 am

    Kontroversi Makan Ikan Hidup untuk Obat Asma


    Ribuan pasien asma rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan ikan sarden di sebuah festival yang digelar Keluarga Goud di Hyderabad, Andhra Pradesh, India Selatan. Mereka percaya, menelan ikan itu hidup-hidup dapat menyembuhkan sakit asma.

    Populer dengan sebutan 'Festival Ikan Obat', festival itu berlangsung setiap bulan Juni pada tanggal yang dianggap sebagai 'hari baik', berdasar perhitungan astrologi pada awal musim hujan.

    Dalam festival itu, sekitar 200 anggota Keluarga Goud akan membagikan ikan sarden sepanjang lima sentimeter yang masih hidup. Ikan itu diolesi bumbu rahasia yang disebut masala.

    Keluarga Goud menolak mengungkap bahan campuran yang digunakan untuk mengolesi ikan itu. Mereka hanya mengatakan bahwa ramuan itu berasal dari warisan orang suci Hindu 170 tahun silam. Ramuan itu tidak akan bekerja jika keluarga Goud membisniskannya.

    "Selama 166 tahun belakangan, keluarga Goud menawarkan metode pengobatan ini tanpa biaya kepada mereka yang membutuhkan," kata Kepala Keluarga, Bathini Harinath Goud, seperti dikutip dari Telegraph.

    Terlepas dari kepercayaan masyarakat yang sangat kuat, festival pengobatan itu mengundang reaksi keras sejumlah aktivis hak asasi manusia. Selain tidak ilmiah, festival itu dianggap memicu kekerasan terhadap anak melalui pemaksaan menyantap ikan yang masih hidup.

    Festival itu juga dianggap berperan meningkatkan risiko penyakit pada anak-anak melalui metode pengobatan yang tidak higienis. "Proses pemberian obat itu tidak sehat, apalagi mereka yang melayani tidak mencuci tangan," kata Balala Hakkula Sangham, salah satu aktivis.

    Meski menuai protes sejumlah aktivis, festival ini justru mendapat dukungan dari Pemerintah India berupa penyediaan sarana transportasi gratis bagi para pasien yang harus menjalani diet khusus selama enam minggu setelah makan ikan sarden hidup tersebut.



      Waktu sekarang Wed Jan 25, 2017 4:13 am