Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Khasiat Sereh Wangi
Yesterday at 5:37 pm by flade

» Pria Ini Menghasilkan 38 Juta Per Hari Sambil Jalan-jalan Keliling Dunia!
Fri Jan 20, 2017 11:19 am by jakarta

» 'Game Mode' di Windows 10 Bisa Bikin PC Ngebut
Mon Jan 16, 2017 1:24 pm by via

» 10 Rumus Kehidupan Ini Akan Buatmu Lebih Bijaksana dan Bahagia
Mon Jan 16, 2017 1:18 pm by via

» Korowai Tribe
Tue Jan 10, 2017 1:25 pm by via

» Cinta "Terlarang" Bung Karno dan Penari Istana
Tue Jan 10, 2017 1:02 pm by via

» 7 Rahasia Wanita yang Tidak Akan Diceritakan ke Pasangannya
Tue Jan 10, 2017 12:44 pm by via

» Ini Shampo Untuk Mengatasi Kulit Kepala Gatal
Tue Jan 10, 2017 12:30 pm by lanang

» Sejarah Koteka
Tue Jan 10, 2017 12:23 pm by lanang

IKLAN ANDA


    Hormon Stres Meningkat Saat Otak Tak Diberi Makan

    Share

    flade

    939
    23.09.09

    Hormon Stres Meningkat Saat Otak Tak Diberi Makan

    Post  flade on Mon Aug 15, 2011 3:53 pm

    Hormon Stres Meningkat Saat Otak Tak Diberi Makan



    Asupan makanan sangat penting untuk membuat sistem saraf di otak tenang. Tidak adanya makanan membawa perubahan dramatis terhadap cara kerja sistem saraf yang akhirnya tubuh mengeluarkan hormon stres (kortisol) lebih banyak.

    Otak menghasilkan salah satu neurotransmitter (bahan kimia yang menyalurkan sinyal saraf dalam otak) bernama endocannabinoids yang berfungsi untuk mengontrol nafsu makan.

    Dalam sebuah studi, para peneliti menemukan bahwa ketika makanan tidak ada, otak meresponsnya sebagai stres dan menyebabkan penyaluran kembali sinyal di otak. Penyaluran kembali ini mengurangi kemampuan endocannabinoids mengatur asupan makanan dan malah memicu meningkatnya dorongan untuk makan ketika orang tersebut sedang makan.

    Peneliti Jaideep Bains PhD dan Quentin Pittman PhD, melihat secara khusus pada sel saraf di wilayah otak yang disebut hipotalamus. Struktur ini memiliki peran penting dalam pengendalian nafsu makan, metabolisme tubuh dan bertanggung jawab atas respons otak terhadap stres.

    "Temuan ini bisa membantu menjelaskan bagaimanakah komunikasi di otak ketika menghadapi situasi tidak ada makanan. Menariknya, perubahan ini belum tentu didorong oleh kurangnya nutrisi, melainkan oleh stres yang disebabkan karena tidak tersedianya makanan," kata Bains seperti dikutip ScienceDaily.

    Jika mekanisme serupa terjadi di otak manusia, temuan ini mungkin memiliki beberapa implikasi bagi kesehatan manusia. "Sebagai contoh, jika kita memilih untuk tidak makan, otak tampaknya akan meningkatkan dorongan yang mengarah pada peningkatan nafsu makan," jelas Pittman.

    "Selain itu, ada fakta bahwa kekurangan makanan menyebabkan aktifnya respons stres yang mungkin membantu menjelaskan hubungan antara stres dan obesitas," lanjut Bains.

    Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penelitian berikutnya untuk menyelidiki penggunaan terapi yang mempengaruhi sistem saraf dalam memanipulasi asupan makanan. Juga dapat menjadi landasan penelitian untuk melihat apakah stres disebabkan oleh kekurangan makanan yang mempengaruhi sistem saraf.

    "Satu hal yang dapat kita katakan dengan pasti adalah bahwa penelitian ini menyoroti pentingnya ketersediaan makanan untuk sistem saraf kita. Tidak adanya makanan jelas membawa perubahan dramatis terhadap cara kerja sistem saraf," kata Pittman.

    Penelitian ini dilakukan di laboratorium Bains dan Pittman dan percobaan pada tikus dilakukan oleh Karen Crosby dan Wataru Inoue, Ph.D. Penelitian ini didukung oleh Canadian Institutes of Health Research (CIHR) dan Alberta Innovates- Health Solutions (AI-HS).

    Penemuan baru ini diterbitkan secara online dalam jurnal Neuron, sekaligus memberikan wawasan penting mengapa stres dianggap salah satu pemicu obesitas.



      Waktu sekarang Wed Jan 25, 2017 8:22 am