Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Jangan Panggil Anak dengan Sebutan yang Merendahkan

    Share

    flade

    935
    23.09.09

    Jangan Panggil Anak dengan Sebutan yang Merendahkan

    Post  flade on Thu Aug 04, 2011 12:21 pm

    Jangan Panggil Anak dengan Sebutan yang Merendahkan



    Setiap anak memiliki nama yang tentunya sudah dipilih secara baik oleh orangtuanya. Tapi terkadang ada orang yang masih suka memanggil anak dengan sebutan atau julukan yang merendahkan. Jangan lakukan hal tersebut bila tak ingin merusak mental anak.

    "Jangan panggil anak dengan panggilan yang merendahkan. Ketika anak merasa dihargai maka ia akan tumbuh (mental), tapi ketika anak merasa direndahkan lama-lama ia akan merasa jatuh kepercayaan dirinya," ujar Dra. Ratna Juwita, Dipl.Psych, staf pengajar di Fakultas Psikologi UI dalam acara Journalist Class 'Membangun Generasi Sehat dan Berbudaya' di FX Plaza.

    Menurut Ratna, ada beberapa faktor penting yang dapat menumbuhkan resiliensi (kemampuan beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit) anak, salah satunya dengan menanamkan pengalaman positif dalam pengasuhan, termasuk dengan tidak memanggil anak dengan panggilan yang merendahkan.

    "Ada faktor internal dan eksternal. Eksternal misalnya adanya tekanan dari luar sehingga si anak belajar untuk menyelesaikan masalah dan memiliki perlindungan," jelas Ratna.

    Tapi yang harus diingat adalah anak harus tumbuh secara alamiah dan belajar menghadapi tekanan atau tantangan dari dunia luar secara bertahap.

    "Banyak orangtua yang salah kaprah. Mereka pikir agar anak mampu menghadapi masalah sejak kecil, lalu dari TK anak sudah dimasukkan asrama. Ini memang membuat anak mandiri, tapi secara psikologis itu akan mengagetkan. Resiliensi itu akan terbentuk pada anak tapi sesuai dengan tahapan usianya. Kalau memasukkan anak ke asrama saat SMA tidak apa-apa," lanjut Ratna.

    Selain itu, yang harus diperhatikan orangtua agar anak dapat mengembangkan resiliensi dan dapat menyelesaikan masalah adalah anak setidaknya memiliki satu hubungan emosional yang stabil dan positif.

    "Membesarkan anak dengan baby sitter yang selalu berganti-ganti akan membuat anak tidak mudah percaya pada orang. Paling tidak ada satu orang tetap yang mengasuh anak Anda. Beruntung jika kakek neneknya mau mengasuh, tapi yang terbaik adalah ada satu ikatan emosional yang stabil dan positif dari orantuanya," jelas Ratna.



      Waktu sekarang Tue Sep 27, 2016 3:50 am