Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Tips Mudah Kupas Bawang Merah Dalam Jumlah Banyak Tanpa Air Mata
Yesterday at 10:05 pm by zuko

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

IKLAN ANDA


    Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Gangguan Jiwa

    Share

    via

    848
    04.03.09

    Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Gangguan Jiwa

    Post  via on Wed Jun 29, 2011 2:23 am

    Mengapa Orang Kota Lebih Rentan Gangguan Jiwa


    Perkotaan menawarkan kehidupan segala kemudahan dan serba praktis. Tak mengherankan, kota bagai magnet yang menarik orang untuk datang dan tinggal di sana.
    Namun pernahkah terpikir bahwa hidup di kota memicu munculnya gangguan jiwa yang lebih tinggi daripada tinggal di kota kecil atau pedesaan?

    Menurut sebuah studi yang dilaporkan dalam jurnal Science Nature, masyarakat kota lebih rentan terhadap gangguan mental dibandingkan mereka yang tinggal di desa atau kota yang lebih kecil.

    Seperti dilansir dari The Huffington Post, psikiater Andreas Mayer Lidenberg yang juga seorang kolabolator dari Institut Kesehatan Mental dan Fakultas Kedokteran Universitas Heidelberg, Jerman telah meneliti 32 responden dari kota besar, kota kecil, dan desa. Dia meminta para responden untuk mengerjakan masalah aritmatika sulit, sembari meneliti kerja otak mereka.

    Pada penelitiannya ditemukan bahwa otak responden yang tinggal di kota besar menunjukan aktivitas lebih besar dalam amigdala, yaitu bagian dari otak yang sangat aktif pada orang dengan kecemasan berlebih.

    Dia juga menemukan bahwa mereka yang dibesarkan di sebuah kota menunjukan aktivitas di perigenual anterior cingulate cortex (pACC), sebuah bagian otak yang terlibat dalam beberapa penelitian tentang schizophrenia. Schizophrenia adalah kelainan otak yang berakibat otak tidak berfungsi dengan benar.

    Hasil studi awal mendorongnya untuk melakukan studi lebih lanjut, kali ini dengan isyarat visual dari ilmuwan yang mengerutkan kening pada mereka ketika mereka menyelesaikan masalah aritmatika. Sekali lagi, mereka menemukan respon stres yang lebih besar dibandingkan mereka yang tinggal jauh dari kota.

    Menurutnya, bahkan gen terkuat yang terkait dengan schizophrenia pun hanya meningkatkan 20 persen resiko gangguan. Akan tetapi, penyakit ini dua kali lebih beresiko pada orang yang tinggal di kota. Semakin besar sebuah kota, semakin tinggi resiko.

    Namun, jumlah responden yang terlalu kecil tidak dapat mewakili sebuah kesimpulan yang menyakinkan. Karenanya, tim peneliti berencana untuk melakukan penelitian serupa dalam populasi masyarakat yang lebih besar. Hal ini dilakukan untuk memetakan hubungan antara isolasi sosial dengan penyakit mental.

    Sementara itu, para peneliti telah lama mencari hubungan antara penyakit mental dengan kekisruhan kehidupan kota. Tekahan hidup di kota pun terbukti kuat dapat mengakibatkan gangguan mental pada masyarakat yang tinggal di dalamnya.



      Waktu sekarang Wed Sep 28, 2016 12:12 pm