Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Kontroversi Makan Ikan Hidup untuk Obat Asma

    Share

    lea

    383
    Age : 31
    08.03.09

    Kontroversi Makan Ikan Hidup untuk Obat Asma

    Post  lea on Tue Jun 14, 2011 11:16 am

    Kontroversi Makan Ikan Hidup untuk Obat Asma


    Ribuan pasien asma rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan ikan sarden di sebuah festival yang digelar Keluarga Goud di Hyderabad, Andhra Pradesh, India Selatan. Mereka percaya, menelan ikan itu hidup-hidup dapat menyembuhkan sakit asma.

    Populer dengan sebutan 'Festival Ikan Obat', festival itu berlangsung setiap bulan Juni pada tanggal yang dianggap sebagai 'hari baik', berdasar perhitungan astrologi pada awal musim hujan.

    Dalam festival itu, sekitar 200 anggota Keluarga Goud akan membagikan ikan sarden sepanjang lima sentimeter yang masih hidup. Ikan itu diolesi bumbu rahasia yang disebut masala.

    Keluarga Goud menolak mengungkap bahan campuran yang digunakan untuk mengolesi ikan itu. Mereka hanya mengatakan bahwa ramuan itu berasal dari warisan orang suci Hindu 170 tahun silam. Ramuan itu tidak akan bekerja jika keluarga Goud membisniskannya.

    "Selama 166 tahun belakangan, keluarga Goud menawarkan metode pengobatan ini tanpa biaya kepada mereka yang membutuhkan," kata Kepala Keluarga, Bathini Harinath Goud, seperti dikutip dari Telegraph.

    Terlepas dari kepercayaan masyarakat yang sangat kuat, festival pengobatan itu mengundang reaksi keras sejumlah aktivis hak asasi manusia. Selain tidak ilmiah, festival itu dianggap memicu kekerasan terhadap anak melalui pemaksaan menyantap ikan yang masih hidup.

    Festival itu juga dianggap berperan meningkatkan risiko penyakit pada anak-anak melalui metode pengobatan yang tidak higienis. "Proses pemberian obat itu tidak sehat, apalagi mereka yang melayani tidak mencuci tangan," kata Balala Hakkula Sangham, salah satu aktivis.

    Meski menuai protes sejumlah aktivis, festival ini justru mendapat dukungan dari Pemerintah India berupa penyediaan sarana transportasi gratis bagi para pasien yang harus menjalani diet khusus selama enam minggu setelah makan ikan sarden hidup tersebut.



      Waktu sekarang Sun Dec 04, 2016 10:54 am