Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Donat & Internet Bisa Menyebabkan Depresi

    Share

    daun.kuning

    268
    17.11.09

    Donat & Internet Bisa Menyebabkan Depresi

    Post  daun.kuning on Tue Jul 05, 2011 5:16 am

    Donat & Internet Bisa Menyebabkan Depresi


    Menurut seorang psikolog, Dr Rick Norris, rasa kehilangan, uang dan hubungan yang bermasalah terkenal sebagai pemicu depresi. Tetapi, seperti yang dikutip dari Daily Mail, kegiatan sehari-hari seperti mengonsumsi donut dan kecanduan internet juga bisa menurunkan mood seseorang. Berikut lima hal yang bisa sebabkan depresi.

    1. Cuaca panas
    Ribuan orang menganggap cuaca yang terlalu panas membuat mereka terserang depresi. Diperkirakan 600.000 orang Inggris menderita seasonal affective disorder (SAD) atau gangguan afektif musiman tersebut. Hal itu dianggap terkait sensitivitas terhadap panas dan ketidakseimbangan hormon. Salah satu teori menyebutkan pada saat cuaca panas, tubuh lebih sedikit memproduksi hormon tiroid, inilah yang menyebabkan energi tubuh berkurang.

    "Pada orang dengan depresi musim panas, Anda melihat penurunan nafsu makan dan insomnia. Sementara musim dingin yang nafsu makannya dan tidur meningkat," jelas Dr Alfred Lewy dari Oregon Health and Science University.

    Namun yang paling mencengangkan, ada analisa yang menjelaskan adanya penambahan tingkat bunuh diri pada saat cuaca panas. Terdapat lebih dari 50.000 orang bunuh diri di Inggris dan Wales antara 1993-2003. Itu menunjukkan angka bunuh diri meningkat setelah suhu harian rata-rata mencapai 18C. Hal ini dapat dikaitkan dengan menurunnya kadar otak serotonin, 'hormon bahagia'.

    "Ada kemungkinan beberapa faktor lain yang terlibat. Orang-orang cenderung minum alkohol lebih di musim panas. Itu tidak hanya tidak memiliki efek depresi, juga di luar kebiasaan, sehingga kita lebih cenderung bertindak impulsif atau emosional. Cuaca panas juga mengganggu tidur," ujar pemimpin peneliti Dr Lisa Halaman dari Kings College London Institute of Psychiatry.

    2. Pil KB
    Wanita yang mengonsumsi pil KB, dua kali lebih mungkin alami depresi daripada mereka yang tidak, tulis sebuah studi yang dilakukan oleh Monash University, Australia pada tahun 2005. Pil KB, salah satu alat kontrol kehamilan mengandung hormon, mengandung hormon progesteron yang dapat menurunkan kadar seratonin di otak. Tingkat seratonin yang rendah bisa memicu munculnya depresi.

    "Sangat mungkin bahwa pil KB dapat mengubah suasana hati wanita dan menyebabkan beberapa wanita lebih sensitif," ujar Dr Ailsa Gebbie, wakil presiden fakultas kesehatan seksual dan reproduksi di Royal College of Obstetricians and Gynaecologists.

    3. Donat
    Saat stres, biasanya kita lebih memilih untuk memakan makanan serba manis seperti donat, karena dapat memberikan rasa nyaman. Tetapi nyatanya, hal itu justru berakibat buruk terutama pada bentuk tubuh dan juga kesehatan mental.

    "Kita cenderung mengonsumsi makanan bergula dan berlemak untuk memperbaiki suasana hati, tapi celakanya gula justru dapat membuat Anda merasa lebih buruk. Mood kita ditentukan oleh pasokan energi dari glukosa darah ke otak. Meningkatnya kadar dopamin dapat bantu meningkatkan mood, namun jika dosisnya salah, malah akan membuat Anda stres," ujar Helen Bond dari British Dietic Association.

    "Sebaiknya pilihlah makanan yang bisa bantu melepaskan energi secara perlahan seperti roti gandum. Jika Anda menyukai makanan manis, cokelat merupakan pilihan yang tepat," tambah Helen.

    4. Cahaya lampu
    Terlalu banyak cahaya di kamar tidur dari lampu jalan atau lampu malam hari atau bahkan cahaya dari layar tv dapat mengakibatkan efek negatif pada otak. Ilmuwan dari Ohio State University telah menemukan bahaya itu dalam penelitiannya.

    Sebuah penelitian menjadikan hamster sebagai hewan percobaan. Dalam percobaan tersebut, peneliti menemukan bahwa paparan cahaya redup di malam hari dari waktu ke waktu dapat menyebabkan perubahan dalam hippocampus atau wilayah otak yang berhubungan dengan depresi. Hasilnya, hamster yang sudah terpengaruh paparan cahaya di malam hari secara terus menerus menunjukkan gejala depresi. Seperti gagal menghabiskan makanan atau tak terlalu nafsu makan.

    5. Internet
    Semakin lama seseorang berselancar di dunia maya, semakin rendah tingkat kebahagiaanya. Demikian menurut studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Great Britain. Selain itu Leeds University juga menemukan bahwa seseorang yang tergolong pecandu internet cenderung mengalami gejala-gejala depresi seperti mudah gelisah, tegang, tidak nyaman dan lainnya.

    "Kami menemukan hubungan antara lamanya waktu menggunakan internet dengan level depresi. Perasaan sedih atau senang ternyata sangat erat kaitannya dengan seberapa besar ketergantungan seseorang terhadap internet," kata Carriona Morrison dalam Journal Psychopathology, seperti dilansir Newyorkdailynews.

    Dikutip dari detikhealth, beberapa orang menggunakan internet sebagai media pelepas stres. Tapi banyak yang tidak sadar bahwa kegiatan itu justru membuatnya tambah depresi.

    "Sebagian orang pergi online karena ingin melepas beban atau stres dengan cepat. Mereka pikir daripada mengeluarkan tenaga untuk keluar dan bertemu orang-orang, lebih baik mereka berinteraksi dari dunia maya. Mereka merasa sangat senang dengan cara seperti itu, tapi mereka tidak sadar ada bahaya yang mengancam dari kebiasaannya itu," ujar psikolog Jean Cirillo.



      Waktu sekarang Wed Dec 07, 2016 12:53 am