Forum Gaul dan Informasi

INFO UNTUK ANDA

Y3hoo Ada di Facebook

Share Y3hoo ke Twitter

Follow Me

Image hosted by servimg.com

Y3hoo Mailing List

Enter Your Email Address:

Latest topics

» Transfer Pulsa Indosat Ooredoo
Thu Nov 17, 2016 9:04 am by alia

» Uztadz dan Kuntilanak
Mon Nov 07, 2016 12:46 pm by bocahnakal

» Jika Kamu Tua
Fri Nov 04, 2016 6:39 pm by alia

» Suku Dayak: Keindahan Tato, Ketajaman Mandau, dan Kecantikan Wanita
Fri Nov 04, 2016 11:45 am by alia

» Menyesapi Filosofi Batik Nusantara
Mon Oct 31, 2016 2:13 pm by jakarta

» Hindari 6 Kebiasaan Buruk Mengelola Keuangan di Usia Muda
Mon Oct 31, 2016 9:40 am by jakarta

» Video 100 Persen Pasti Ngakak
Sat Oct 29, 2016 5:50 pm by bocahnakal

» Tak Ada Duanya di Dunia, Merica Batak yang Pedas Beraroma Lemon
Thu Oct 27, 2016 3:27 pm by La Rose

» Di balik keUnikan Ir.Soekarno
Thu Oct 27, 2016 9:16 am by jakarta

IKLAN ANDA


    Poligami? Ya...Tidak!!

    Share

    meilani

    97
    18.08.11

    Poligami? Ya...Tidak!!

    Post  meilani on Thu Aug 18, 2011 2:06 pm

    Poligami? Ya...Tidak!!


    Poligami adalah isu sensitif bagi perempuan. Mau menerima atau tidak, bebas-bebas saja. Ii bisa jadi ajang ibadah, ambil manfaat dalam persoalan atau kampanye kesetaraan jender. It’s up to you!

    Seorang pria bule Australia kelahiran sebuah negara di Eropa Timur bertanya kepadaku. “Is it true that Indonesian muslim male can have four wives?” Dengan serta merta kujawab, “Yupe!” Lantas, dia berkomentar, “Wow, they’re must be very rich”. Aku pun mengerutkan kening, “Rich?” Seingatku, para pria muslim di perkampungan nelayan di pantai utara Jawa yang rumahnya mirip gubuk bisa mempunyai istri lebih dari satu.

    Lantas aku berpikir, ini pasti ada kaitannya dengan sebagian pernyataan orang yang mengatakan perceraian di negara-negara barat bisa membuat laki-laki bangkrut. Oke, jadi menurut pria bule ini kalau pria muslim Indonesia yag berpoligami kaya arena kalau sampai bercerai, bangkrutnya bisa sampai empat turunan. Ini urusan materi dalam poligami. That’s make sense!

    Jika pria bule itu melihat poligami dari sisi materi, lain pula dengan komentar seorang pelajar di sebuah perguruan tingg terkemuka di Canberra. Ia mengatakan kalau poligami itu sunah Rasul, bahkan untuk menjalaninya tidak perlu ijin istri pertama. WHAT! Aku cukup terhenyak. Bukan karena pernyataan itu semata-mata tidak orisinil, tidak sama sekali. Aku sudah sering mendengar tentang hal itu. Tapi cukup aneh kalau mendengar dari seorang pelajar yang tengah menuntut ilmu di Australia.

    Pasalnya, situasi sangat mendukung pendapat seperti itu. Bayangkan saja, seorang bapak menuntut ilmu tanpa ditemani istri dan anak-anaknya di negara barat yang liberal. Lalu, jika dia bertemu perempuan muslim yang berpendapat sama. Bagaimana nasib istri dan anak-anaknya di Indonesia, ya? Ini nuansa lain dari poligami, yaitu persoalan ibadah.

    Lain lagi dengan pendapat pria Indonesia lulusan sebuah perguruan tinggi Islam terkemuka. Dia jelas-jelas menentang poligami Karia, dia menganggap sulit untuk bisa berbuat adil pada setiap istri. Alasan keterbatasan diri ini membentuk pendapat bahwa poligami tidak harus dilakukan, walaupun tetap diperbolehkan. Pendapat seperti ini sangat mendukung perempuan terhindar dari berbai efek sampaing poligami. Karena ini berarti poligami hanya akan dilakukan dengan praktek-praktek yang benar. Keadilan menjadi salah satu indikator penting dalam poligami.

