Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Hormon Stres Meningkat Saat Otak Tak Diberi Makan

    Share

    flade

    936
    23.09.09

    Hormon Stres Meningkat Saat Otak Tak Diberi Makan

    Post  flade on Mon Aug 15, 2011 3:53 pm

    Hormon Stres Meningkat Saat Otak Tak Diberi Makan



    Asupan makanan sangat penting untuk membuat sistem saraf di otak tenang. Tidak adanya makanan membawa perubahan dramatis terhadap cara kerja sistem saraf yang akhirnya tubuh mengeluarkan hormon stres (kortisol) lebih banyak.

    Otak menghasilkan salah satu neurotransmitter (bahan kimia yang menyalurkan sinyal saraf dalam otak) bernama endocannabinoids yang berfungsi untuk mengontrol nafsu makan.

    Dalam sebuah studi, para peneliti menemukan bahwa ketika makanan tidak ada, otak meresponsnya sebagai stres dan menyebabkan penyaluran kembali sinyal di otak. Penyaluran kembali ini mengurangi kemampuan endocannabinoids mengatur asupan makanan dan malah memicu meningkatnya dorongan untuk makan ketika orang tersebut sedang makan.

    Peneliti Jaideep Bains PhD dan Quentin Pittman PhD, melihat secara khusus pada sel saraf di wilayah otak yang disebut hipotalamus. Struktur ini memiliki peran penting dalam pengendalian nafsu makan, metabolisme tubuh dan bertanggung jawab atas respons otak terhadap stres.

    "Temuan ini bisa membantu menjelaskan bagaimanakah komunikasi di otak ketika menghadapi situasi tidak ada makanan. Menariknya, perubahan ini belum tentu didorong oleh kurangnya nutrisi, melainkan oleh stres yang disebabkan karena tidak tersedianya makanan," kata Bains seperti dikutip ScienceDaily.

    Jika mekanisme serupa terjadi di otak manusia, temuan ini mungkin memiliki beberapa implikasi bagi kesehatan manusia. "Sebagai contoh, jika kita memilih untuk tidak makan, otak tampaknya akan meningkatkan dorongan yang mengarah pada peningkatan nafsu makan," jelas Pittman.

    "Selain itu, ada fakta bahwa kekurangan makanan menyebabkan aktifnya respons stres yang mungkin membantu menjelaskan hubungan antara stres dan obesitas," lanjut Bains.

    Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian berikutnya untuk menyelidiki penggunaan terapi yang mempengaruhi sistem saraf dalam memanipulasi asupan makanan. Juga dapat menjadi landasan penelitian untuk melihat apakah stres disebabkan oleh kekurangan makanan yang mempengaruhi sistem saraf.

    "Satu hal yang dapat kita katakan dengan pasti adalah bahwa penelitian ini menyoroti pentingnya ketersediaan makanan untuk sistem saraf kita. Tidak adanya makanan jelas membawa perubahan dramatis terhadap cara kerja sistem saraf," kata Pittman.

    Penelitian ini dilakukan di laboratorium Bains dan Pittman dan percobaan pada tikus dilakukan oleh Karen Crosby dan Wataru Inoue, Ph.D. Penelitian ini didukung oleh Canadian Institutes of Health Research (CIHR) dan Alberta Innovates- Health Solutions (AI-HS).

    Penemuan baru ini diterbitkan secara online dalam jurnal Neuron, sekaligus memberikan wawasan penting mengapa stres dianggap salah satu pemicu obesitas.



      Waktu sekarang Thu Dec 08, 2016 1:14 am