Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Legenda Tanah Sunda - Mundinglaya Dikusumah
Sat Sep 24, 2016 8:35 am by La Rose

» Sejarah Khanduri Apam - Tradisi Aceh
Sun Sep 18, 2016 11:00 am by jakarta

» Setting SSID dan password wifi android
Sat Sep 17, 2016 2:50 pm by jakarta

» Ciptakan Keluarga Bahagia dengan Momen seperti Ini
Sat Sep 17, 2016 9:34 am by La Rose

» Negeri Sinterklas
Fri Sep 16, 2016 10:56 am by La Rose

» Cara Praktis Meniup Balon
Sat Sep 10, 2016 7:20 pm by flade

» Mengenal Endorse
Fri Sep 09, 2016 5:11 pm by zuko

» Lapland - Sebuah Desa Tanpa Ada Waktu Malam
Fri Sep 02, 2016 4:03 pm by alia

» Tak Ada Ambulans, Pria Ini Gendong Jasad Istri Sejauh 12 Km
Fri Aug 26, 2016 7:20 pm by derinda

IKLAN ANDA


    Hasrat, Komitmen dan Keberanian, Anda Memilikinya?

    Share

    mr.big

    18
    Lokasi : here-there-nowhere
    18.03.09

    Hasrat, Komitmen dan Keberanian, Anda Memilikinya?

    Post  mr.big on Thu Apr 30, 2009 5:24 am

    from -> http://renungan-indah.blogspot.com

    Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.

    Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.

    “Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

    Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

    “Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”

    Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.

    Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.

    “Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai
    penerima beasiswa.

    “Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik
    dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga
    dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.

    “Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk
    diterima itu tipis, mungkin nihil.”

    Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa
    Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang
    yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar
    bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

    Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat
    dari asosiasi beasiswa itu.

    “Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.

    Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang
    guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima
    ….

    “Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah
    diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi
    juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk
    percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.

    Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship,
    dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi
    Indonesianya telah diterbitkan.

    Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark
    Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih
    dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.

    Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad
    untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara
    yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”

    Anda memilikinya?

    56439

      Waktu sekarang Tue Sep 27, 2016 7:10 pm