Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    KB Spiral Terbukti Paling Efektif

    Share

    clara

    945
    23.01.09

    KB Spiral Terbukti Paling Efektif

    Post  clara on Thu Jun 23, 2011 8:51 am

    KB Spiral Terbukti Paling Efektif


    Dibandingkan alat kontrasepsi jangka panjang lainnya, IUD atau Intra Utreine Device yang populer dengan sebutan spiral, paling disarankan oleh dokter kandungan. Selain paling efektif, metode ini sifatnya tidak permanen sehingga bisa dilepas jika ingin punya anak lagi.

    Laporan terbaru dari American College of Obstetricians and Gynecologists yang dirilis pekan ini mengungkap, IUD paling efektif mencegah terjadinya kehamilan untuk jangka waktu 5-10 tahun. Selain efektif, alat yang bentuknya seperti huruf T ini juga cukup aman.

    Lamanya perlindungan yang diberikan oleh IUD ditentukan oleh jenisnya. Ada 2 jenis IUD, yang pertama adalah IUD tembaga yang di dalam saluran sel telur akan melepas molekul tembaga untuk menghambat pertemuan sperma dan sel telur. Jenis ini cukup efektif hingga 10 tahun.

    Jenis lainnya adalah IUD hormonal, yang melepaskan hormon progestin untuk menghambat pelepasan sel telur. Jenis ini memberi perlindungan untuk jangka waktu yang lebih pendek yakni 5 tahun, namun sama efektifnya jika dipasang dengan cara yang benar.

    Terkait tingkat kegagalan metode kontrasepsi ini, IUD tembaga hanya memicu kehamilan tidak diinginkan pada 0,8 persen pengguna dalam kurun waktu setahun terakhir. Pada IUD hormonal angkanya lebih kecil lagi, yakni hanya sekitar 0,2 persen.

    Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pil KB, yang dalam setahun terakhir memicu kehamilan tidak diinginkan sebanyak 9 persen. Kondom bahkan masih lebih rendah dibanding pil KB, yakni 2 persen dengan catatan harus digunakan dengan benar.

    Dalam laporan tersebut, metode kontrasepsi jangka panjang non-permanen lainnya yang juga efektif adalah implan atau susuk KB. Alat kontrasepsi yang ditanam di lengan perempuan ini memberikan perlindungan hingga 3 tahun, dengan risiko kegagalan hanya 0,5 persen.

    Meski relatif aman, Dr Manny Alvarez pakar kesehatan dari Foxnews Health memperingatkan bahwa pemasangan IUD tetap memiliki risiko infeksi jika terjadi kesalahan dalam pemasangan. Beberapa pengguna IUD juga mengalami perdarahan dan keram dalam beberapa bulan pertamanya.

    "Bagaimanapun pemasangan IUD adalah prosedur invasif, selalu ada risiko infeksi. Kadang-kadang infeksinya tidak disertai gejala, tahu-tahu memicu kerusakan pada tuba falopi atau saluran sel telur," ungkap Dr Alvarez seperti dikutip dari Foxnews.

    Spiral bentuknya seperti huruf T dan diletakkan dalam rongga rahim. Jika saat pemasangan posisinya tepat, maka spiral tidak akan berubah posisi. Tapi jika pemasangannya tidak tepat, posisi spiral bisa berubah atau bergeser.

    dr Ifzal Asril SpOG, yang dihubungi detikHealth pernah mengatakan tidak semua perempuan bisa menggunakan spiral. Menurut dr Ifzal, perempuan yang mengalami penebalan dinding rahim, infeksi di vagina seperti keputihan dan juga pekerja seksual tidak bisa menggunakan spiral.

    dr Ifzal menuturkan ada langkah-langkah yang bisa dilakukan perempuan agar aman dalam menggunakan kontrasepsi spiral, yaitu:

    • Melakukan pemeriksaan sebelum memasang spiral, hal ini untuk mengetahui kondisi dari perempuan tersebut apakah terdapat infeksi, peradangan atau terjadi penebalan dinding rahim.

    • Jika terdapat infeksi atau peradangan sebaiknya diobati terlebih dahulu hingga kondisi tersebut hilang atau sembuh dan kembali normal.

    • Spiral dipasang di rongga rahim saat perempuan sedang menstruasi. Karena saat menstruasi diketahui bahwa perempuan tersebut tidak hamil dan mulut rahim sedang terbuka sehingga lebih mudah.

    • Melakukan kontrol atau pengecekan posisi spiral seminggu setelah pemasangan dan diulangi lagi setelah 3 bulan, 6 bulan dan setiap satu tahun.

    • Jika timbul keluhan seperti nyeri atau ada keputihan sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Hal ini untuk mengetahui apakah spiral perlu dikeluarkan dan diganti dengan alat kontrasepsi lain atau tidak.




      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 12:57 am