Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Berdamai Dengan Masa Lalu

    Share

    La Rose

    75
    16.08.11

    Berdamai Dengan Masa Lalu

    Post  La Rose on Tue Aug 16, 2011 2:03 pm

    Berdamai Dengan Masa Lalu


    Saya yakin semua orang berusaha menghindari kegagalan atas pernikahan. Tetapi saat hal itu terjadi, maka dapat membuat anak kita menjadi trauma atas suatu pernikahan. [seperti dikisahkan Lim]

    Nenek saya pernah mengatakan kesalahan wanita memilih pria dalam menikah dapat menghancurkan masa depannya. Sedangkan kesalahan pria memilih wanita dalam menikah bisa menghancurkan kariernya.

    Saat itu saya belum mengerti ucapan nenek saya, maklum saya baru berumur 10 tahun. Hingga satu hari, saya menemukan satu akte kawin ayah saya dengan wanita lain di tas ayah.

    Walau pada akte kawin tersebut tidak terdapat nama ayah, tetapi firasat saya mengatakan kalau akte kawin tersebut milik ayah saya. Saat saya tanyakan ke ayah, dia mengelak. Saya hanya menasehati ayah agar tidak melakukan perbuatan yang kelak akan disesalkan.

    Seminggu kemudian, adik kedua saya lahir. Tetapi saya tidak menemukan ayah menemani ibu saya, hingga ibu pulang ke rumah. Lalu satu hari ibu saya memutuskan untuk pindah rumah di samping nenek. Kami harus merelakan rumah kami yang besar ditempati orang lain, sedangkan kami pindah ke rumah tua.

    Sebulan kemudian, ayah saya menangis di rumah nenek. Saya mulai mengerti jika ayah memilih wanita lain daripada kami. Ayah saya mengatakan kalau ia merasa berat sekali melangkahkan kakinya ke rumah kami.

    Sejak itu saya tidak pernah melihat ayah saya. Itu membuat saya sangat sedih. Semua teman memiliki ayah, sedangkan saya harus berdamai dengan kejadian yang dilakukan orangtua saya.

    Walau saya berumur 10 tahun, saya harus tegar di hadapan ibu. Hari demi hari kami lalui tanpa sosok ayah. Tidak ada seorangpun mengetahui jika saya tidak memiliki ayah. Saya masuk peringkat tiga besar di sekolah, bahkan saya diterima di perguruan tinggi dengan nilai cemerlang.

    Rupanya Tuhan mengasihi saya. Saya diterima bekerja di suatu perusahaan dimana saya bisa bekerja sambil kuliah sore. Saya bertekad untuk menunjukkan kepada ayah jika wanita sama berharga dengan pria.

    Akhirnya saya bisa lulus dengan nilai yang baik dan diterima di perusahaan asing. Perlakuan saudara dari pihak ayah dan saudara ibu mulai baik. Semula yang melecehkan kami menjadi perhatian terhadap kami.


    Walau saya sudah berumur 28 tahun, tetapi saat itu saya belum menemukan seseorang yang bisa menghilangkan rasa trauma terhadap pernikahan. Ada perasaan tidak percaya meliputi diri, membuat saya menghindari pernikahan. Hingga tiba datangnya seorang laki-laki yang berjuang mempertahankan saya. Saya berusaha memutuskan hubungan, tetapi laki-laki tersebut menyakinkan saya bahwa ia tidak seperti ayah saya.

    Akhirnya saya memutuskan untuk menikah dengan laki-laki tersebut. Saya harus mengakui, laki-laki tersebut memang baik, hanya orangtua dan saudara orangtuanya selalu mengusik kami setelah setahun kemudian.

    Di tahun pernikahan yang keempat, kami memutuskan membeli rumah tanpa sepengetahuan orangtua. Bukannya kami tega melakukan hal tersebut, namun kami pernah meminta pendapat orangtua untuk membeli rumah di sebelah rumah orangtua. Bukannya orangtua suami senang, namun semua saudara ibu mertua menasehati kami untuk tinggal bersama orangtua suami. Bagaimana saya bisa hidup dalam lingkungan saling mencela?

    Di tahun pernikahan yang kelima, kami pindah dari rumah orang tua suami tanpa sepengetahuan mereka. Esok harinya, kami mengabari orangtua bahwa kami harus mengambil semua barang kami dari rumah orangtua.

    Saya melihat orangtuanya sedih. Tetapi saya berpikir mungkin kami harus tinggal terpisah sejak awal daripada saling menyakiti setelah bertahun-tahun tinggal bersama. Sejak itu saya benar-benar merasakan hidup rumah tangga seperti impian saya dimana suami istri saling bantu dalam pekerjaan rumah.



      Waktu sekarang Sat Dec 03, 2016 5:15 am