    “Lantas, bagaimana pendapatmu tentang poligami?” pria itu bertanya kepadaku. Aku? Pendapatku? Gimana, ya? Menurutku, poligami itu diperbolehkan dan ketentuannya jelas tertulis dalam agama Islam. Jadi, sebagai perempuan muslim, aku tidak bisa menentangnya. Buatku, yang terpenting sekarang ini adalah meghindarinya. Kalau memang dihadapkan pada persoalan ini, ya, harus diselesaikan.

    Aku memang memandang poligami sebagai sebuah persoalan, suatu resiko. Penggunaan kata persoalan dan resiko jelas menunjukkan pernyataan negatif dari poligami. Karena, memang sulit untuk menemukan unsur positif poligami dari sisi perempuan. Perempuan yang dimadu tentunya akan merasa keterbelahan cinta, kasih sayang, perhatian, dan eksistensi suami.

    Urusan materi mungkin bisa dihitung dan dikalkulasi menggunakan model-model ekonomi canggih. Tapi urusan rasa, walaupun bisa dihitung, tetapi tidak akan terefleksikan dengan baik dalam sebuah metode penelitian. Hanya keikhlasan dan ibadah yang menjadi elemen positif dari poligami bagi perempuan. Walaupun tidak bisa diartikan bahwa perempuan yang menerima poligami punya tingkatan ibadah yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang menolaknya. Pada banyak kasus, perempuan menentang poligami menganggap penerimaan perempuan untuk dimadu sebagai sebuah kekonyolan karena banyak jalan untuk mendapatkan ridho ilahi.

    Lantas bagaimana jika poligami sudah tidak terelakkan? Tidak terelakkan artinya suami suami sudah kadung menikah tanpa sepengetahuan kita. Langkah ini jelas-jelas salah. Karena dalam konsep keluarga, semua tindakan yang akan memengaruhi keluarga harus diputuskan melalui kesepakatan bersama. Tinggal para istri bersikap, apakah kesalahan ini bisa dimaafkan atau tidak, diterima atau tidak. Kalau memang sudah tidak bisa dimaafkan, keluargapun tidak bisa dilanjutkan. Mau bagaimana lagi, bercerai mungkin pilihan yang tepat walaupun tidak disukai dalam agama.

    Tapi boleh jadi perempuan bisa memaafkan kesalahan seperti ini. Lantas, tugas selanjutnya adalah bagaimana dengan kelanjutan keluarga yang berpoligami? Pemberian maaf adalah urusan hati, sama seprti halnya ketika suami mendua, maka terjadi keterbelahan hati dan rasa.

    Jadi wajar rasanya jika pemberian maaf perempuan atas poligami juga disertai pengurangan hati dan rasa pada suami. Jadi bisa dikatakan begini, “bolehlah suami berpoligami tapi suami juga tidak bisa lagi memiliki hati dan rasa seorang istri seutuhnya”. Lantas kemana bagian lain dari hati dan rasa perempuan ini pergi? Itu sepenuhnya urusan perempuan. Karena rasa dan hati, termasuk maaf dan ikhlas adalah hal yang abstrak. Namun yang pasti, perempuan tidak akan melakukan hal yang sama, mendua seperti halnya suami berpoligami. Karena perempuan muslim tidak mengenal poliandri, perempuan menikah dengan lebih dari satu laki-laki.

    Jika kesetaraan dari sisi kesamaan kuantitas dan tindakan tidak bisa dilakukan, maka perempuan bisa melihat poligami dari sisi lain. Misalnya bisa dimulai dari pertanyaan, apa sih yang bisa seorang istri dapatkan dengan suami yang berpoligami? Jika perempuan tidak bisa menuntut hak yang sama (poliandri), maka perempuan bisa menuntut pengurangan kewajiban. Misalnya, apakah dengan berpoligami maka istri bisa mengurangi kewajibannya dalam urusan internal rumah tangga (mengurus anak dan suami) sehingga bisa beraktivitas di luar rumah dengan lebih leluasa? Tentunya untuk aktivitas bertujuan positif yang sama-sama dilakukan di jalan Allah.

    Cobalah untuk mencari keuntungan dibalik ‘persoalan’ dari sebuah poligai. Tentunya ini harus melupakan faktor rasa dan hati karena kalau sudah itu yang diutamakan, niscaya sulit untuk menjalani poligami. Tapi semuanya tergantung sang istri, apakah poligami ini akan dijadikan ajang beribadah, mengambil keuntungan dalam persoalan, atau kampanye kesetaraan jender. It’s up to you! You are the only one who knows the best for your life





      Waktu sekarang Fri Dec 09, 2016 8:28 pm