Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Hepatitis, Penyakit Mematikan Tanpa Gejala

    Share

    via

    851
    04.03.09

    Hepatitis, Penyakit Mematikan Tanpa Gejala

    Post  via on Fri Jul 29, 2011 1:28 am

    Hepatitis, Penyakit Mematikan Tanpa Gejala


    Waspada virus hepatitis. Ini merupakan penyebab timbulnya penyakit hati yang dapat menyerang siapa saja. Karenanya, lakukan pencegahan sejak dini. Penyakit ini membunuh lebih banyak orang dibandingkan penyakit menular lain.

    “Hepatitis merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Dan imunisasi hepatitis B yang diberikan pada bayi baru lahir merupakan awal upaya pengendalian hepatitis di Indonesia,” ujar Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih, dalam seminar Hari Hepatitis Sedunia, di Gedung Kementrian Kesehatan, Jakarta, Kamis, 28 Juli 2011.

    Virus hepatitis viral membunuh secara diam-diam, kata Dr Samalee Plianbangchang, Direktur Regional WHO untuk kawasan SEAR (Asia Tenggara: Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Myanmar, Nepal, Maladewa, Sri Lanka, Thailand dan Timor Leste).

    Artinya, orang yang terinfeksi tidak akan menunjukkan gejala kentara. Bahkan, tampak sehat selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya menunjukkan terjadinya komplikasi. “Penyakit ini menyerang penduduk usia produktif, menyebabkan beban ekonomi bagi keluarga dan akhirnya negara,” katanya.

    Ada empat jenis virus hepatitis yang paling banyak diderita, yaitu hepatitis A, B,C dan E. Di 11 negara kawasan SEAR, total kematian akibat empat virus ini lebih besar dari jumlah kematian akibat malaria, demam berdarah dengue, dan HIV/AIDS. Setiap tahun diperkirakan terjadi 8,98 juta kasus hepatitis, dengan 585 ribu di antaranya meninggal dunia.

    Dari jumlah tersebut, 400 ribu kasus dan 800 kematian disebabkan hepatitis A, 1.380.000 kasus dan 300 ribu kematian disebabkan hepatitis B, serta 500 ribu kasus dan 120 ribu kematian disebabkan hepatitis C. Sementara 6.500.000 kasus akibat hepatitis E dengan 160 ribu kematian dan 2.700 keguguran.

    Lingkungan yang tidak bersih, darah yang terinfeksi, dan hubungan seks tanpa pengaman adalah beberapa perantara penularan hepatitis. Sementara hepatitis A ditularkan melalui makanan dan minuman. Hepatitis B dan C melalui darah dan cairan tubuh lain.

    Di kawasan Asia Tenggara, hepatitis A dan E menjadi ancaman utama karena kebersihan diri dan lingkungan seperti mencuci tangan dengan air bersih cenderung tidak diperhatikan. Sementara hepatitis B dianggap 50-100 kali lebih mudah menular dibanding HIV. Diperkirakan 100 juta orang dengan hepatitis B kronis (5,6% dari populasi) dan 30 juta orang dengan hepatitis C kronis (1,6% dari populasi) tinggal di SEAR.

    Karena tidak menampakkan gejala, 60 persen orang yang terinfeksi hepatitis B dan C seringkali tidak menyadarinya hingga mereka menderita komplikasi seperti sirosis atau sejenis kanker hati bernama hepatocellular carcinoma (HCC). Jika sudah sampai pada tahap ini, kondisi pasien sudah tak dapat diobati.

    Untuk mencegah dan mengendalikan virus hepatitis, WHO mendorong negara-negara untuk menjadikan pengendalian hepatitis sebagai prioritas nasional. WHO mengimbau agar setiap negara melakukan peningkatkan cakupan vaksinasi hepatitis B bagi bayi hingga 95 persen, mengharuskan tes dan screening untuk produk darah (transfusi) serta memantau mutu tes hepatitis di laboratorium pemerintah dan swasta.

    “Banyak tenaga kesehatan kurang memperhatikan keamanan, dan tidak menjalankan pencegahan, penyaringan, pengobatan dan tindak lanjut lain bagi hepatitis B dan C sesuai panduan WHO atau pemerintahnya,” kata Samalee.



      Waktu sekarang Mon Dec 05, 2016 5:23 am