Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Kisah Perempuan yang Diperkosa di Hari Pernikahannya
Mon Jul 10, 2017 9:54 pm by alia

» 5 Tingkat Kematangan Steak
Tue Jul 04, 2017 8:44 pm by alia

» Tips Memilih Investasi yang Menguntungkan
Fri Jun 30, 2017 6:55 pm by via

» 4 Tempat Seru yang Wajib Dikunjungi Saat ke Ubud
Wed Jun 28, 2017 5:37 pm by via

» Lima Minuman Alkohol Populer di Korea
Sun Jun 25, 2017 2:13 pm by via

» 10 Surga Wisata Belanja Murah di Bangkok-Thailand
Wed Jun 21, 2017 5:43 pm by daun.kuning

» Belajar dari Sang Manusia Rp 1.000 Triliun
Sun May 28, 2017 10:01 am by flade

» Sebuah Refleksi
Sat May 27, 2017 1:10 pm by flade

» Kisah Mengagumkan Bocah Miskin India Jadi Direktur Utama Google
Wed May 24, 2017 12:17 pm by jakarta

IKLAN ANDA


    Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Gangguan Jiwa

    Share
    avatar
    via

    863
    04.03.09

    Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Gangguan Jiwa

    Post  via on Wed Jun 29, 2011 2:23 am

    Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Gangguan Jiwa


    Perkotaan menawarkan kehidupan segala kemudahan dan serba praktis. Tak mengherankan, kota bagai magnet yang menarik orang untuk datang dan tinggal di sana.
    Namun pernahkah terpikir bahwa hidup di kota memicu munculnya gangguan jiwa yang lebih tinggi daripada tinggal di kota kecil atau pedesaan?

    Menurut sebuah studi yang dilaporkan dalam jurnal Science Nature, masyarakat kota lebih rentan terhadap gangguan mental dibandingkan mereka yang tinggal di desa atau kota yang lebih kecil.

    Seperti dilansir dari The Huffington Post, psikiater Andreas Mayer Lidenberg yang juga seorang kolabolator dari Institut Kesehatan Mental dan Fakultas Kedokteran Universitas Heidelberg, Jerman telah meneliti 32 responden dari kota besar, kota kecil, dan desa. Dia meminta para responden untuk mengerjakan masalah aritmatika sulit, sembari meneliti kerja otak mereka.

    Pada penelitiannya ditemukan bahwa otak responden yang tinggal di kota besar menunjukan aktivitas lebih besar dalam amigdala, yaitu bagian dari otak yang sangat aktif pada orang dengan kecemasan berlebih.

    Dia juga menemukan bahwa mereka yang dibesarkan di sebuah kota menunjukan aktivitas di perigenual anterior cingulate cortex (pACC), sebuah bagian otak yang terlibat dalam beberapa penelitian tentang schizophrenia. Schizophrenia adalah kelainan otak yang berakibat otak tidak berfungsi dengan benar.

    Hasil studi awal mendorongnya untuk melakukan studi lebih lanjut, kali ini dengan isyarat visual dari ilmuwan yang mengerutkan kening pada mereka ketika mereka menyelesaikan masalah aritmatika. Sekali lagi, mereka menemukan respon stres yang lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal jauh dari kota.

    Menurutnya, bahkan gen terkuat yang terkait dengan schizophrenia pun hanya meningkatkan 20 persen resiko gangguan. Akan tetapi, penyakit ini dua kali lebih beresiko pada orang yang tinggal di kota. Semakin besar sebuah kota, semakin tinggi resiko.

    Namun, jumlah responden yang terlalu kecil tidak dapat mewakili sebuah kesimpulan yang menyakinkan. Karenanya, tim peneliti berencana untuk melakukan penelitian serupa dalam populasi masyarakat yang lebih besar. Hal ini dilakukan untuk memetakan hubungan antara isolasi sosial dengan penyakit mental.

    Sementara itu, para peneliti telah lama mencari hubungan antara penyakit mental dengan kekisruhan kehidupan kota. Tekahan hidup di kota pun terbukti kuat dapat mengakibatkan gangguan mental pada masyarakat yang tinggal di dalamnya.



      Waktu sekarang Fri Jul 21, 2017 11:49 pm