Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Jangan Panggil Anak dengan Sebutan yang Merendahkan

    Share

    flade

    936
    23.09.09

    Jangan Panggil Anak dengan Sebutan yang Merendahkan

    Post  flade on Thu Aug 04, 2011 12:21 pm

    Jangan Panggil Anak dengan Sebutan yang Merendahkan



    Setiap anak memiliki nama yang tentunya sudah dipilih secara baik oleh orangtuanya. Tapi terkadang ada orang yang masih suka memanggil anak dengan sebutan atau julukan yang merendahkan. Jangan lakukan hal tersebut bila tak ingin merusak mental anak.

    "Jangan panggil anak dengan panggilan yang merendahkan. Ketika anak merasa dihargai maka ia akan tumbuh (mental), tapi ketika anak merasa direndahkan lama-lama ia akan merasa jatuh kepercayaan dirinya," ujar Dra. Ratna Juwita, Dipl.Psych, staf pengajar di Fakultas Psikologi UI dalam acara Journalist Class 'Membangun Generasi Sehat dan Berbudaya' di FX Plaza.

    Menurut Ratna, ada beberapa faktor penting yang dapat menumbuhkan resiliensi (kemampuan beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit) anak, salah satunya dengan menanamkan pengalaman positif dalam pengasuhan, termasuk dengan tidak memanggil anak dengan panggilan yang merendahkan.

    "Ada faktor internal dan eksternal. Eksternal misalnya adanya tekanan dari luar sehingga si anak belajar untuk menyelesaikan masalah dan memiliki perlindungan," jelas Ratna.

    Tapi yang harus diingat adalah anak harus tumbuh secara alamiah dan belajar menghadapi tekanan atau tantangan dari dunia luar secara bertahap.

    "Banyak orangtua yang salah kaprah. Mereka pikir agar anak mampu menghadapi masalah sejak kecil, lalu dari TK anak sudah dimasukkan asrama. Ini memang membuat anak mandiri, tapi secara psikologis itu akan mengagetkan. Resiliensi itu akan terbentuk pada anak tapi sesuai dengan tahapan usianya. Kalau memasukkan anak ke asrama saat SMA tidak apa-apa," lanjut Ratna.

    Selain itu, yang harus diperhatikan orangtua agar anak dapat mengembangkan resiliensi dan dapat menyelesaikan masalah adalah anak setidaknya memiliki satu hubungan emosional yang stabil dan positif.

    "Membesarkan anak dengan baby sitter yang selalu berganti-ganti akan membuat anak tidak mudah percaya pada orang. Paling tidak ada satu orang tetap yang mengasuh anak Anda. Beruntung jika kakek neneknya mau mengasuh, tapi yang terbaik adalah ada satu ikatan emosional yang stabil dan positif dari orantuanya," jelas Ratna.



      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 7:18 am